Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Perawatan


__ADS_3

Tak terasa tiga hari lagi adalah hari pernikahan Ikram dan Vanya. Saat ini keduanya tak lagi saling bertemu. Vanya disibukkan dengan perawatan sebelum hari pernikahan. Sementara Ikram sibuk menyiapkan beberapa hal yang belum selesai untuk pernikahan mereka.


Pagi ini, di rumah Vanya sudah ramai dengan kedatangan saudara lainnya. Vanya sedang perawatan di salon yang dipilih oleh maminya sendiri. Vanya pergi bersama Nisa. Mak Aminah dan Ayudia sibuk membuat berbagai macam kue. Pernikahan kali ini, Mak Aminah menawarkan diri untuk memasak makanan hidangan para tamu, sehingga Ehsan dan Ayudia tak menggunakan jasa catering lagi.


Vanya dan Nisa ke salon diantar oleh Ehsan. Pria paruh baya itu izin sebentar untuk pergi ke suatu tempat. Jadi, nanti pria itu akan kembali menjemput putrinya.


Ternyata Ehsan pergi ke kediaman Pradana, pria itu ingin memastikan bahwa calon menantunya itu tak menipunya lagi untuk yang kedua kalinya. Ehsan ingin memastikan bahwa Ikram akan bertanggung jawab dan tidak kabur lagi.


Saat mobil yang Ehsan bawa sudah sampai di pelataran rumah Pradana. Dirinya langsung disambut oleh Hanan, sahabatnya.


"Selamat datang, Ehsan." Hanan merentangkan kedua tangannya, kemudian disambut oleh Ehsan.


Kedua pria itu pun masuk ke dalam rumah. Saat Ehsan masuk, terlihat Ikram sedang duduk di depan laptopnya. Pria itu terlihat serius sampai tak menyadari kehadiran calon papi mertuanya.


"Lihatlah! Putraku sejak hari ini tidak keluar rumah bahkan ia mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah." Hanan menunjuk pada Ikram.


"Ikram," panggil Hanan.


Pria yang sedang fokus pada layar di depannya belum menyahut sampai akhirnya Ehsan yang memanggil namanya. "Ikram?"


Ikram pun menoleh dan melihat dua pria di hadapannya sedang menatapnya dengan intens. "Eh, Om kapan datang?" Pria itu langsung beranjak lalu menghampiri Ehsan untuk mencium punggung tangan pria itu.


"Baru saja. Masih mengurusi pekerjaan?" tanya Ehsan pada calon menantunya itu.


"Hari juga selesai kok. Besok mau fokus ke pernikahan."


"Kamu yakin nggak akan kabur lagi?"


"Astaghfirullah nggak, Om. Ikram janji."


Ehsan pun menganggukkan kepalanya, lalu setelah itu membalikkan tubuhnya untuk kembali keluar.


"Hei, Ehsan mau ke mana kau?" tanya Hanan.

__ADS_1


"Pulang, aku harus menjemput putriku."


"Biar Ikram saja yang jemput Vanya, Om." Pria itu mendekati Ehsan dan menawarkan diri.


"Tidak perlu, kamu urusi saja dirimu sendiri untuk persiapan pernikahan yang hanya tinggal tiga hari ini. Ingat perjanjian kita!" Ehsan membisikkan kalimat terakhirnya sambil menepuk bahu calon menantunya itu.


Ikram pun akhirnya pasrah dan mengangguk, membiarkan calon papi mertuanya itu pergi. Selepas kepergian Ehsan, kini Hanan merangkul bahu putranya.


"Papi tidak akan mengakuimu sebagai putraku jika pernikahan kali ini sengaja kamu gagalkan lagi."


"Ikram sudah berjanji, Pi. Ikram akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah Ikram pilih."


Percakapan dua lelaki itu terhenti saat Manda tiba-tiba datang. "Papi ikut mami dulu ayo! Ikram juga." Wanita paruh baya itu mengajak keduanya untuk masuk ke dalam.


Wanita itu menunjukkan beberapa setelan jas untuk suami dan putranya. "Mami mau kalian pilih mana baju yang akan papi pakai, biar mami samain sama baju mami."


"Ya ampun, biasanya juga mami yang urus semuanya, kenapa harus papi yang milih?"


