
Ikram penasaran dengan wajah gadis di depannya yang menggunakan masker saat bertanya mengenai pesanannya.
"Boleh saya lihat wajah kamu?" ucap Ikram sambil menatap intens ke arah Yuki yang berdiri dengan memegang buku catatan kecil.
"Eh? Jangan deh, saya lagi kena flu, makanya pakai masker." Yuki menolak dengan halus. Sebenarnya Ikram mungkin tidak akan mengenalinya, tetapi tidak dengan Jafin. Pria itu sudah mengenalnya dengan baik sebelum dia menjual dirinya.
"Kalau lagi sakit istirahat ngapain kerja?" Ikram menjawab dengan ketus.
"Lah yang bantuin Mak saya siapa? Pelanggan banyak gini, Masnya?" bantah Yuki tak mau kalah. Nih orang emang beneran nyebelin ya, sumpah.
"Emang nggak ada karyawan lain?"
"Belum. Ya udah permisi." Yuki pun langsung membalikkan badannya dan pergi menuju sang emak.
Gadis itu langsung membuka maskernya di depan sang emak dengan wajah ditekuk. "Kenapa Neng?" Wanita yang sedang duduk di kursi kasir itu terlihat mengerutkan keningnya.
"Dasar cowok rese, emang kalau udah dari lahirnya nyebelin ya gitu." Yuki terus menggerutu sambil membanting tubuhnya ke atas kursi.
Mak Aminah malah terkekeh mendengar gerutuan putrinya. Namun, wanita itu juga tak banyak bertanya, ia kembali menerima bayaran dari beberapa pelanggan yang sudah mendapatkan surat cinta dari Yuki.
Tak terasa hari pun sudah berubah menjadi gelap, Yuki dan Mak Aminah baru saja selesai menutup warung nasinya. Mereka kini sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Sementara Yuki sedang memainkan ponselnya. Gadis itu sedang membuat akun media sosial untuk promo warung nasi Mak Aminah.
"Neng, jangan main hape terus atuh, temenin Mak nonton."
"Sebentar Mak. Ini lagi bikin akun buat promo warung Mak." Gadis dengan rambut dicepol itu memperlihatkan ponselnya.
Mak Aminah pun bergeser dan melihat ponsel milik putrinya, tertera nama 'Waroeng Nasi Kadeudeuh'. "Terus digimanain ini teh?" Wanita paruh baya itu mulai tertarik.
"Sini Yuki ajarin," ucap gadis itu, sampai akhirnya mereka fokus pada ponsel, dan televisi menjadi penonton mereka berdua.
***
Sementara itu, Ikram sedang berdiskusi dengan Jafin. "Coba kamu cari tahu siapa yang mendesain warung nasi di depan? Aku mau dia yang mendesain resto baru aku," ucap Ikram sambil duduk di sofa besar yang ada di ruangan yang kelak akan menjadi ruangannya.
"Siap gampang itu biar besok saya pergi ke warung nasi itu lagi," jawab Jafin santai. Sebenarnya pria itu juga penasaran dengan wajah anak gadis pemilik warung itu yang mengingatkannya pada seseorang.
"Restoran yang aku bangun harus sukses seperti yang lainnya, jika tidak kamu yang jadi taruhannya, Jafin." Ikram mulai mengancam.
__ADS_1
"Siap, Bos. Tenang saja semuanya pasti lancar.
Mereka pun akhirnya kembali ke tempat masing-masing. Ikram kembali ke hotel, sementara Jafin kembali ke rumah kontrakannya.
Ikram sebenarnya berniat untuk menemui kekasihnya, tetapi gadis itu tak kunjung datang, sampai akhirnya suara ponselnya berdering. "Kamu di mana, Sayang?"
"Aku pulang ke rumah mami papi, Kram. Mami aku sakit." Olive menjawab dari seberang dengan suara tertahan.
"Mami kamu sakit? Besok aku ke sana. Udah jangan nangis," ucap Ikram yang mendengar isakan kekasihnya.
"Semua gara-gara kamu, mami aku jadi sakit," jawab Olive di tengah isak tangisnya.
Ikram mengerutkan keningnya tanpa menjawab. Lalu Olive pun kembali melanjutkan ucapannya, "Mami khawatir kalau kamu nggak nikahin aku, Kram."
"Kita akan menikah, Sayang." Setelah itu Olive pun menutup sambungan teleponnya. Ikram menghela nafasnya. Di lain sisi ia ingin menikah dengan Olive, kekasihnya tetapi di sisi lain ia sudah berjanji pada sang kakek unyuk menemukan calon istrinya dan menikahinya.
