
Vanya menatap sinis ke arah Ikram yang saat ini berada di hadapannya. Permintaan pria itu untuk memperbaiki hubungan mereka adalah hal yang tak diinginkan oleh Vanya.
"Udah selesai kan makannya? Silakan pintu keluar sebelah sana!" Vanya menunjuk ke arah samping.
Ikram menghela nafasnya saat mendengar pengusiran gadis di depannya. "Aku baru saja selesai makan masih kenyang, masa langsung pergi?"
Vanya tak menanggapi ucapan pria di hadapannya, gadis yang sudah menggerai rambutnya itu beranjak dari duduknya. Lalu pergi meninggalkan Ikram begitu saja.
Apa-apaan mau deketin gue, tiap ketemu gue direcokin melulu.
Kali ini Vanya sudah berada di dalam kamarnya, gadis itu berniat untuk membersihkan dirinya sebentar lagi. Namun, sebuah ketukan terdengar di pintu kamarnya.
"Siapa?" tanyanya sambil berjalan ke arah pintu dengan tangan yang sibuk mengikat rambutnya kembali.
Saat membuka pintu, terlihat pria dengan kancing kemeja atasnya yang terbuka dan jasnya ia sampirkan di lengan kiri.
Vanya sempat terpana melihat pria di depannya yang entah mengapa berantakan seperti itu malah terlihat lebih tampan.
"Belum pulang juga?" Vanya akhirnya bersikap biasa lagi saat sadar Ikram memanggil namanya.
"Bagaimana tawaran aku tadi? Aku serius, Vanya?"
"Tawaran yang mana?" Vanya mendadak lupa dengan pertanyaan pria tampan di depannya.
Ikram menghela nafas pelan. "Kamu mau kan kembali jadi istri aku?"
"Hah?"
"Aku serius, Yuki."
Vanya tertegun sebentar lalu gadis itu menarik handle pintu untuk kembali menutup benda itu. "Lebih baik pulang aja deh, Masnya."
__ADS_1
Namun, saat Vanya hendak menutup pintu kamarnya, Ikram menahan benda itu dengan tangan. "Tunggu sebentar."
"Apa lagi?"
Pintu pun kembali terbuka. Vanya melipat kedua tangannya. Gadis itu menunggu apa yang akan diucapkan oleh Ikram. Pria itu melangkah maju yang otomatis membuat Vanya terpundur. Namun, saat Ikram terus masuk, Vanya pun merentangkan kedua tangannya, lalu mendorong tubuh tinggi pria itu agar kembali keluar. "Ngapain sih? Nggak usah masuk kamar aku."
Ikram pun pasrah saat gadis itu mendorongnya. Lalu pria tinggi itu menghela nafasnya sejenak sebelum mengeluarkan suaranya. "Aku serius dengan tawaran itu, Vanya. Aku harap kamu mau mempertimbangkannya." Pria itu kemudian pamit undur diri tanpa menunggu jawaban dari Vanya.
Setelah Ikram pergi dari rumahnya. Vanya pun mulai membersihkan dirinya sambil berendam di bathtub. "Kamu pikir aku akan melupakan semua yang telah kamu lakukan, Ikram? Heh jangan mimpi!" Vanya membasuh wajahnya dengan air, tak lama kemudian ia pun beranjak dan meraih handuk untuk membalut tubuhnya.
Vanya keluar dari kamar mandi menuju meja riasnya. Gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin yang terlihat lebih segar. Ia juga memperhatikan wajahnya yang polos tanpa make up. "Kamu itu ternyata cantik, Vanya. Masa nggak bisa punya pacar sih?" Gadis itu berbicara pada pantulan dirinya di cermin.
Setelah terdiam sesaat, gadis berbalut handuk itu pun menuju lemarinya untuk mengambil baju. Hari ini ia akan diam di rumah saja, besok baru kembali ke rumah sakit. Vanya pun sudah menggunakan setelan rumah. Gadis itu kini mengambil ponsel pemberian Mak Aminah. Ia menghubungi wanita paruh baya itu untuk mengabari bahwa dirinya sudah sampai.
Namun, saat asyik berbalas pesan dengan Mak Aminah, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari seseorang dengan nama 'Ikan Piranha'. "Ish, ganggu banget sih!"
