Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Mengantar Pulang


__ADS_3

Ayudia berteriak histeris saat melihat Ehsan sang suami mengusir Ikram. Wanita paruh baya itu teringat saat dulu suaminya mengusir sang putri. "Mas!"


"Mami!" Yuki memekik saat melihat sang mami tiba-tiba terkulai lemas.


Ehsan dan Ikram pun berlari ke arah Ayudia. "Sayang, bangun!" Ehsan panik melihat sang istri kembali tak sadarkan diri.


Ikram dengan segera memanggil dokter. Pria itu juga merasa khawatir melihat keadaan Tante Ayudia. Tak berselang lama dokter pun datang bersama seorang perawat. Pria berkacamata itu memeriksa keadaan Ayudia. Setelah selesai pria berjas itu hanya berpesan agar pasien tak diganggu dan dibiarkan untuk istirahat.


Akhirnya Ehsan memutuskan untuk menjaga sang istri, sementara Vanya dibiarkan untuk pulang dan mengganti pakaian. "Pulanglah dulu, Nak. Kembali lagi besok saja. Istirahatlah di rumah!" ucap sang papi.


Ikram yang masih berada di sana pun, ikut pamit dan akan menjadikan kesempatan ini untuk mengantar Vanya dan mendekati gadis itu. Saat mereka sudah keluar dari dari ruangan Ayudia. Ikram tiba-tiba menarik tangan Vanya.


"Tunggu!" ucapnya.


"Apa sih?" Vanya menepis kasar tangan Ikram agar bisa lepas.


"Biar aku antar pulang," ucap Ikram lembut.


"Nggak usah aku bisa pulang sendiri." Vanya berlalu meninggalkan Ikram. Namun, sepertinya pria itu tak menyerah, ia pun mengikuti Vanya hingga akhirnya sampai di parkiran. Gadis itu mencari sesuatu di saku celana juga tasnya. "Ah, kenapa bisa lupa coba."


Namun, saat gadis itu hendak berbalik, Ikram sudah berdiri tepat di belakangnya. Pria itu menampilkan senyuman terbaiknya. "Sudah naik ke lantai atas itu lama, biar aku antar."


Vanya pun akhirnya mengikuti Ikram menuju mobilnya, sebenarnya gadis itu bisa saja kembali ke kamar sang mami, tetapi entah mengapa tubuhnya terasa lelah.


Ikram membukakan pintu mobil untuk Vanya. Setelah gadis itu masuk, Pria itu berlari memutar untuk duduk di balik kemudi. Vanya masih terdiam bahkan ia malah melihat ke luar jendela dibandingkan harus berbincang dengan Ikram.


Mobil Ikram sudah keluar dari rumah sakit, pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Vanya sendiri masih sibuk dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya Ikram pun mengeluarkan suaranya. "Mau mampir untuk makan siang dulu nggak?"


Tidak ada jawaban dari gadis di sampingnya sampai akhirnya saat lampu lalu lintas berubah merah, Ikram mengulang pertanyaannya. Namun, saat pria berjas hitam itu menoleh ternyata Vanya memejamkan matanya, gadis itu tertidur.


"Haish, ternyata tidur. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Vanya alias Yuki. Ah, aku benar-benar tak menyadari kalau Yuki adalah Vanya." Ikram bergumam sendiri, lalu kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


Pria itu tak langsung menuju ke rumah Vanya, ia mampir dahulu ke sebuah resto untuk memesan makan siang. Awalnya pria itu akan makan sendirian di sana, tetapi diurungkan, akhirnya Ikram pun memesan dua porsi makanan untuk dibawa pulang.


Sekitar lima belas menit, Ikram menunggu pesanannya, setelah mendapatkan makanannya ia pun bergegas kembali ke mobil. Terlihat Vanya masih tertidur dengan posisi yang sama. "Istirahatlah." Ikram mengusap kepala Vanya lembut. Ada rasa bahagia terbit di hatinya.


