
Pagi ini Ehsan dan Ayudia akan kembali ke Jakarta. Vanya akan ikut untuk beberapa hari bersama orang tuanya. Walaupun awalnya Mak Aminah meminta Vanya tetap tinggal, tetapi keputusan sudah diambil bahwa untuk sementara Vanya akan ikut bersama orang tuanya, lalu nanti akan kembali ke sini.
"Neng Yuki mau ninggalin Mak?" Wanita yang selalu menyanggul rambutnya itu kembali bertanya pagi ini untuk yang kesekian kalinya.
"Yuki pasti balik ke sini lagi, Mak. Yuki nggak akan ninggalin Mak." Gadis itu mendekap wanita yang sudah menjadi malaikat tak bersayap bagi Yuki setelah sang mami.
Akhirnya waktu pulang pun tiba, Yuki alias Vanya ikut bersama orang tuanya ke ibu kota. Selama perjalanan ke Jakarta, Ayudia tak pernah melepaskan dekapannya pada sang putri. "Mami seneng akhirnya bisa ketemu sama kamu lagi, Sayang. Mami nggak mau kamu pergi lagi. Kalau nanti Papi usir kamu lagi Mami ikut pokoknya." Wanita yang terlihat lebih kurus itu terus berkata sambil menyindir suaminya.
"Sudah, Mi. Vanya akan tetap tinggal bersama kita lagi, Papi nggak akan jodohkan dia lagi. Maafin Papi ya, Sayang." Pria itu melihat ke arah wanita kesayangannya lewat kaca spion dalam. Ayudia dan Vanya memang duduk di kursi belakang.
Vanya sendiri tak banyak bercerita, gadis itu hanya mengangguk dan tak melepaskan dekapan sang mami. Rasa rindunya pada sang mami akhirnya terobati, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Awalnya Vanya ingin bercerita tentang kehidupannya setelah pengusiran malam itu, tetapi ternyata dengan kejadian itu ia menjadi punya pelajaran berharga dalam hidupnya.
Setelah melewati kemacetan luar biasa, akhirnya mereka sampai di kediaman Pradipta. "Welcome home, Vanya Anindira Pradipta." Ayudia membuka lebar pintu rumahnya.
Tak dapat dipungkiri Vanya sangat bahagia bisa kembali ke rumah yang selama 22 tahun ia tempati ini. Netranya yang jernih mulai berkaca-kaca, gadis itu kini tak bisa menahan lagi air matanya. "Makasih, Mami, Papi." Gadis itu memeluk kedua orang tuanya.
Vanya pun masuk dan berkeliling ke rumahnya sendiri yang masih sama seperti saat ia meninggalkan rumah. Ayudia menghampiri putrinya, lalu mengajak ke kamarnya.
Vanya masuk ke kamarnya, ruangan yang luas itu tetap terlihat rapi dan tertata dengan rapi tanpa diubah sedikitpun. Ranjang king size dengan nuansa merah muda kesukaannya. Beberapa boneka kesayangannya juga masih tetap berada di tempatnya. Gadis itu berjalan dengan perlahan, lalu duduk di tepi ranjangnya.
"Ah, aku kangen tempat ini!" Vanya lalu merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk. Sudah lama ia tak tidur di kasur yang seempuk dan senyaman ini.
"Vanya," panggil Ayudia lembut. Wanita itu kini ikut merebahkan tubuhnya di samping sang putri.
"Iya, Mami."
__ADS_1
"Apa kamu sudah bertemu dengan ... Ikram?" Ayudia bertanya ragu.
Vanya kini menoleh ke arah sang mami, lalu memiringkan tubuhnya menghadap sang mami. "Vanya ... udah ketemu sama cowok gila itu, Mi."
"Apa? Terus apa dia menyakitimu, Sayang?" Ayudia terlihat khawatir saat mendengar jawaban dari putrinya.
Vanya menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak, dia bahkan nggak ngenalin Vanya, Mi. Calon suami macam apa coba, eh mantan calon suami deh." Vanya mengulang kalimat terakhirnya.
Ayudia mengangguk dan bernafas lega saat tahu bahwa putrinya baik-baik saja. "Sebenarnya kemarin Pak Fathan datang ke sini dan mengabari kalau kamu baik-baik saja, Nak." Ayudia mulai bercerita.
