Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Minta Maaf


__ADS_3

Ikram mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu kecewa pada dirinya sendiri, setelah tahu kenyataannya. Ikram menyesal tak mengikuti saran ang kakek untuk menikah dengan Vanya. Setidaknya gadis itu tak pernah mengkhiatinya.


Tanpa sadar pria itu mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit di mana sang papi dirawat. Ikram bahkan dengan tega telah membuat papinya celaka. Semua persiapan untuk pernikahannya dengan Olive pun bahkan hampir rampung, tetapi kenyataan membuat pria itu menyesali semuanya. "Dasar cewek siyalan!" Ikram memukul stir mobilnya.


Setelah ia sampai di rumah sakit tujuannya, Ikram langsung menuju kamar sang papi. Ia akan meminta maaf atas semuanya. Ia berjanji akan menebus kesalahannya dengan cara apapun. Namun, saat Ikram sampai di kamar sang papi, seorang petugas terlihat sedang membersihkan ruangan itu.


"Lho, ke mana pasien di kamar ini?" tanyanya dengan tergesa.


"Pasien di kamar ini baru saja pulang, Pak." Pria berseragam serba putih itu menjawab dengan sopan.


Ikram pun tak menanggapi apa-apa lagi, pria itu langsung berbalik dan bergegas pergi dari sana. Kini Ikram akan menuju kediaman Pradana. Namun, baru saja ia akan menyalakan mobilnya, sebuah panggilan dari ponselnya berdering entah yang ke berapa kali, karena Ikram sengaja menyimpan ponselnya di mobil. Terlihat nama 'Calon Istri' tertera di layarnya. Alih-alih mengangkat panggilan telepon itu, Ikram malah langsung menonaktifkan ponselnya.


Pria itu kembali fokus mengemudi. Masa-masa indah bersama Olive terus menari-nari di otaknya, hingga ia seringkali berteriak dan memukul stirnya. "Aku menghargaimu, Olive. Tapi ternyata kamu serendah itu," geram Ikram mengeratkan pegangannya pada stir mobil hingga ruas-ruas tangannya memutih.


Saat lampu lalu lintas berubah merah, Ikram menghentikan mobilnya, tetapi bayangan saay dirinya bersama Olive kembali datang. Olive akan menggodanya dengan bergelayut manja pada lengannya. "Ah, Siyal!" Ikram pun menekan klakson mobilnya beberapa kali, hingga pengemudi kendaraan di depannya keluar dan mengetuk kaca mobil Ikram.


Hampir saja sebuah perkelahian terjadi, kalau saja lampu tak berubah menjadi hijau. Ikram dan pengemudi itu langsung masuk ke mobilnya lalu melajukan mobilnya kembali. Ikram ingin segera sampai ke rumahnya dan keluarganya. Ikram benar-benar sudah melakukan kesalahan yang besar.


"Maafin Ikram,pi, mi, kek, kakak."


Setelah melalui kemacetan ibu kota akhirnya Ikram sampai di kediaman Pradana. Pria itu memarkirkan mobilnya sembarang, lalu bergegas keluar untuk menemui keluarganya. Suasana rumah terdengar ramai saat Ikram membuka pintu.


Ikram berjalan cepat ke arah ruang keluarga. Saat pria itu sampai di sana tampak sang kakek, dan keluarga yang lainnya sedang berkumpul. Sang papi bahkan terlihat duduk bersama sang mami dengan senyuman bahagia terpancar dari wajahnya.


"Papi!"


Semua mata memandang ke arah pria yang memanggil papi barusan. Ada yang senang, ada yang menatap sinis ada pula uang menatap murka ke arah pria itu.


"Ikram! Akhirnya kamu pulang, Nak." Manda orang pertama yang menyambut kedatangan Ikram. Wanita itu sangat bahagia karena kedua jagoannya telah kembali.

__ADS_1


"Jangan dekati dia, Mi!" Tiba-tiba Hanan menarik tangan istrinya agar tetap berada di sampingnya.


"Tapi, Pi ...."


"Maafin Ikram, Pi." Pria itu kini berlutut di hadapan semua orang. Wajahnya terlihat sangat kacau begitu juga dengan penampilannya.


"Semua sudah terlambat," sinis Hanan.


"Pi ...."