"Ah tidur sajalah, biar besok saja aku urus masalah Olive dan Vanya ... aku bahkan lupa wajahnya seperti apa, ah!" Ikram mengacak rambutnya sendiri.
Kemudian pria jangkung itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba menutup matanya untuk meraih mimpinya malam ini.
Keesokan harinya, Ikram hendak pergi ke rumah kekasihnya untuk menemui calon mami mertuanya yang sakit. Namun, sebelum berangkat pria itu menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu dan ternyata Ikram memilih sarapan di Warung Nasi Kadeudeuh daripada di hotel.
Alih-alih pergi dari sana, ternyata pria itu menunggunya di tepi jalan. Sekitar lima belas menit Ikram menunggu, akhirnya warung nasi pun dibuka oleh gadis cantik berkacamata dengan rambut dicepol. Ikram langsung memasuki halaman warung nasi itu dan memarkirkan mobilnya secara sembarangan.
Yuki yang melihat itu, mengerutkan keningnya. "Pagi-pagi udah mabok, setres," gumamnya.
"Cepetan buka saya mau sarapan di sini," ucap Ikram yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
Yuki terkejut saat tahu siapa pria itu, tetapi benar dugaannya Ikram memang tak mengenalinya. Buktinya ia hanya menatapnya sekilas dan langsung melesat masuk ke warung nasi itu. Kemudian dengan gaya angkuhnya dia duduk di barisan meja paling depan.
"Eh, udah ada yang mau makan, Mak baru aja beres masak," ujar wanita paruh baya itu sambil membenarkan apronnya yang sedikit melorot.
"Iya, tapi saya mau dilayani sama dia."Ikram menunjuk pada Yuki yang saat ini sedang menuliskan menu masakan di banner depan.
"Oh, iya sebentar biar Mak panggilin dulu," ucap Mak Aminah dengan senyum ramahnya. Wanita itu pun keluar dan memanggil putrinya untuk melayani pelanggan pertamanya.
"Neng, itu cowok yang di sana pengen dilayani sama Neng Yuki katanya," bisik Mak Aminah sambil terkekeh geli.
__ADS_1
"Lah, di sini konsepnya kan prasmanan, Mak. Ngapain dilayani sih? lagian manja banget dah ah," bantah Yuki yang baru saja selesai menulis daftar menu.
"Ya udah sih, nggak apa-apa. Kayanya dia suka sama Neng Yuki, ganteng kok orangnya." Mak Aminah malah menggoda anak gadisnya.
"Halah, ganteng juga kalau nyebelin buat apa sih, Mak?"
Mak nggak tahu aja kalau dia mantan calon suami aku.
Kemudian mereka pun berjalan masuk dan menemui Ikram yang masih duduk di tempatnya. "Tolong layani saya, dengan menu yang paling enak hari ini!" ucap Ikram dengan arogan saat Yuki menghampirinya.
"Mohon maaf ya, Masnya, di sini konsepnya prasmanan jadi tamu boleh mengambil makanannya sendiri sesuai keinginan dan seleranya," jawab Yuki santai.
Ikram menatap tajam ke arah Yuki, tetapi ia heran dengan tatapan gadis di depannya yang penuh dengan kebencian.
"Kamu ngelawan saya?"
"Lah, saya cuma ngasih tahu, Masnya," ucap Yuki menyebalkan.
"Pokoknya saya mau sarapan untuk saya ada di meja ini titik." Ikram kekeh dengan pendiriannya. Bagaimana bisa pria itu mengalah pada gadis di depannya.
Namun, sepertinya perdebatan mereka membuat Mak Aminah beranjak dan mendekati mereka. "Kenapa Neng?" Wanita itu terlihat khawatir saat melihat tamu mereka sudah berwajah merah padam.
"Tolong ini saya ke sini mau sarapan bukan berantem dengan anak ingusan kaya dia," ucap Ikram beralih pada Mak Aminah.
"Yuki cuma ngasih tahu, Mak. Kalau di sini pembeli bisa ambil makanan sendiri," kilah gadis itu.
"Pokoknya saya mau dia yang mengambilkan sarapan saya. Jika tidak jangan salahkan kalau pelanggan warung ini pergi semua," ancam Ikram.
"Jangan ngancem-ngancem gitu dong!" Yuki mulai tersulut emosi.
"Ya udah mana sarapan saya?"
Bersambung
Happy Reading guys
Happy New Year 2023 buat kalian semua.
__ADS_1
Monmaaf ya mungkin update Bang Ikram masih bolong-bolong, maaf banget aku lagi sibuk RL sama kemarin anak dan suami aku sakit.