Duh kakek gimana sih, udah dibilangin jangan kasih tahu aku dulu ada di mana, tapi ... nggak apa-apa deh aku juga kangen sama mami papi.
"Tapi dia nggak mau ngasih tahu kaku ada di mana, makanya mami sama papi ikutin dia dan akhirnya benar-benar ketemu, Mami seneng banget."Ayudia mengakhiri kalimatnya lalu kembali mendekap tubuh putrinya.
"Ternyata kalian di sini." Tiba-tiba Ehsan datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Lalu pria itu ikut bergabung bersama anak dan istrinya. Vanya dan Ayudia kini sudah duduk di atas kasur, sementara Ehsan duduk di sofa tunggal yang ada di kamar Vanya.
"Vanya sudah bahagia bisa berkumpul dengan Mami dan Papi lagi, Vanya nggak perlu itu semua sekarang yang Vanya mau tetap berada bersama kalian." Gadis itu beranjak turun lalu memeluk tubuh sang papi. Pria tangguh yang selalu menjadi cinta pertamanya.
"Maafin Vanya selama ini, Pi."
Ehsan mengusap punggung putrinya dan tanpa sadar air matanya juga jatuh, pria tua itu menangis. "Papi sangat menyayangimu, Nak."
Suasana haru masih sangat terasa di ruangan itu sampai akhirnya Ayudia mengajak mereka untuk turun ke bawah.
"Sudah lama kita tidak makan siang bersama di meja ini, ayo kita makan sekarang," ajak Ayudia yang sekarang mulai kembali ceria. Wanita itu memang sebelumnya sudah menyuruh asisten rumah tangganya untuk menyiapkan makan siang kesukaan Vanya.
__ADS_1
Mereka bertiga pun turun dan menuju ruang makan. Sudah tersedia menu makanan di meja itu dengan lengkap dan semuanya menggugah selera. Rendang adalah makanan kesukaan Vanya. Gadis itu pun langsung duduk di tempatnya. Ayudia mengambilkan nasi untuk sang suami lalu putrinya seperti kebiasaannya dulu.
Vanya begitu lahap makan dengan makanan yang sudah lama tak ia jumpai. Ayudia juga terlihat lahap, padahal selama Vanya menghilang nafsu makannya juga hilang, hingga badannya menjadi kurus. Ehsan tersenyum melihat putrinya yang makan dengan lahap begitu juga dengan istrinya.
"Papi senang, akhirnya Mami bisa makan dengan lahap juga, begitu juga dengan kamu, Vanya. Makanlah!"
Makan siang mereka terasa berbeda, Vanya dan Ayudia terlihat menambah nasi. Keduanya benar-benar menikmati makan siang dengan penuh kebahagiaan.
"Mami, Vanya udah kenyang, tapi masih mau rendangnya boleh?" ucap Vanya saat melihat piring rendang yang tinggal setengahnya itu.
"Makanlah apa yang kamu mau, Sayang."
Vanya pun kembali mengambil satu potong daging rendang ke piringnya lalu melahapnya. Ayudia dan Ehsan tersenyum, akhirnya kebahagiaannya kembali lagi. Keluarganya kembali utuh dan rumah itu kembali hangat.
Saat mereka telah menyelesaikan makan siangnya. Ehsan mengajak anak dan istrinya ke taman belakang. Mereka duduk di gazebo sambil memberi makan ikan di kolam seperti kebiasaan mereka dulu karena saat Vanya menghilang kebiasaan itu seolah menghilang.
"Apa yang kamu pelajari selama hidup di luar, Vanya?" tanya sang papi sambil menyebarkan pakan ikan ke kolam.
"Banyak, Pi. Dalam setiap kejadian ternyata selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dan itu yang Vanya alami."
"Sekarang apa rencana mu, Nak?"
*****
Happy Reading guys
__ADS_1
Maaf ya mungkin lama banget upnya, aku sibuk RL dan juga susah sinyal. Susahnya sama kek ngelupain Reyhan wkwkwk. Jangan lupa jempolnya gerakin ya bestie. Timamakasih.