
Setelah acara sarapan di rumah Pak Darman, kini Yuki kembali pergi untuk mencari pekerjaan, setidaknya perutnya sudah terisi jadi dia memiliki tenaga untuk tetap menjelajah kota kembang untuk mencari pekerjaan sebagai seorang Yuki, gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara.
Namun, setelah seharian mencari pekerjaan, sepertinya semesta masih belum mendukungnya, hingga saat menjelang isya, ia kembali ke masjid tempatnya menginap.
"Sebaiknya malam ini aku menginap di sini dulu dan besok baru aku pergi, hari ini aku sangat lelah." Yuki bergumam sambil merebahkan tubuhnya yang kelelahan, sebelumnya ia juga telah melakasanakan salat isya secara berjamaah.
Malam pun mulai larut, saat Yuki sudah terlelap. Terdengar seseorang membuka pintu masjid, ada seorang pria dengan memakai penutup kepala warna hitam, ia mengendap-endap masuk ke dalam sana. Pria itu mengambil kotak amal yang ada di balik mimbar masjid.
Dengan santainya, ia membongkar kota itu dan mengambil semua isinya. Yuki, sempat terbangun, dan mendengar suara berisik, tetapi karena kelelahan, gadisitu kembali terlelap.
Waktu malam terasa sangat panjang malam ini, dengan santai ia berjalan dan mengantongi semua uang yang ada di kotk amal itu termuk uang koin.
Setelah pencuri itu pergi, Yuki tiba-tiba terbangun kembali karena ingin ke kamar mandi. Gadis itu pun bangun dan menuju kamar mandi. Saat melihat jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 03.00. Yuki pun tak kembali tidur, ia langsung mengambil air wudhu dan hendak melaksankan salat sunat.
Yuki menggunakan mukena yang biasa ia gunakan selama tinggal di sini, saat dirinya hendak melakukan salat sunat, gadis itu melaksanakan salat dengan khusyuk, kemudian berdoa agar hari ini ia bisa mendapatkan pekeraan yang layak.
Hingga subuh menjelang, gadis itu tetap berada di sana untuk sekalian melakasanakan salat subuh berjamaah. Waktu pun berjalan begitu cepat, Pagi sekali Yuki sudah bersiap untuk kembali pergi mencari pekerjaan.
Namun, sangat pagi juga Pak Darman mengajak gadis itu sarapan.
"Aduh, Pak. Saya malu tiap hari dikasih sarapan," ujar Yuki.
"Istri saya seneng banget kalau Neng Yuki mau makan masakannya, dulu kami mempunyai anak perempuan, tetapi ... di usianya yang masih kecil dia diambil kembali oleh pemiliknya," papar Pak Darman.
"Maaf, Pak, saya nggak tahu," sesal Yuki. Pak Darman hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ayo, kita sarapan bersama lagi, Neng!" Pria itu kembali mengajak Yuki. Gadis itu akhirnya tak bisa menolak lagi dan mengikuti pria tua itu.
Saat mereka sampai di rumah Pak Darman, terlihat Bu Darman sedang menyiapkan sarapan yang begitu banyak dan juga enak.
"Lho, Bu kenapa masak sebanyak ini?" Pak Darman terkejut dengan hidangan yang tersedia di meja makan.
"Bayu yang beli, Pak, katanya dia sedang mendapat rezeki nomplok." Wanita itu tersenyum senang.
Sementara itu, Yuki merasa ada yang aneh, putra Pak Darman yang ia tahu saat kemarin adalah seorang pengangguran, bagaimana bisa mendapatkan begitu banyak uang. *Ah sudahlah Yuki, itu urusan dia, kamu nggak perlu ikut campur.*
Tak berselang lama, Bayu datang dengan wajah segar setelah mandi. Namun, tak sedikit pun menarik perhatian Yuki. "Silakan makan enak, Yuki," sindir pria itu sambil duduk di samping Yuki. Gadis itu tak menghiraukan ucapan pria di sampingnya, ia bahkan dulu bisa memakan yang lebih enak dari ini.
