
Hari terus berganti tak terasa sudah tiga bulan Yuki dan Ikram akhirnya saling bertemu selama mereka berada di Bandung. Ikram juga terus berusaha mencari Vanya.
Keduanya terlihat lebih akrab walaupun tetap sering berdebat. Hari ini Ikram akan kembali ke ibu kota, pria itu pun menemui Yuki seperti biasa.
"Hei, Galak. Hari ini aku mau balik ke Jakarta, mau ikut nggak?" Pria itu menyapa saat Yuki sedang menulis menu di banner.
Gadis itu menoleh sebentar kemudian melanjutkan aktifitasnya. Ikram pun kemudian mendekati Yuki dan kini berdiri di samping banner.
"Bantuin aku dong buat bisa ketemu sama Vanya, ya seenggaknya doainlah ya." Entah kali ke berapa pria itu meminta bantuan pada Yuki.
Ya ampun bisa aku tampol nggak sih nih orang, orang yang dia cari itu bahkan ada di hadapannya saat ini, tapi nggak apa deh aku suka bikin lo pusing, Ikram.
"Memangnya kamu nggak inget sama sekali sama calon istri kamu itu eh mantan calon istri ya?" ulang Yuki sambil berdiri tegak setelah menyelesaikan tugasnya.
Ikram menggeleng dengan melipat kedua tangannya. "Makanya aku sulit banget nyari dia, pernah liat sosial medianya, tapi nggak ada satu pun foto dia yang utuh, kalau nggak dari belakang paling cuma siluet."
Yuki hanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu merasa beruntung karena tak suka memposting fotonya di sosial media, ia lebih suka memposting kreasinya dibandingkan dirinya sendiri. "Misterius gitu dong ceweknya bikin pinisirin ya?" goda Yuki.
Ikram memang sudah menceritakan tentang kegagalan pernikahannya dengan Vanya pada Yuki. Pria itu beralasan belum siap menikah dan pergi bersama kekasihnya. Namun, setelah sebuah fakta mengenai Olive menamparnya. Pria itu pun sadar akan kesalahannya. Ikram juga menceritakan tentang penyesalannya pada Yuki.
"Iya ... udah temenin aku sarapan." Ikram merangkul bahu Yuki untuk mengajaknya ke dalam.
"Ini aku kecekik, Masnya!" Yuki memukul lengan Ikram yang ada di lehernya.
Mereka berdua masuk kemudian Ikram mengambil sarapannya, sementara itu Yuki membantu Mak Aminah menulis surat cinta untuk para pelanggan yang sudah datang. Nisa sendiri izin akan datang agak siang karena ada keperluan.
Tak terasa hari sudah beranjak siang, Ikram juga sudah pergi. Yuki sedang menikmati makan siangnya bersama Mak Aminah dan Nisa. Namun, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Yuki pun mengambilnya dan melihat nama 'Cinta Pertama' di layar ponselnya dia adalah Ehsan sang papi.
__ADS_1
"Iya, Pi ... apa?" Yuki langsung berdiri. "Iya, aku pulang sekarang ... iya." Gadis itu terlihat panik setelah menutup sambungan teleponnya.
"Aya naon, Neng Yuki?" Mak Aminah ikut terkejut dengan reaksi putrinya.
Yuki oun mendekat ke arah sang emak kemudian berbisik, "Mami masuk rumah sakit, Mak. Yuki harus pulang dulu ya."
Nisa ingin menguping perbincangan mereka, tetapi ia urungkan karena merasa tak sopan. "Nis, titip warung sama Emak ya, Teteh ada urusan." Yuki menepuk bahu Nisa.
"Teteh mau ke mana?" tanya gadis itu.
"Teteh harus ke Jakarta, kan kamu tahu Teteh juga kerja di sana." Yuki memang mengaku kalau ia bekerja di Jakarta jika tidak ada di Bandung.
"Semangat, Teh. Hati-hati di jalan!"
