
Yuki masih terdiam saat wanita di depannya terus mendesaknya untuk bercerita. Rasa traumanya pada orang baru membuat gadis itu lebih waspada. Sampai akhirnya wanita itu berkata, "Emak cuma hidup sendirian setelah suami Emak meninggal dunia."
"Kalau Neng mau cerita sok, Emak akan dengerin," imbuhnya.
Yuki kembali menatap wanita di depannya. Tak berselang lama gadis itu mulai membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, tetapi kembali ia tutup, sampai akhirnya wanita yang menyebut dirinya Emak itu kembali bertanya, "Kunaon atuh, Neng? Sok cerita ka Emak."
"Aku ... apa Ibu ... tidak akan menjual aku?" Yuki bertanya takut sambil beringsut mundur.
"Astagfirullah, Neng. Kenapa berpikir seperti itu? Dosa tahu?"
Yuki menatap wanita di depannya yang terlihat tersinggung dengan perkataan Yuki, lalu gadis itu menarik satu ujung bibirnya. "Aku ... takut hal itu kembali terulang." Yuki mulai menangis, entah mengapa kali ini dirinya merasa sangat rapuh.
Wanita bernama Aminah itu pun mendekat dan mencoba mendekap tubuh kurus gadis di depannya. "Semua akan baik-baik saja, Neng. Ada Emak di sini," ucap Aminah sambil mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Yuki terus menangis sampai dadanya terasa sesak. Namun, wanita paruh baya itu terus menenangkan dirinya. Setelah dirasa puas menangis, Yuki pun mengangkat wajahnya. Terlihat wajah wanita yang sudah tidak muda itu, menatapnya khawatir dengan tulus.
"Atos nangisna? Udah atuh ya cantiknya jadi ilang." Aminah mengusap pipi Yuki yang basah dengan jarinya.
Yuki tersenyum menatap wanita di depannya. Gadis itu jadi merindukan maminya yang sampai saat ini belum bisa ia temui.
Karena keramahan wanita di depannya, juga terlihat ketulusan di matanya, akhirnya Yuki pun berani bercerita mengenai dirinya, walaupun bercerita tentang dirinya yang baru sebagai Yuki.
"Namaku Yuki, aku yatim piatu ... Bu ...."
"Emak, manggilnya Emak aja ya, Neng Yuki." Wanita paruh baya itu menyela ucapan Yuki.
"Aku ke sini untuk mencari pekerjaan, setelah seseorang menjualku ke rumah bordil ...." Gadis itu mengepalkan tangannya geram,saat mengingat kejadian menyeramkan itu.
"Astafirullah, terus Neng bagaimana bisa kabur dari sana?" tanya Emak dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Aku lompat dari jendela kamar lantai dua, ah bukan lebih tepatnya terpeleset." Gadis itu menghela nafasnya. "Tapi ternyata Allah masih memberikan aku kesempatan untuk hidup, aku nggak jadi mati, Mak."
"Ish, si Neng kalau ngomong, jangan gitu pamali eta teh," sela wanita paruh baya itu setengah menggerutu.
Yuki terkekeh. "Lah iya bener, aku pikir aku itu udah di surga, eh tahunya aku jatuh tepat ke mobil bak yang lewat."
"Neng Yuki emang aslinya dari mana sih?" Emak pun akhirnya bertanya mengenai asal gadis itu yang sejak tadi ia ingin tahu.
"Dari Jakarta, tapi karena di sana aku kena sial mulu, akhirnya aku nekad ke sini buat nyari kerja, eh kerja belom dapat malah dituduh nyuri."
Kedua wanita beda usia itu bercerita hingga tak terasa hari sudah sangat siang. Yuki pun diajak makan oleh Emak. Wanita itu dengan lihai memasak di dapur. Yuki hanya membantu sebisanya saja.
***
Sementara itu di tempat Pak Darman. Bayu terlihat sering kali membeli makanan enak dan mahal, pria itu juga membelikan pakaian untuk ibu dan bapaknya.
"Makasih gadis bod*oh udah bikin gue jadi kaya raya," gumamnya saat dirinya sedang berada di kamarnya sambil melemparkan beberapa uang lembaran lima puluh ribuan ke atas.
