
Ehsan mendapat kabar bahwa Fathan akan mengunjungi rumahnya hari ini. Ehsan dan Ayudia sudah menyuruh asisten rumah tangganya menyiapkan suguhan terbaik.
"Aku ingin ketemu putriku, Mas. Aku sudah tak dapat membendung lagi rasa rinduku padanya." Ayudia mengusap pipinya yang basah karena air mata yang terus luruh dari pelupuk matanya.
"Sabar, Sayang. Hari ini aku merasa akan ada kabar baik." Ehsan mengusap pipi istrinya dengan jari jempolnya.
Ayudia yang berada dalam dekapan suaminya pun mendongak lalu mengangguk. Tak berselang lama suara bel pintu berbunyi tanda seseorang datang. Ehsan menyuruh salah satu asisten rumah tangganya untuk membuka pintu.
Fathan datang sendirian, ia hanya diantar supir pribadinya seperti saat pria tua itu menemui Ikram di Bandung. Ehsan menyambut pria itu dengan ramah dan mempersilakan duduk di ruang tamu.
Ayudia mengikuti suaminya lalu menyalami Fathan dengan hormat. Mereka duduk bersama di ruang tamu dan dijamu dengan baik oleh Ehsan.
"Kedatanganku kemari untuk memberikan kabar baik ...." Fathan mulai berbicara dan menatap iba pada Ayudia yang terlihat lebih kurus dengan mata sembab.
"Apa itu tentang Vanya putriku?" Ayudia menyela ucapan Fathan dan anggukkan dari pria tua itu membuat Ayudia menerbitkan senyuman di bibirnya.
"Dia baik-baik saja dan terlihat lebih mandiri." Fathan tersenyum saat mengingat pertemuan dirinya dan calon cucu mantunya itu beberapa waktu lalu.
"Di mana putriku? Aku ingin bertemu dengannya." Ayudia bertanya dengan tak sabar.
"Tenanglah, Sayang," ucap Ehsan lembut.
"Aku ingin bertemu dengannya, Mas." Ehsan mengangguk, lalu membiarkan Fathan melanjutkan ucapannya.
Fathan tahu bahwa Ayudia memang sedang tidak baik-baik saja saat ini, tetapi Vanya juga berpesan agar orang tuanya tak menemuinya dahulu saat ini. "Vanya hanya berpesan bahwa dia baik-baik saja saat ini, jadi kalian tenang saja."
"Tolong beritahu kami di mana Vanya berada, Pak Fathan. Istriku selalu menangis setiap hari karena merindukannya," pinta Ehsan.
"Belum waktunya, Ehsan. Nanti aku akan memberitahu kalian." Fathan mengakhiri percakapannya.
Lalu pria tua itu pamit undur diri, tetapi ditahan oleh Ehsan. "Tunggu sebentar, Pak Fathan!"
__ADS_1
Fathan mengurungkan niatnya untuk beranjak dan kembali duduk. "Ada apa?"
Ehsan memberi isyarat agar Fathan menunggunya sebentar, lalu pria itu mengajak istrinya untuk masuk ke dalam. Tak berselang lama, Ehsan kembali sendirian.
Kini dua pria beda generasi itu pun duduk berhadapan. "Tolong beritahu aku di mana putriku? Apa tidak cukup keluarga kalian mempermalukan keluarga kami?" sinis Ehsan yang teringat kembali tentang pernikahan putrinya yang gagal.
Fathan terkekeh, pria tua itu tetap tenang mendapat sindiran dari Ehsan. "Aku akan memberitahumu dengan satu syarat?"
"Apa? Apa-apaan ini? Keluargaku yang menjadi korban dan Anda dengan seenaknya masih meminta syarat? Miris." Ehsan berdesis kesal.
"Aku hanya menyampaikan amanat dari putrimu, dia sendiri yang belum mau bertemu dengan kalian," ucap Fathan.
"Apa Anda buta? Istriku sakit memikirkan putrinya, dan Anda yang mengetahui keberadaannya hanya berkata belum ?"
di yg
Fathan tak tersinggung dengan ucapan pria yang seusia dengan putranya itu, ia tahu bagaimana keadaannya. "Hanya satu syarat saja, Ehsan. Aku akan memberitahumu."
"Restui Vanya dan Ikram."
"Apa? Gila!" bentak Ehsan. Persyaratan yang tak masuk akal, bagaimana bisa pria tua itu memberikan persyaratan tak masuk akal seperti ini.