"Untuk apa kamu kembali ke sini? Bukankah di luaran sana kamu bisa hidup senang, hah!" Kini Hanan mulai menaikan suaranya satu oktaf. Pria itu ingin sekali menghajar putranya, bagiamana tidak karena dirinya ia hampir meregang nyawa.


"Ikram minta maaf, Ikram sadar Ikram salah. Ikram akan menebus semua kesalahan Ikram dengan apapun, asal Papi maafin Ikram."


"Percuma semuanya sudah terlambat, Ikram!"


"Cukup, Hanan!" Fathan kali ini ikut berkomentar.


Kini Fathan yang menatap Ikram. Pria itu menarik satu ujung bibirnya ke atas. "Apa yang membuatmu kembali kemari, Anak Naka?"


"Kakek, Ikram salah, Ikram akan menuruti semua perintah Kakek. Ikram salah."


"Semua orang sudah tahu kalau kamu itu salah, Ikram. Bahkan kesalahanmu itu sangat besar. Apa kamu yakin akan mengikuti semua permintaan Kakek?"


"Ikram janji, Ikram akan menuruti semua keinginan Kakek."


"Ayah ...."


Namun, lagi-lagi Hanan ditahan oleh Fathan agar tak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah menemukan Vanya? Kamu sidah berjanji akan menemukan dia, kan?" tanya Fathan.


Ikram tampak berpikir, ia sebenarnya malu harus berkata apa, tetapi sejujurnya ia memang lupa dengan wajah Vanya. "Aku belum menemukannya, Kakek karena ... Ikram lupa wajah gadis itu."


"Anak siyalan! Kau bisa lupa pada wajah calon istrimu sendiri!" Hanan memijat pelipisnya.


"Sudah, Pi. Papi baru aja sembuh tolong jaga emosinya," ucap Manda lembut.


Fathan sendiri malah tergelak mendengar jawaban Ikram. Pantas saja padahal selama ini dia dekat dengan Vanya saat berada di Bandung. Ikram-Ikram.


"Temui keluarga Vanya dan minta maaf pada mereka. Kamu laki-laki jadi harus bertanggung jawab." Fathan mengakhiri ucapannya.


"Karena hari ini keluarga kita sudah berkumpul dengan lengkap, mari kita rayakan dengan makan bersama," imbuhnya.


Ikram masih di posisi yang sama. Pria itu belum mau berdiri sebelum sang papi memaafkannya. Manda membujuk suaminya agar mau menerima putra mereka kembali, tetapi sifat keras kepala pria itu masih saja sama. Akhirnya Manda pun menghampiri Ikram dan mengajak putranya untuk berdiri dan bergabung bersama yang lainnya. "Mami ...."


"Sudahlah, ayo berdiri! Biarkan papimu tenang dulu," ucap wanita paruh baya itu dengan lembut. "Mami bersyukur akhirnya kamu menyadari semuanya, Ikram. Berusahalah membujuk papi dan kakekmu, Nak!"


Ikram pun mengangguk lalu mengikuti sang mami ke ruang makan. Mereka akan makan bersama setelah sekian lama mereka semua disibukan dengan pencarian Ikram dan mengurus Hanan.


Saat makan pun, Hanan masih tak mau melihat putranya, padahal wajah dan sifat mereka sama persis. Keras kepala dan tak mau kalah adalah sifat keduanya. Di tengah makan mereka, Fathan tiba-tiba mengabarkan bahwa Vanya telah kembali.


"Ikram sepertinya kamu tak perlu repot-repot untuk mencari calon istrimu, karena dia telah kembali pada keluarganya." Pria tua itu berkata hingga sukses membuat Ikram tersedak. Tania sang kakak langsung memberikan air minum pada adiknya.


"Benarkah, Kakek?"


"Kamu jangan senang dulu, belum tentu gadis itu mau menerimamu, Ikram," sela Hanan pada putranya.


"Ikram akan berusaha untuk meminta maaf pada mereka, Pi. Ikram janji."

__ADS_1


"Halah, paling kamu kabur lagi dengan perempuan matre itu." Hanan tak yakin dengan ucapan putranya, ia terlanjur kecewa dengan putra bungsunya itu.


"Apapun akan Ikram lakukan untuk mendapatkan maaf kalian."


__ADS_2