"Bayu! Bayu!" Suara Bu Darman terdengar memanggil dari luar.
"Iya, Bu!" Pria itu langsung membereskan uang yang berserakan di lantai kamarnya, kemudian menyimpan benda itu ke dalam tas hitamnya. Setelah itu, Bayu langsung keluar dan menghampiri ibunya.
"Bayu, uang kamu masih ada, kan?" tanya wanita itu serius.
"Kenapa, Bu? Ibu mau beli apa lagi?" tanya Bayu.
"Ini lo, kebutuhan dapur kita udah pada abis, Ibu mau ke pasar," ucap wanita itu sambil menunjukkan rak penyimpanan makanannya yang sudah kosong.
"Ya udah bentar, Bu." Bayu membalikkan tubuhnya menuju kamarnya kembali.
__ADS_1
Setelah kepergian putranya, Bu Darman langsung menuju kamarnya untuk berganti baju. "Bayu tetap putraku yang paling hebat, walaupun dia pengangguran, tapi toh dia juga bisa punya uang banyak, berarti dia punya kerjaan di luar sana." Bu Darman bergumam sambil membubuhkan bedak tabur pada wajahnya yang sudah tak muda lagi.
Tak berselang lama suara ketukan di pintu membuat wanita itu menghentikan aktifitasnya dan langsung membuka pintu kamarnya. Ternyata suaminya yang baru pulang dari masjid.
"Loh, Ibu mau ke mana?"
"Mau belanja, Pak." Wanita itu kembali duduk di depan meja riasnya dan kini membubuhkan lipstik pada bibirnya yang sedikit kering.
"Bapak belum punya uang hari ini, Bu. Mudah-mudahan besok ada, ya?" ucap pria itu lembut.
Bu Darman menatap wajah suaminya. "Tenang saja, Pak. Putra kita yang akan memberi uang untuk belanja bulanan kita. Tuh kan Bayu pasti sukses, dia bisa kok bikin kita senang."
Pak Darman mengerutkan keningnya, pria itu memang curiga dengan putranya yang kini sering sekali membelikan barang-barang yang cukup mahal untuk mereka. Namun, Pak Darman belum memiliki bukti.
"Jangan belanja dulu hari ini deh, Bu. Besok aja ya, biar Bapak yang kasih uang buat belanja," bujuk Pak Darman. Bersamaan itu Bayu datang dengan membawa sepuluh lembar uang seratus ribuan di tangannya.
"Nggak usah, Pak. Nih Bayu udah ngasih, kok. Biar nanti uang dari Bapak buat beli yang lain. Kalau gitu ibu belanja dulu ya, assalamu'alaikum." Wanita itu langsung mencium punggung tangan suaminya setelah menerima uang dari putranya dan pergi meninggalkan dua pria beda usia itu.
"Bay, ikut Bapak sebentar!" ajak pria bersamping itu menuju ruang makan. Bayu pun mengikutinya dari belakang tanpa.sepatah kata pun. Keduanya duduk saling berhadapan. Pak Darman menatap wajah sang putra, ia seperti sedang bercermin, tetapi melihat dirinya saat masih muda.
"Kamu udah kerja?" tanyanya dengan menatap lekat mata hitam putranya.
"Sudah Bayu bilang, Bayu tuh ada bisnis, Pak. Cuma ya gitu penghasilannya nggak tiap hari,kalau lagi untung, Bayu bisa beli apapun yang Bapak dan ibu mau," jawab pria itu yang sudah bosan dengan pertanyaan sang bapak.
"Bisnis apa? Bapak nggak mau kamu terjerumus pada hal-hal yang tidak baik, Bayu." Pria itu tetap bersikap tenang melihat putranya yang sudah tak sabaran.
"Bisnis online lah, diterangin juga Bapak nggak bakal ngerti. Yang penting saat ibu mau belanja ada uang," jawab pria itu sambil beranjak berdiri dan hendak meninggalkan ruangan itu.
"Bayu! Aku ini bapakmu! Bapak nggak mau kalau ternyata yang mencuri kotak amal masjid itu ternyata ...."
__ADS_1
"Bapak!"