"Ikram sangat cocok dengan Vanya, hanya Vanya yang bisa meluluhkan Ikram."
"Aku tidak akan memberikan putriku pada pria tak bertanggung jawab seperti cucu Anda," geram Ehsan.
"Pikirkan dahulu sebelum mengambil keputusan." Pria tua itu lalu beranjak dan pergi meninggalkan kediaman Ehsan.
Ehsan yang masih terpancing emosi berteriak sambil melayangkan tinjunya pada dinding. "Aaa!"
Ayudia masih terdiam di kamarnya di sofa yang berada dekat dengan jendela, wanita itu tak tahu apa yang dibicarakan oleh suaminya dan Fathan. Namun, wanita itu kini melihat mobil Fathan sudah keluar dari halaman rumahnya.
__ADS_1
Wanita itu tiba-tiba beranjak dan berlari ke lantai bawah untuk menemui suaminya.
"Mas! Mas Ehsan!" panggilnya. Namun, tak ada jawaban sampai Ayudia berada di ruang tamu, wanita itu melihat suaminya meninju dinding beberapa kali hingga tangannya terluka. "Mas Ehsan!" Ayudia langsung menarik tangan suaminya yang sudah berdarah. "Apa yang kamu lakukan?" Wanita itu kemudian memanggil asisten rumah tangganya untuk mengambil kotak P3K.
Wanita itu mengajak duduk suaminya untuk mengobati lukanya. "Kamu kenapa, Mas?" tanyanya lembut.
"Aku menyesal menyetujui perjodohan ini, Sayang. Putri kita ...." Ehsan mengusak kepalanya dengan gusar.
"Semua sudah terjadi, Mas. Lebih baik kita ikuti Pak Fathan, mungkin saja dia akan menemui Vanya, Mas." Ayudia memberi usul dan membuat Ehsan sadar.
"Kamu benar, Sayang. Ayo!" ajaknya sambil beranjak.
"Obati dulu lukamu, Mas. Nanti infeksi." Ayudia menahan tangan suaminya.
Ehsan pun pasrah dan membiarkan istrinya mengobati luka yang sengaja ia buat. Tak berselang lama, mereka pun selesai. Ehsan langsung mengambil dompet dan kunci mobilnya, sementara Ayudia sudah siap dengan tas tangannya.
Mereka pun bergegas pergi. Kali ini Ehsan sendiri yang akan mengemudikan mobilnya tanpa supir. Mobil Fathan sudah pergi jauh meninggalkan kediaman Ehsan, tetapi dengan keahliannya dalam mengemudi, Ehsan mampu menyusul mobil warna putih itu.
"Semoga dia benar-benar menemui Vanya, Sayang." Ehsan berkata sambil menggenggam erat tangan istrinya.
Feeling seorang ibu memang sangat kuat, karena ternyata hari ini Fathan memang berniat menemui Vanya. Pria tua itu akan memberitahu kalau pesannya sudah disampaikan dan ia juga ingin melihat perkembangan hubungan cucunya dengan Vanya seperti apa.
Supir Fathan sesekali melihat ke spion dalam, ia merasa kalau seseorang sedang mengikuti mereka. "Tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap pria berseragam hitam itu.
Fathan melihat sekilas ke belakang, lalu ia hanya berkata, "Biarkan saja."
Sang supir pun lalu mengemudikan mobilnya dengan tenang, walaupun dalam hatinya merasa was-was. Saat akan menuju kota Bandung, mobil Fathan berhenti sejenak di sebuah toko oleh-oleh, sang supir turun dan masuk ke sana.
Ehsan pun menepi, ia lalu keluar dengan menggunakan masker, pria itu juga berniat membeli beberapa makanan untuk istrinya. Fathan memperhatikan sosok Ehsan, pria tua itu lalu tersenyum. "Ini artinya kalian merestui cucuku."
Sang supir sudah kembali begitu juga dengan Ehsan. Pria itu kemudian melajukan mobilnya mengikuti mobil Fathan kembali. Saat mereka sudah berada di kawasan kota Bandung, Fathan tak langsung mengunjungi Vanya, tetapi pria itu mengunjungi Ikram di restonya.
__ADS_1
Ehsan akan ikut turun, tetapi ditahan oleh sang istri. Ayudia melihat seorang gadis yang sedang menulis daftar menu di banner di seberang resto Ikram. "Vanya?"