
Ikram terbata saat sang kakek terus bertanya perihal sang istri, padahal pernikahan itu tak pernah terjadi.
"Iya, Kek. Dia ...."
Namun, saat ucapan Ikram belum selesai, tiba-tiba Manda datang dengan memanggilnya. "Ikram! Akhirnya kau pulang, Nak. Ayo ikut Mami ke rumah sakit, Sayang!" Wanita itu langsung berlari ke arah sang putra dan menarik lengan pria jangkung itu.
Fathan tentu saja tak terima saat pembicaraannya dipotong begitu saja oleh menantunya. "Apa yang kamu lakukan, Manda?" bentak Fathan.
"Maaf, Ayah, Mas Hanan ingin bertemu dengan Ikram, saat ini suamiku benar-benar tak terkendali, hanya Ikram yang bisa menenangkannya." Manda menjelaskan dengan terburu-buru.
"Aku sedang bertanya di mana istri Ikram?" Fathan mengeram kesal ke arah menantunya.
"Nanti akan Manda jelaskan semuanya, Ayah. Saat ini Mas Hanan lebih membutuhkan dia," mohon Manda pada ayah mertuanya.
"Baiklah, setelah dari sana jangan lupa acara makan siang kita, apapun alasannya kalian harus tetap hadir." Pria tua itu menyudahi perdebatannya dan membiarkan cucu dan menantunya kembali ke rumah sakit.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Manda tak melapaskan genggaman tangannya pada Ikram. Wanita itu tak ingin putra bungsunya kembli prgi tanpa kabar. Setelah apa yang dia lakukan, tetap saja rasa sayang Manda begitu besar untuk putranya.
Tak berselang lama, Ikram sampai di rumah sakit, mereka berjalan cepat menuju kamar Hanan. Terengar samar teriakan menyebut nama Ikram. Ternyata Hanan kembali histeri dan menyebut nama putranya, dua orang perawat pria sedang membantu menenangkan pasien.
Manda membuka pintu kamar rawat suaminya, lalu dengan segera berlari ke arah suaminya.
"Mana Ikram!" teriak Hanan.
"Aku di sini, Papi," jawab Ikram tenang sambil mendekat ke arah sang papi. Pria dengan pakaian pasien itu menoleh ke arah sumber suara. Matanya menatap sayu pria yang sangat mirip dengannya saat masih muda dulu.
Hananberangur tenang dan terus menatap ke arah Ikram yang kini sedang menggenggam tangannya. "Tolong jangan lakukan ini sama Papi, Nak," lirihnya sambil mulai terisak.
Manda menatap sendu pada kedua pria kesayangannya. Wanita itu mendekat dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Papi tahu, Papi nggak bisa menolak keinginan kakek, tapi tolong jangan lakukan ini sama papi." Pria paruh baya itu kembali berucaplrih sambil memegang bahu putranya.
"Ikram minta maaf, Pi. Tapi ... Ikram tak mencintainya," jawab ikram apa adanya.
Manda hanya mengusap punggung suaminya sambil sesekali mngusap pipinya yang basah. Tak berselang lama, Hanan pun tiba-tiba menutup matanya dan terkulai lemas di ranjangnya.
"Papi!" pekik Ikram dan Manda berbarengan.
Ikram pun kemudian menekan tombol yang ada di samping ranjang untuk memanggil dokter. Pria itu tentu saja sangat klhawatir dengan keadaan papinya.
##
Sementara itu, Ehsan dan Ayudia baru sja ke rumah sakit, mereka akan menemui Hanan. Keduanya berjalan cepat menuju kamar Hanan, saat seorang dokter dan dua orang perawat berlari menuju sebuah kamar.
"Aku tuh malas ke rumah sakit, kaya gini selalu bikin panik, Mas," ucap Ayudia yang menggandeng lengan suaminya dengan erat. Ehsan hanya tersenyum dan mengusap kepala istrinya lembut. "Tidak apa-apa."
Sampai akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar rawat Hanan, tetapi seorang prawat menegahnya karena, pasien sedang menjalani pemeriksaan. Akhirnya Ehsan dan sang istri pun menunggu di ruang tunggu. Keduanya duduk berdampingan.
