Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Bertengkar


__ADS_3

Mak Aminah melerai pertengkaran antara Yuki dan pelanggannya. Kemudian menarik lengan putrinya. "Teu kenging kitu, Neng. Nggak boleh ya pembeli teh adalah raja," ucap Mak Aminah sambil menasihati Yuki yang saat ini masih menekuk wajahnya.


Yuki memang membenci pria yang saat ini sedang duduk membelakanginya, bagaimana tidak, dialah yang telah membuat hidupnya hancur berantakan, kalau tidak bertemu dengan Mak Aminah. Sumpah gue benci banget sama lo Ikram, gue benci!


Mak Aminah mulai mengambilkan nasi untuk pelanggan pertamanya. Namun, saat Yuki memberikan nasi beserta sup iganya, tiba-tiba pria itu dengan enteng menolak bahwa dirinya tidak terbiasa sarapan nasi.


"Tuh, kan apa gue bilang, coba ngambil sendiri kan sesuai selera," omel Yuki sambil mengambil kembali piring nasinya.


Ikram menatap tajam ke arah Yuki, lalu mengambil sup iga yang tercium sangat wangi. "Saya makan sup ini saja." Pria itu pun mulai menyuapkan kuahnya yang sudah ia tiup terlebih dahulu dari sendoknya.


"Selamat menikmati dan ditunggu surat cintanya," ucap Yuki dengan senyuman di wajahnya.


"Maaf saya sudah punya kekasih," jawab Ikram sambil terus meniup kuah supnya.


"Haish, siapa pula yang nanya." Yuki memutar bola matanya jengah.


"Kamu jangan coba-coba merayu saya, saya nggak akan pernah tergoda," lanjut Ikram saat Yuki baru saja membalikkan tubuhnya.


"Astagfirullah siapa yang merayu sih?"


"Itu tadi katanya mau ngasih surat cinta," ucap Ikram begitu menyebalkan.


"Ampun dah, sebentar ya." Yuki kemudian berlalu dari sana dan tak berselang lama kembali dengan membawa memo warna pink. "Nih surat cintanya!" Yuki menyimpan tagihannya di meja makan.


Ikram mengerutkan keningnya, saat melihat angka di sana. "Maksud kamu bill?"


Yuki hanya mengangguk dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Itu surat cinta di sini, ngerti? Ngerti dong masa nggak?" sindir Yuki.


Ikram pun tak acuh dan kembali memakan sarapannya. Ada perasaan hangat di dadanya saat seseorang dengan lantang membantahnya, padahal sejak dulu tak ada seorang pun yang berani membantahnya termasuk kedua orang tuanya. Kakak perempuannya juga bahkan jarang sekali membantah keinginannya, paling hanya sesekali dan itu pun sangat jarang.


Namun, kali ini tiba-tiba seorang gadis bertubuh mungil dengan lantangnya mengajak perang bahkan saat jam sarapan. Wajahnya yang cantik alami tanpa polesan make berlebihan menambah nilai lebih untuk kecantikannya. Walaupun memakai kacamata tetapi, matanya yang jernih dengan bulu mata lentiknya malah membuatnya terlihat lebih cantik.


Bersamaan itu para pembeli lain mulai datang dengan sengaja menggoda gadis yang selalu dipanggil Neng Yuki itu.


"Neng Yuki, Akang kembali," ucap salah satu pembeli pria yang kemarin juga menggodanya.


"Silakan, Kang dinikmati makanannya. Bisa ambil sendiri ya, Kang." Yuki mengeraskan kalimat terakhirnya untuk menyindir seseorang.

__ADS_1


Namun, Ikram tetap sibuk dengan makanannya, sampai akhirnya ia selesai dan menghabiskannya. Tak berselang lama Ikram pun berdiri dan mengambil surat cinta dari Yuki. Pria itu berjalan ke kasir menemui Mak Aminah untuk membayar makanannya.


"Besok saya akan kembali, tolong layani saya lagi ya," ucap Ikram pada Yuki yang duduk di samping Mak Aminah.


"Ogah." Yuki menjawab pelan sambil memalingkan wajahnya.


"Saya bisa melakukan apa saja jika kamu tidak menuruti kemauan saya," bisik Ikram.


