Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Membuat Kenangan Manis


__ADS_3

Ikram terkejut saat mendengar penuturan pria tampan di hadapannya. Pria itu berkata kalau dirinya adalah tunangan dari Vanya. Rasa sesak mulai menyeruak di dadanya, tanpa sadar ia juga melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Vanya.


"Kenalkan aku Erlangga tunangan dari ...."


"Nisa?" Ikram kembali dikejutkan dengan kedatangan Nisa menuju ke meja Vanya juga.


"Eh, Kang ganteng di sini juga, udah janjian sama Teh Yuki ya?" ucap gadis berambut pendek itu tanpa mengetahui situasi sebenarnya.


Erlangga tersenyum saat melihat gadis polos di hadapannya. Suasana tegang pun kembali mencair walaupun masih ada raut kesal dari wajah Ikram.


Sementara Vanya masih memegang pergelangan tangannya yang memerah. "Mas Ikram ngapain ke sini sih?" Akhirnya gadis itu pun mengeluarkan suaranya setelah semuanya kembali duduk. Vanya duduk berdampingan dengan Ikram dan berhadapan dengan Erlangga juga Nisa.


Bersamaan itu pesanan mereka pun datang. "Mas Ikram mau pesan makan nggak? biar sekalian?" tanya Vanya.


"Samain saja sama kamu." Vanya pun mengangguk lalu memesan menu yang sama dengan dirinya pada pelayan resto yang membawa pesanan barusan.


"Kalian makan saja duluan," ucap Ikram. Namun, saat melihat ke arah tangan Vanya yang memerah pria itu kembali meraihnya.


"Maaf, ini pasti sakit," lirihnya.


"Udah nggak apa-apa, kok."


Erlangga melihat sikap Ikram, dia tahu kalau Ikram begitu menyayanginya. Ada ketulusan di netranya saat menatap ke arah Vanya. Karena dia juga seorang pria jadi dia tahu bagaimana sikap seorang pria yang tulus atau modus pada pasangannya.


"Jadi, kalian sudah pacaran berapa lama? Kenapa kamu nggak bilang ke aku kalau kamu berpaling dari aku, Vanya?" ucap Erlangga setelah berdehem sebelum mengucapkan kalimatnya. Namun, kalimat itu membuat Vanya tersedak dan akhirnya batuk.


Gila ih Bang Aga aktingnya keren banget, tapi aku mau ketawa.


Sudut hati Ikram kembali tercabik mendengar pertanyaan seperti itu. Apa dirinya benar-benar seorang perebut kekasih orang lain. Dulu saat ia berhubungan dengan Olive bahkan sudah membela gadis itu habis-habisan dan ternyata dia tunangan orang lain. Sekarang saat dirinya memperjuangkan Vanya, ternyata dia juga memiliki seorang tunangan.


Apakah ia akan kembali gagal menuju jenjang pernikahan?


"Makan, Mas. Makanannya nggak mungkin datang sendiri ke mulut Mas Ikram." Tiba-tiba Vanya menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Ikram.


Pria itu pun langsung membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari calon istrinya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun makan malam bersama. Tidak ada percakapan lagi setelahnya, sampai akhirnya saat mereka akan pulang. Ikram kembali menarik tubuh Vanya. "Biarkan dia gue yang antar." Kali ini Ikram bukan hanya menarik tangan Vanya, tetapi menarik pinggang gadis itu hingga tubuhnya merapat pada tubuh Ikram.


Erlangga tersenyum. "Baiklah kali ini silakan. Ayo, Nis!" ajak pria itu pada Nisa. Erlangga dan Nisa pun pergi lebih dulu meninggalkan resto.


Lalu Ikram pun membawa Vanya keluar mengikuti Erlangga tanpa melepaskan rangkulannya dari pinggang ramping Vanya.


Kini pasangan itu sudah berada dalam mobil Ikram. Pria itu bahkan memasangkan sabuk pengaman pada tubuh gadisnya. "Mas Ikram ...." Vanya terkejut saat pria itu menoleh ke arahnya dengan wajah mereka yang begitu dekat. Namun, pria itu tak berucap sepatah kata pun ia hanya menatap lekat wajah calon istrinya kemudian kembali duduk menghadap kemudi. "Kita akan pulang."