Rasa yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan saat bersama Olive. Entahlah bersama dengan Vanya atau Yuki selalu membuat hati Ikram lebih berwarna.


Tak terasa mobil Ikram sudah sampai di kediaman Pradipta. Satpam yang dulu pernah berbincang dengan dirinya menyambut mereka dengan ramah.


"Neng Vanya tidur ya?"


Ikram mengangguk, lalu meminta bantuan pada satpam itu untuk membukakan pintu rumahnya, Ikram akan menggendong tubuh gadis itu ke dalam.


Pria tampan itu pun mengangkat tubuh Vanya dengan hati-hati agar gadis itu tak terbangun.


Seorang wanita paruh baya menunjukkan kamar nonanya yang ada di lantai atas. Ikram pun mengangguk dan langsung menaiki anak tangga walaupun sedikit kesusahan.


Namun, saat di pertengahan jalan, tiba-tiba Vanya membuka matanya perlahan, tetapi tak berapa lama kembali terlelap dengan melingkarkan kedua lengannya pada leher Ikram.


"Aduh!"


"Kamu jangan kurang ajar ya, Mas!" Vanya berteriak sambil memukul punggung pria itu.


"Astagfirullah, aku nggak ngapa-ngapain," bantah Ikram dan berusaha bangun.


Setelah berhasil, Ikram menghela nafasnya lega. Lalu melipat kedua tangannya.


"Kamu itu kecil tapi berat juga," ucap pria itu saat melihat Vanya menatapnya dengan sinis.


Vanya pun melihat sekeliling dan gadis itu baru sadar kalau saat ini dirinya sudah berada di kamar pribadinya. "Kenapa aku di sini?" gumam Vanya.


"Tentu saja aku yang gendong, siapa lagi?" ucap Ikram dengan posisi yang sama.

__ADS_1


"Lho, bukannya tadi papi?" Vanya menggaruk kepalanya.


"Kamu itu pulang sama aku, Yuki." Ikram menekankan nama Yuki.


"Aku lapar mau makan." Akhirnya pria itu pun berbalik menuju pintu keluar.


Sementara itu, Vanya masih diam membisu di ranjangnya. "Haish, Vanya-Vanya jadi yang tadi lo peluk itu dia." Gadis itu menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Ternyata Ikram masih berada di sana, pria itu belum turun ke lantai bawah. "Aku udah beli makan siang, mau bareng nggak?"


Vanya pun langsung turun dari ranjang lalu pergi meninggalkan Ikram ke lantai bawah. Terlihat asisten rumah tangganya sedang menyiapkan makan siang untuk mereka.


"Ayo makan dulu, Neng Vanya. Pacarnya udah bawain tadi, ini udah bibi pindahin ke piring."


Vanya hanya mengangguk, lalu duduk di kursinya. Tak berselang lama Ikram pun datang, pria itu pun langsung duduk di hadapan Vanya. Dengan gaya kalemnya, pria berjas itu langsung memulai makan siangnya.


"Aku belum tahu semua tentang kamu, Vanya. Jadi aku memesan apa yang biasa aku makan saja." Ikram berucap setelah menelan suapan pertamanya.


"Aku nggak pernah pilih-pilih makanan," jawab Vanya singkat.


Sesaat hening membentang di antara mereka, sampai akhirnya Ikram kembali membuka suara. "Sebelumnya aku minta maaf, aku memang salah besar pergi dari pernikahan kita, tapi apakah kita bisa memulai dari awal lagi?"


Pertanyaan itu sukses membuat Vanya tersedak dan akhirnya batuk. Ikram dengan segera memberikan air putih miliknya.


"Makasih."


"Aku sudah bilang pada kakek, jika aku tak berhasil menemui Vanya, aku akan mengenalkan wanita lain padanya. Kamu tahu siapa wanita itu?"


"Mbak Olive lah, siapa lagi."


Ikram menggelengkan kepalanya. "Bukan, dia adalah ... Yuki. Gadis periang yang selalu membuat hariku berwarna."

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2