Vanya pun menolak panggilan itu, lalu kembali memberi pesan pada Mak Aminah juga Nisa, tetapi sepertinya Ikram tak berputus asa, ia pun memberi pesan pada Vanya.
Vanya pun hanya melihat pesan itu, lalu membiarkannya begitu saja. Gadis itu akhirnya asyik berselancar di sosial medianya untuk berpromosi tentang desainnya.
Siang pun sudah berganti dengan malam. Langit berubah hitam, walaupun gelap tetapi suasana tetap terang dengan gemerlap lampu jalanan dan juga rumah-rumah warga.
Vanya masih asyik di kamarnya. Gadis itu memang termasuk anak rumahan, jadi lebih nyaman tinggal di rumahnya apalagi kamarnya. Ia hanya sesekali pergi bersama teman-temannya. Namun, sepertinya kali ini semua temannya sudah lupa pada dirinya. Bahkan saat Vanya menghilang pun tak ada yang berniat mencarinya.
Vanya pun kini tahu mana teman yang benar-benar tulus dan tidak. Ternyata ketulusan akan didapatkan saat kita tidak memiliki apa-apa. Kini Vanya lebih menyayangi dirinya sendiri, sehingga ia lupa untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.
Apalagi Ikram telah merusak semuanya, menghancurkan kepercayaannya. Namun, kini identitasnya sudah terbongkar dan pria itu berharap dirinya untuk kembali. Tidak semudah itu Sergio.
Sekitar pukul 20.00 sang asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar Vanya. Wanita paruh baya itu mengingatkan Vanya untuk segera makan malam. "Iya, Bi. Sebentar lagi Vanya turun." Gadis itu menjawab setengah berteriak tanpa turun dari ranjangnya.
"Neng Vanya!" panggil asisten rumah tangga itu kembali.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Bi."
"A-ada tamu di bawah, Neng."
Vanya pun menghentikan aktifitasnya, lalu turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya. Ternyata bukan hanya sang asisten rumah tangga yang ada di depan kamarnya, ada orang lain yang saat ini tersenyum padanya. Pria yang sedari siang membuatnya bad mood.
"Malam, Yuki eh Vanya," sapa pria itu.
Vanya tak menjawab sapaan pria yang tak lain adalah Ikram itu. Gadis itu bahkan langsung menutup pintu kamarnya dengan agak keras. "Vanya lagi nggak mau diganggu, Bi," teriak Vanya di balik pintu kamarnya.
Wanita paruh baya itu melirik ke arah Ikram. "Aduh, maaf ya Bibi nggak bisa bantu."
"Nggak apa-apa, Bi. Titip ini untuk Vanya ya." Ikram menyodorkan paper bag di tangannya.
"Kalau gitu saya pulang dulu." Pria bertubuh jangkung itu pun pamit undur diri setelah mendapat anggukkan dari Bi Sumi.
Setelah Ikram benar-benar pergi, kini Bi Sumi kembali mengetuk pintu kamar nona-nya. "Neng, Den Ikram-nya udah pulang," ucapnya sambil terus mengetuk pintu bercat putih itu.
Tak berselang lama pintu pun terbuka dan Vanya berdiri di sana. "Bi, lain kali kalau dia datang jangan ajak naik ke sini, ngapain coba? Kalau bisa bilang aja Vanya nggak di rumah," ucap gadis itu dengan sedikit mengerutkan keningnya.
"Iya, Neng, maaf abisnya dianya kekeh malah bilang ke bibi kalau dia calon suami Neng Vanya," papar wanita berbaju hitam putih itu.
"Astaghfirullah, masa sih, Bi?" Vanya terkejut, dan anggukkan dari wanita itu membuat Vanya percaya.
"Oh, iya ini titipan dari Den Ikram, Neng." Bi Sumi menyodorkan paper bag di tangan kanannya.
"Buat Bibi aja, Vanya nggak mau." Gadis itu tak menerima barang pemberian Ikram. "Vanya lapar, kita makan mie instan yuk, Bi!" ajak gadis itu lalu keluar dari kamarnya.
"Vanya udah bisa nyalain kompor lo, Bi." Gadis itu menuruni tangga sambil bercerita pada asisten rumah tangganya.
"Vanya."
__ADS_1