Hening menemani pasangan itu selama perjalanan pulang, hanya deru mobil saja yang mendominasi keadaan mereka. Namun, sebelum sampai ke rumah Vanya, Ikram menghentikan mobilnya di sebuah taman kota.


"Aku minta waktu sebentar saja boleh?" tanya pria itu sambil menghadap ke arah Vanya.


"Kenapa, Mas?" Vanya merasa ada yang tidak beres dengan pria di hadapannya.


Bukan menjawab, Ikram malah menarik tubuh Vanya lalu mendekapnya dengan erat. Hal itu tentu saja membuat Vanya sedikit takut.


"Mas ... Mas Ikram aku ...."


"Sebentar saja, biarkan aku seperti ini, Yuki."


"Apakah kamu akan membatalkan pernikahan kita, Yuki?" lirihnya.


"A-apa? Aduh Mas aku engap ...."


"Eh, maaf." Ikram pun langsung melonggarkan dekapannya, tetapi tidak melepaskannya.


Vanya pun akhirnya bisa bernafas dengan lega. "Tadi apa, Mas?"


"Apakah kamu akan menikah dengan tunangan kamu, Yuki?"


"Tunangan?" Vanya seketika bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ikram. Tunangannya bukannya dirinya kenapa Ikram bertanya seperti itu? Vanya benar-benar bingung.


"Bukannya tunangan aku, Mas Ikram ya? Apa Mas Ikram abi kepentok sehingga amnesia?"


Ikram terkekeh geli mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh gadisnya. Pria itu pun melepaskan dekapannya dan kini memegang kedua bahu gadisnya sambil menatap intens wajah cantik di depannya.

__ADS_1


"Terus Bang Aga itu siapa?"


Seketika Vanya pun memutar kembali ingatan saat di resto tadi. Akhirnya ia mengerti dengan maksud Ikram. Bang Aga mengaku bahwa dirinya adalah tunangannya. "Oh, dia ya. Kalau iya bagaimana?" goda Vanya yang mulai datang ide jahilnya.


"Kamu itu calon istri aku, Yuki Vanya Anindira. Bagaimana bisa kamu bertunangan dengan pria lain?" desak Ikram yang kini beralih menangkup kedua pipi Vanya.


"Lho, kamu yang maksa aku buat nikah sama kamu, Mas Ikram. Kamu lupa?"


"Aku serius, Yuki. Aku maksa kamu karena aku memang cinta sama kamu."


Vanya melepaskan diri dari Ikram dengan melepaskan kedua tangan pria itu. "Ngomongnya nggak usah kek gini deh nggak enak banget."


"Dulu aja kabur pas mau dinikahin ,sekarang ngejar-ngejar. Kalau dibikin novel aku kasih judul 'Dikejar Mantan Calon Suami'," tutur Vanya yang membuat Ikram tertawa.


"Iya aku nyesel, senyesel-nyeselnya pokoknya, Yuki."


"Udah ayo kita pulang ih, udah malam tahu, Mas."


"Iya, jawab dulu dong."


"Nanti di rumah pokoknya."


"Ya udah kita pulang nih, janji jawab di rumah ya," ucap Ikram yang mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Iya, bawel."


Ikram pun akhirnya melajukan mobilnya menuju kediaman Vanya. Tidak ada percakapan berarti selama perjalanan yang tidak lama itu karena taman kota itu memang dekat dengan rumah Vanya.


Saat sampai di kediaman Vanya. Ikram melihat mobil yang digunakan Erlangga audah terparkir rapi di sana. Perasaannya kembali kacau pemikiran tentang tunangan Vanya kembali membuat dadanya terasa sesak.


Namun, saat Vanya membuka sabuk pengamannya, dengan segera Ikram pun melakukan hal yang sama. Kemudian ia turun dan membukakan pintu untu Vanya. Kali ini Ikram benar-benar pasrah jika Erlangga akhirnya yang akan menjadi suami Vanya. Namun, ia ingin momen malam ini menjadi malam yang indah untuk dirinya.


Tanpa diduga Ikram tiba-tiba menarik tubuh Vanya dan mendekapnya lalu dengan cepat menyambar bibir ranum Vanya tanpa ampun, hingga membuat gadis itu hampir terjatuh jika tak ditahan oleh tangannya.


"Apa yang kalian lakukan!"

__ADS_1


__ADS_2