Yuki bahkan tidak berselera sarapan pagi ini, apalagi duduk berdekatan dengan Bayu, pria yang merendahkan dirinya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Yuki pun langsung pamit undur diri untuk pergi. Gadis itu, awalnya ingin langsung pamit dan tak akan kembali, tetapi entah kenapa ia mengurungkan niatnya dan akan pergi besok pagi saja. Sehingga barangnya pun ia simpan di tempat tidurnya.
"Ah, apa aku harus melamar kerja di sana ya, tapi aku nggak bisa masak." Gadis itu terus menatap ke arah resto itu, sambil duduk di kursi yang tersedia di sana. Gadis itu berada di seberang, tepat di warung makan yang tutup.
"Sesulit ini ya ampun nyari kerja, tanpa ijazah sama pengalaman kaya gini," desahnya.
"Aku salut sama mereka yang mau berjuang dan bekerja apa pun yang penting halal."
Gadis itu terdiam di sana cukup lama, memperhatikan para pekerja bangunan yang membangun resto baru itu. Namun, saat pandangannya lurus ke depan, tiba-tiba ia melihat seorang pria berkemeja hitam dengan lengan pendek menghampiri para pekerja itu. Yuki memperhatikan dari jauh, dan sesaat bayangan di rumah bordil berkedok resto pun berkelebatan. "Bang Jafin?" pekiknya sambil menutup mulutnya.
Gadis itu pun berdiri dan berjalan agak ke depan untuk melihat lebih dekat tentang dugaannya. "Ah, benar ternyata dia cowok brengsek itu!" geramnya.
__ADS_1
Namun, saat pria itu berbalik ke arahnya, Yuki langsung berbalik arah dan berjalan cepat untuk pulang. Rasa takutnya ternyata masih besar pada pria itu. Padahal Jafin pun tak memperhatikannya. Pria itu kembali sibuk dengan pekerjanya.
Yuki setengah berlari untuk kembali pulang. Sepertinya ia memang harus menginap di masjid itu lagi, sampai ia benar-benar mendapatkan pekerjaan, karena ia tak menyangka pria yang menjualnya juga berada di kota yang sama.
Sekitar jam 4 sore, Yuki sampai di masjid tempatnya beristirahat, peluh masih membasahi dahinya, saat gadis itu duduk di teras masjid. Namun, tiba-tiba seorang pria meneriakinya dengan lantang. "Nah, ini dia pencurinya, Bapak-bapak, Ibu-ibu!"
Yuki terperanjat saat beberapa warga sudah berada di sana dengan menatap remeh ke arahnya. Ternyata pria yang berteriak itu adalah Bayu.
"Oh jadi ini pencurinya."
"Sayang, cantik-cantik kok nyuri." Semua orang yang ada di sana menuduh gadis yang saat ini terduduk pasrah karena tubuhnya kelelahan. Apalagi Yuki hanya mengisi perutnya saat sarapan saja.
"Parahnya malah nyuri di masjid lagi, nggak ada otak emang, iih gemes gua pen nampol!" Seorang ibu berjalan ke depan dan siap menjambak rambut Yuki. Namun, tiba-tiba Pak Darman menghalangi.
"Jaga sikap kalian, ini di masjid. Jangan main hakim sendiri!" bentaknya sambil merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi Yuki.
"Ya sudah kita bawa ke rumah Pak RT!" usul pria berkaus biru itu.
Yuki pun digiring ke rumah Pak Rt yang tak jauh dari masjid itu, dua orang pria menggandeng tangannya, sama persis saat pencuri tertangkap basah. Yuki pasrah, ia bahkan tak tahu harus berbuat apa, membantah pun sepertinya ia tak punya tenaga.
Saat mereka sampai Yuki didorong oleh seorang ibu hingga gadis bertubuh kurus itu tersungkur jatuh.
"Ada apa ini?" Pak Rt dengan kopiah hitamnya membatu Yuki berdiri.
"Dia yang mencuri kotak amal masjid, Pak Rt," jawab Bayu lantang. Pak Darman bahkan yakin bahwa gadis itu bukanlah pencuri.
__ADS_1
"Siapa dia? Saya baru lihat," ucap Pak Rt sambil menenangkan warganya.