"Ikram udah ada kan, Mi. Jadi Ikram nggak perlu pilih ...."


Akhirnya kedua pria itu pun mulai memilih setelan jas yang cocok untuk digunakan pada pernikahan Ikram. "Yang maroon aja, Pi. Biar senada sama punya Ikram."


Tanpa mereka sadari Manda sudah tidak ada di ruangan itu. Wanita itu menemui putri sulungnya untuk menyiapkan baju yang akan mereka kenakan juga.


Sementara itu, di salon tempat Vanya perawatan terlihat pria paruh baya sedang duduk dengan memainkan ponselnya di ruang tunggu.


"Teh Yuki makin cantik tahu makin ke sini, nanti si Akang Gantengnya bakal terpana." Terdengar celotehan Nisa yang mendekat ke arah luar.


"Ah, kamu bisa aja. Bang Agam gimana kabarnya? Katanya lagi PDKT ya sama kamu," goda Vanya pada Nisa.


"Ih, Teteh kata siapa sih? Pasti emak nih yang comel."


"Cieee! Teteh juga undang bang Agam kok ke pernikahan teteh."

__ADS_1


Nisa terlihat malu-malu saat mendengar kabar bahwa Agam juga mendapat undangan. Gadis itu berharap Agam datang agar bisa mendampinginya. Mau mendekati Bang Aga sepertinya susah, dia terlalu dingin sama cewek lain.


Saat keduanya asyik saling menggoda, Ehsan berdehem lalu mengajak keduanya untuk pulang. "Ayo kita pulang," ajaknya.


Setelah mengucapkan terima kasih pada penjaga salonnya, ketiganya pun keluar. Mereka benar-benar langsung pulang karena semenjak Mak Aminah ada di rumah, Vanya tak ingin makan di luar begitu juga dengan Ehsan. Masakan Mak Aminah benar-benar telah memanjakan lidah mereka.


Selama perjalanan pulang, percakapan mereka hanya seputar kegiatan di salon tadi. Ehsan bahkan tak memberitahukan tentang kepergiannya menuju rumah Ikram.


"Papi, Vanya boleh beli eskrim dulu nggak sih? Panas banget hari ini."


"Boleh, Sayang. Sebentar biar papi belikan di depan." Pria itu benar-benar melindungi putrinya, bahkan hanya membeli eskrim pun Ehsan tak membiarkannya sendirian.


"Biar sama Nisa aja, Om." Gadis berambut pendek itu menawarkan dirinya karena jujur selama berada di rumah Vanya, pria paruh baya itu menganggap dirinya seperti putrinya sendiri. Perlakuan yang sama seperti pada Vanya ia dapatkan dari pria paruh baya itu.


"Biar om saja, kamu jagain teteh kamu aja. Oh iya kalian mau eskrim rasa apa?"


"Vanya rasa coklat aja, Pi."


"Kalau kamu, Nis?"


"Rasa vanila kalau ada, Om. Kalau nggak samain sama Teh Yuki aja."


Ehsan mengangguk, tak berselang lama ia pun berhenti di sebuah kedai eskrim. Dengan cepat Ehsan membuka sabuk pengamannya lalu keluar. "Kalian tunggu di sini jangan ke mana-mana!"


"Iya, Papi." Vanya menjawab dengan memutar bola matanya. Papinya itu benar-benar over protektif akhir-akhir ini.


Tidak menunggu lama, pria paruh baya itu sudah membawa pesanan putrinya.


"Mau beli apa lagi?" tanya Ehsan setelah memberikan eskrim pada kedua gadisnya.


"Sudah, Pi. Kita pulang."


"Oke."

__ADS_1


Ehsan pun kembali menggunakan sabuk pengamannya kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat tinggal beberapa meter lagi menuju kediamannya. Ehsan bahkan kembali bertanya kepada putrinya jika ada sesuatu yang ingin dia beli. Namun, Vanya dan Nisa tetap menjawab dengan jawaban yang sama. Saat Ehsan kembali berbalik ke arah depan tiba-tiba sebuah motor datang dari arah depan melaju tak terkendali hingga membuat pria itu membanting stirnya ke arah kanan jalan.


"Awas, Pi!"


__ADS_2