"Bodo amat," balas Yuki.


Ikram pun mulai naik pitam dan tiba-tiba pria itu menumpahkan satu piring makanan bajunya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Yuki dan Mak Aminah terkejut.


"Jangan seperti ini, Nona. Saya ini pembeli, saya hanya menyapa kenapa harus menumpahkan makanan ke baju saya?" ucap Ikram dengan suara agak keras.


"Hei!" Yuki tak terima mendapat tuduhan yang tak ia lakukan. Sementara Mak Aminah juga tak mengetahui kejadiannya, saat tadi dirinya sedang menulis di buku catatannya.


"Neng Yuki! Udah Mak bilang jangan gitu," bentak Mak Aminah yang terkejut dengan tingkah putrinya.


"Bukan Yuki, Mak. Sumpah. Dia sendiri yang numpahin ke bajunya." Yuki membela dirinya.


Mereka bertiga duduk di sofa tempat Mak Aminah menonton televisi. "Coba jelasin, Neng? Mak nggak mau salah paham." Wanita itu menatap anak gadisnya.


"Yuki nggak numpahin makanan itu, Mak. Dia sendiri yang lakuin. Yuki bersumpah."


"Buat apa saya melakukan itu, apalagi saya harus pergi ke rumah kekasih saya sekarang." Ikram tak mau kalah dan menatap meremehkan pada Yuki yang saat ini sedang menatapnya tajam.


"Udah sekarang minta maaf, Neng. Mak nggak mau hal ini berlarut-larut." Mak Aminah ingin segera menyelesaikan permasalahannya dan menyuruh putrinya untuk meminta maaf. Namun, hal itu ternyata membuat Yuki semakin marah.


"Lo yang salah kenapa harus gue yang minta maaf sih?" omelnya.


Ikram hanya tersenyum miring, pria itu merasa menang karena telah membuat wanita di depannya mendapat masalah.


"Ingat Neng, pembeli itu raja, Mak nggak mau terjadi apa-apa sama warung kita. Ayo geulis minta maaf ya," bujuk Mak Aminah.


Yuki pun menghela nafasnya kasar, lalu gadis itu pun meminta maaf. "Ya udah maaf."


"Apa kamu tidak diajarkan cara meminta maaf yang benar, Nona?" Ikram mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ribet. Maafin saya ya, Masnya," ulang Yuki.


"Saya akan memaafkan kamu, asal dengan satu syarat?" jawab Ikram penuh kemenangan.


"Lah, kok gitu?" protes Yuki.


"Udah Neng nggak apa-apa. Syaratnya apa?" sela Mak Aminah.


Ikram menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sebelum pria itu kembali berucap.


"Mau makan gratis? Malu dong sama baju brandednya, Masnya." Yuki tiba-tiba menebak keinginan Ikram.


Pria itu terkekeh geli mendengar penuturan gadis di sampingnya yang entah mengapa sejak pertama bertemu selalu sentimen padanya. "Saya bahkan bisa membeli warung nasi ini, Nona. Jadi saya nggak butuh makan gratis."


"Terus?"


"Ih, dengerin dulu atuh, Neng." Mak Aminah mulai tak sabar.


"Sebelumnya saya ingin bertanya siapa yang mendesain warung nasi ini?" Ikram bertanya ke arah wanita paruh baya itu.


"Oh, ini mah buatan Neng Yuki."


"Mak!"


Ikram pun tersenyum. "Baiklah kalau begitu syaratnya adalah ...."


"Mak!" Tiba-tiba seseorang memanggil Mak Aminah dari luar.


"Sebentar ya, saha deuih?" Wanita paruh baya itu kemudian beranjak dan menghampiri orang yang memanggilnya. Kini di ruangan itu hanya tinggal Ikram dan Yuki.


"Apa syaratnya?" tanya Yuki.


"Sebelumnya kenalkan aku Ikram ... Ikram Pradana." Pria itu malah mengulurkan tangannya.


"Udah tahu kan nama gue." Yuki bahkan tak menyambut uluran tangan pria di sampingnya.


Ikram terkekeh dan menarik kembali tangannya. "Baiklah syaratnya adalah ...."

__ADS_1


__ADS_2