Yuki pun mengangguk, Yuki hanya mengambil tas dan barang penting saja seperti ponsel dan dompetnya. Gadis itu bahkan tak mengganti pakaiannya. Setelah itu langsung pamit pada Mak Aminah. Gadis itu akan menggunakan angkutan umum terlebih dahulu dan nanti sang papi akan menjemputnya di tempat yang sudah mereka sepakati.
Yuki belum fokus selama perjalanan untuk menemui sang papi, ingatannya terus tertuju pada sang mami yang sakit. Yuki baru tersadar saat seseorang menepuk bahunya. "Neng, itu ponselnya bunyi terus."
"Siap, Neng."
Yuki pun turun setelah sang sopir menghentikan mobilnya, lalu ia membayar ongkosnya. Terlihat sang papi sedang menunggunya di depan mobil sambil bersandar pada pintu mobil.
"Akhirnya, kamu datang, Sayang." Ehsan menyambut putri kesayangannya. Beberapa orang yang berada di sana menatap mereka dengan beberapa prasangka.
"Anak jaman sekarang rela ngelakuin apa aja demi uang ya," celetuk seorang ibu-ibu berwajah menor pada rekannya.
"Iya, yang penting duit nggak peduli kalau cowoknya cocok jadi bapaknya."
__ADS_1
Yuki dan Ehsan mendengar percakapan mereka saat keduanya sedang berpelukan. "Yang lebih miris itu mengomentari orang lain tanpa tahu faktanya ya, Pi." Yuki berkata dengan agak keras.
Kedua ibu-ibu tadi pun mendelik lalu pergi meninggalkan minimarket itu. "Udah, ayo!" ajak sang papi kemudian keduanya pun memasuki mobil. Mereka akan menuju rumah sakit tempat sang mami dirawat.
"Mami kenapa bisa masuk rumah sakit, Pi?" Vanya mulai bertanya setelah Ehsan melajukan mobilnya.
"Mami tiba-tiba tak sadarkan diri tadi pagi." Ehsan kemudian fokus pada jalanan di depan. Pria paruh baya itu akan membahasnya nanti saja.
Perjalanan mereka hanya ditemani dengan keheningan, Vanya bahkan kali ini sibuk dengan ponselnya. Gadis itu akan memposting beberapa desainnya di sosial media. Tak berselang lama mereka pun sampai di tempat tujuan. Ehsan langsung mengajak sang putri ke ruangan maminya.
Saat masuk terlihat Ayudia sedang bersandar pada kepala ranjang. "Mami!" Vanya langsung menghambur ke pelukan sang mami. "Mami kenapa lagi? Vanya takut banget, Mi."
"Mami nggak apa-apa, Sayang. Kata dokter mami cuma kurang minum aja, makanya sering pusing. Papi kamu aja panikan, padahal kan nggak perlu dibawa ke rumah sakit." Ayudia menatap suaminya yang saat ini berdiri di sampingnya.
"Papi khawatir mami kenapa-kenapa," ucap Ehsan lembut.
"Terus Mami bisa pulang kapan?" tanya Vanya.
"Kalau sudah habis ini juga boleh pulang katanya," jawab Ayudia sambil menunjuk pada selang infusnya.
"Ah, Vanya kangen banget sama Mami." Gadis itu memeluk tubuh maminya dengan erat sambil berbaring di sampingnya.
"Papi harus kembali ke kantor dulu, nggak apa-apa kan, Papi tinggal? Kalau ada apa-apa hubungi Papi, ya."
"Iya, Pi. Tenang aja kan ada Vanya di sini. Mami aman sama Vanya.
Ehsan pun mengangguk kemudian mencium pucuk kepala istri dan anaknya bergantian. "Hati-hati, Pi."
__ADS_1
Kini di ruangan itu hanya tinggal Vanya dan Ayudia. Kedua wanita itu saling bercerita dan menumpahkan rasa rindu mereka. Saat sedang asyik bercerita tiba-tiba suara ketukan terdengar oleh keduanya. "Masuk!"seru Ayudia karena ia pikir itu adalah perawat yang akan mengontrol infusnya.
Namun, saat pintu itu terbuka terlihat seorang pria tinggi dengan jas hitam. Saat pria itu masuk ia langsung berkata, "Yuki?"