
Ikram benar-benar membuat Yuki ingin kabur. Pria itu meminta dibuatkan mie instan dua sekaligus. Yuki bisa saja membuatkannya dengan melihat tutorial di bungkus mienya, tetapi yang jadi masalahnya, ia tak tahu cara menghidupkan kompornya.
"Tunggu apa lagi, buruan buatin!" ucap Ikram sambil mendorong kedua bungkus mie yang ia pilih.
Yuki mau tak mau mengambil mienya, menuju ke dapur. Namun, gadis itu malah bolak-balik membaca tutorial pembuatannya, ia juga sudah menyiapkan panci yang cukup besar untuk memasak mienya, lalu dua mangkuk.
"Duh, gimana sih nih? aku nggak tahu nyalain kompornya gimana?" gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ternyata tingkah Yuki tak luput dari perhatian Ikram.
Pria itu pun lalu berdiri dan mendekati Yuki. Kemudian, pria itu menempelkan dagunya di pundak Yuki, hingga gadis itu memekik.
"Kenapa diliatin aja sih? Buruan masaknya." Ikram sudah berdiri tegak kembali setelah mendapat cubitan di lengannya.
"Aku nggak bisa nyalain kompornya gimana?" ucap Yuki polos dan membuat Ikram tercengang dan akhirnya tertawa.
"Kamu serius?" Anggukkan dari Yuki membuat pria itu yakin kalau gadis di sampingnya memang berkata jujur.
Ikram lalu memutar tombol kompornya dan menekannya sedikit. Lalu kompor pun menyala dengan sempurna. Saat Yuki menyodorkan panci yang cukup besar, pria itu kembali tertawa. "Oh Tuhan, kamu benar-benar nggak bisa masak, Yuki?" Yuki kembali mengangguk lalu menggeleng.
Ikram pun akhirnya mengambil panci untuk memasak mie. Pria itu, memang sudah terbiasa memasak sendiri saat dirinya dulu sekolah di luar negeri, tetapi kalau makan mie instan Ikram memang sangat jarang dan hampir tidak pernah. Mungkin kali ini ia akan memakan makanan itu di sini. Akhirnya, Ikram yang memasak mienya sendiri, dan juga memasak untuk Yuki juga.
Ikram memang tahu mie instan rasa soto, tetapi ia baru tahu kalau ada mie rasa ayam geprek. Yang ekspektasinya adalah mie dengan rasa ayam.
Yuki hanya melihat Ikram, saat pria itu dengan lincah memasak mienya. Padahal Yuki sudah makan malam dengan sang emak, tetapi saat melihat Ikram memasak, ia jadi ingin mencoba mie instan juga.
__ADS_1
Yuki memang suka makan mie instan, tetapi dulu ia hanya tahu makan saja karena sudah disiapkan oleh bibi.
Akhirnya acara masak mie pun selesai, Ikram membawa mienya ke meja, begitu juga dengan Yuki. Mereka akan makan bersama.
Ikram mencoba mie rasa soto dulu, dan pria itu pun menikmatinya. Lalu, Yuki pun mulai menyuapkan mie rendangnya. Gadis itu bahkan menambah bubuk cabai ke mienya.
"Kamu nggak bisa masak, tapi mak kamu jago kok bisa?" tanya Ikram di sela santap malamnya.
"Ya gimana aku biasanya tinggal makan," jawab Yuki apa adanya.
"Mak kamu nggak ngajarin?" Ikram heran dengan jawaban gadis di depannya.
Yuki hanya menggelengkan kepalanya, dulu sang mami memang tak pernah mengajarkannya memasak, katanya nanti dia capai, jadi tinggal bilang saja. Akhirnya, Yuki pun tak bisa apa-apa tentang urusan dapur, bahkan hal kecil seperti menyalakan kompor saja ia baru tahu barusan saat Ikram memberitahunya.
Yuki tergelak saat melihat Ikram begitu tersiksa dengan rasa pedasnya, ia pun lalu menyodorkan air hangat ke arahnya. Tentu saja saat diminum mulut Ikram terasa terbakar. "Kamu mau bunuh saya!" gerutunya.