Terlihat pria berbaju rumah sakit itu, terlelap di ranjangnya, sementara sang istri duduk di kursi dekat ranjang.
"Mbak Manda?" sapa Ayudia.
Manda menoleh dan langsung berdiri saat ada orang lain di sana. "Eh, Mbak Ayu. Mas Ehsan. Maaf, aku nggak denger tadi," ucap Manda salah tingkah.
"Nggak apa-apa, Mbak. Bagimana keadaan Hanan?" tanya Ehsan sambil mentap nanar pria yang edang berbaring di ranjangnya.
"Mas Hanan kembali tak sadarkan diri, Mas ...." lirih Manda tersekat di tenggorokan karena menahan tangisnya.
"Saat kemarin sadar, Mas Hanan langsung histeris dan memanggil Ikram, tapi ...." Kini wanita itu terisak dan tak mampu melanjtkan ucapannya.
__ADS_1
Ayudia pun mendekap tubuh ringkih Manda untuk menguatkan wanita itu. Sementara Ehsan hanya bisa menghela nafas saat tahu bahwa sahabatnya itu kembli tak sadarkan diri, ia takut Hanan akan kembal koma.
"Apakah Ikram belum juga ditemukan, Mbak?" tanya Ehsan akhirnya. Pria itu ta habis pikr dengan mantan calon menantunya itu, orang tuanya kecelakaan dan koma tetapi tak kunjung datang.
Manda terdiam, ia khhawatr jika memberitahukan bahwa Ikram baru saja dari sini, ia takut Ikram akan mendapat masalah. Namun, jika berbohong pun, ia takut Ikram akan kembal ke sini dan bertemu dengan Ehsan.
"Sudahlah, Mas. Mungkin Ikram juga belum kembali sama seperti putri kita," sela Ayudia.
Ehsan pun akhirnya diam dan tak bertanya lagi soal Ikram. Pria itu juga kembali teringat putrinya yang belum juga ketemu sampai hari ini. Sudah hampir dua bulan, Vanya menghilang tanpa jejak.
Setelah Manda merasa tenang, dan bisa diajak berbicara kembali. Ehsan pun memutuskan untuk pamit. Pria itu beralasan akan mencari kembali putrinya. "Maaf, Mbak. Kami harus segera kembali, semoga Hanan lekas sembuh, Mbak yang sabar ya," ucap Ehsan.
Manda pun mengangguk dan berterima kasih. Namun,wanita itu sepertinya lupa mengingatkan undangan makan siang dari Fathan untuk mereka. Sehingga Ehsan dan Ayudia pun pergi begitu saja.
Saat di perjalanan Ehsan dan Ayudia saling terdiam, sampai akhirnya Ayudia berucap, "Oh iya, Mas bukannya kita diundang makan siang oleh Pak Fathan?"
"Ah, aku masih malas bertemu dengan mereka, Sayang. Apalagi beliau belum tahu tentang semuanya, bagaimana jika pria tua itu kembali masuk rumah sakit saat kita tak sengaja membicarakan kegagalan itu?" Ehsan bersandar pada kursi jok mobil sambil menutup matanya.
"Ah, iya juga, lebih baik kita fous mencari Vanya, Mas. Aku sangat merindukannya. Katanya Vanya ada di daerah Bandung ya?"
"Hm." Ehsan hanya menjawab dengan gumaman saja. Mereka pun melajukan mobilnya ke arah Bandung.
##
Di Kediaman Pradana
fathan sudah menunggu kedatangan keluarganya. Pria ta itu terlihat bahagia karena sudah kembali ke rumahnya. Walaupun hati kecilnya masih merasa belum tenang karena putranya masih terbaring di rumah sakit.
Acara akan segera dimulai, Ikram juga sudah kembali berada di sana tentu saja tanpa Vanya ataupun Olive. Pria itu bersikap biasa saja seolah semua hal itu terjadi bukan karena dirinya.
__ADS_1
Tania bahakan dengan gemas mencubit lengan adiknya. Namun, tanpa sepengetahuan sang kakek tentunya, karena pria tua itu tak mau jauh dari Ikram.