"Haish, mana ada yang masak dan pilih mie itu juga kamu, Masnya. Minum air hangat biar cepet ipang pedesnya," jelas Yuki.
Ikram menatap tajam ke arah Yuki, tetapi apa yang dikatakan gadis itu ternyata benar, rasa pedas di mulutnya berangsur menghilang. "Saya nggak sanggup makan ini, kamu habiskan saja." Ikram mendorong mangkuk mie nya ke arah Yuki.
"Eh, mana bisa gitu mubazir, Masnya. Makan dong katanya mau, nggak apa-apa gratis deh nggak usah bayar." Yuki sengaja agar pria di depannya sakit perut dan besok ia tak perlu sibuk berurusan dengannya saat bekerja.
"Kamu nggak akan gemuk kalau makan mie dua mangkok, sekali doang," kilah Ikram.
__ADS_1
"Aku nggak peduli urusan badan, tapi perut aku udah kenyang, orang sebelum ini aku juga udah makan sama Mak." Yuki beralasan.
Yuki kemudian mendorong kembali mangkuk mienya ke arah Ikram. "Makan, pamali kalau kata emak mah."
Ikram pun akhirnya mau tak mau harus menghabiskan mie pedasnya itu, dan ia bersumpah tak akan makan mie ayam geprek lagi untuk selanjutnya. Yuki menyiapkan minuman hangat untuk Ikram. Pria itu sesekali mengusap dahinya yang berkeringat.
Sampai akhirnya setelah melewati perjuangan yang dirasa cukup panjang bagi Ikram yang bukan penyuka pedas, pria itu pun berhasil menghabiskan mienya. Yuki langsung menyodorkan minuman hangatnya. "Nah kan, akhirnya bisa, karena makan sudah selesai tugas aku juga udah selesai, sekarang silakan pulang, pintunya di sebelah sana," ucap Yuki mengusir Ikram secara halus.
Ikram yang masih kepayahan menunjuk Yuki. "Kamu ini ... benar-benar...." Ikram tak melanjutkan ucapannya, karena perutnya tiba-tiba terasa sakit.
Namun, saat pria itu akan izin ke toilet, Yuki tak mengizinkan, ia langsung menarik Ikram keluar dari sana, Yuki pun melambaikan tangannya dan langsung mengunci pintunya.
"Ah, dasar cewek siyalan ... ah!" Ikram memegang perutnya yang melilit, lalu berusaha berjalan untuk menyeberang jalan menuju ke restonya.
Pria itu, semalaman bolak-balik kamar mandi, sampai akhirnya jam 3 pagi, ia baru bisa memejamkan matanya. Ikram tidur di sofa ruangannya. Pria itu, benar-benar tak berdaya, badannya sangat lemas.
...****************...
Keesokan paginya, Yuki baru saja selesai menulis menu hari ini di banner. Lalu gadis itu pun pamit untuk melakukan tugasnya bekerja di resto Ikram. Yuki senang karena pagi ini, pria itu tak mengajaknya terburu-buru. Saat gadis itu sampai di resto Ikram. Yuki langsung naik ke lantai atas, ia akan melanjutkan mengecat dinding ruangan Ikram yang tertunda kemarin. Namun, baru saja ia membuka pintu ruangannya, terlihat Ikram masih terlelap di sofa.
"Haish, jam segini masih tidur, tumben," gumamnya. Yuki pun berjalan ke arah Ikram hendak membangunkan pria itu. Namun, saat menyentuh lengannya, suhu tubuh Ikram terasa sangat panas, apalagi wajah pria itu juga terlihat sangat pucat.
"Hei, Masnya. Kamu sakit?" Yuki mencoba mengguncang pelan lengan pria itu, tetapi tak ada respon, sehingga Yuki pun sedikit panik. Akhirnya, ia mencari kunci mobil Ikram, hendak membawanya ke rumah sakit. Namun saat gadis itu sudah menemukan kunci mobilnya dan hendak ke bawah, tiba-tiba ia berpapasan dengan seseorang.
__ADS_1
"Vanya?"