Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Sebuah Syarat


__ADS_3

Yuki tak habis pikir dengan tingkah pria yang kini duduk di sampingnya. Bagaimana bisa dia menuduh dirinya melakukan hal absurd seperti tadi dengan menumpahkan makanan ke bajunya sendiri. Namun, Yuki yang menjadi kambing hitamnya.


Saat ini, bahkan ia akan memberi syarat atas permintaan maaf Yuki yang sebenarnya tidak perlu gadis itu lakukan.


Ikram menatap Yuki dan menarik satu ujung bibirnya ke atas. "Syaratnya adalah ... kaku harus mendesain resto baru saya."


"Apa?" Yuki tentu tak terima dengan syarat itu. Bagaimanapun dirinya bukanlah seorang desain interior amatir, dan sekarang ia harus mendesain sebuah resto hanya karena kesalahan yang tak pernah ia lakukan.


"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Ikram tak acuh.


"Tentu saja, karena sebenarnya meminta maaf pun itu sudah cukup, karena memang aku tidak melakukan kesalahan." Yuki mengepalkan tangannya.


Namun, bersamaan itu Mak Aminah kembali dengan tergesa dan mendengar jelas penuturan anak gadisnya. "Neng Yuki," panggilnya.


"Mak ... syarat yang dia ajukan nggak masuk akal," bantah Yuki sambil merajuk ke ibu angkatnya.


"Memangnya apa syaratnya?" Wanita itu sepertinya hanya mendengar saat Yuki protes pada Ikram.


Ikram yang masih duduk di posisinya berbalik ke arah Mak Aminah dan mengungkapkan keinginannya. "Saya hanya ingin putri Mak Aminah mendesain resto baru saya, apa itu salah?" ucap Ikram yang memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan Mak juga, karena keinginan wanita itu.


"Oh, ternyata Nak ...." Mak Aminah tak melanjutkan ucapannya karena memang belum mengetahui siapa nama pria di hadapannya.


"Ikram, Mak."


"Oh iya, Nak Ikram punya resto juga? resto apa?"


"Restoran Korea, Mak. Tenang saja menu dan konsep kita jauh berbeda."


Mak Aminah hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali pada Yuki yang masih menahan amarahnya. "Ya udah Neng, bantuin aja, daripada warung kita kenapa-kenapa, ya?" bujuk wanita paruh baya itu.


Yuki menatap ibu angkatnya, wanita paruh baya itu mengangguk kecil. Akhirnya Yuki pun pasrah, bagaimana pun Mak Aminahlah yang telah menolong hidupnya saat berada di titik terendah.


"Oke, aku mau tapi nggak gratis, kan? Mendesain itu juga butuh seni dan kreatifitas dan semua itu mahal," ucap Yuki.

__ADS_1


Ikram terkekeh, tetapi setidaknya ia berhasil mendapatkan apa yang dia mau, Yuki dan desainnya. "Oke, deal!" Pria itu mengulurkan tangannya dan kali ini disambut oleh Yuki.


"Deal!"


Setelah urusan mereka selesai, Ikram pun pamit tetapi sebelumnya ia telah memberikan kartu namanya pada Yuki. Pria itu berkata bahwa nanti setelah urusannya selesai, ia akan kembali dan mengajak Yuki untuk oe restonya.


Pagi yang menyebalkan bagi Yuki, tetapi tidak bagi Mak Aminah. Gue bersumpah akan bikin lo hancur kaya gue Ikram Pradana.


***


Ikram menuju rumah Olive setelah mengganti bajunya yang kotor karena ulahnya sendiri. Pria itu memang selalu menyediakan baju gantinya di mobil. Dirasa sudah rapi kembali, Ikram pun langsung mengemudikan mobilnya menuju kediaman sang kekasih yang berada di ibu kota.


"Ikram lo emang hebat, apa yang lo mau pasti lo dapatin," gumamnya sambil menarik kedua ujung bibirnya ke atas, pria itu tersenyum. Perjalanan yang ia tempuh cukup memakan waktu yang lama, sampai akhirnya ia sampai di kediaman Olive.


Pria itu turun dari mobilnya, lalu memberikan kunci mobilnya pada satpam yang ada di sana. Lalu berjalan masuk ke rumah besar itu. Olive menyambutnya dengan wajah bahagia. "Ikram, kamu beneran datang." Gadis itu menghambur ke arah sang kekasih, kemudian mereka berpelukan.


Ikram bertanya mengenai keadaan Tante Astrid, maminya Olive yang katanya sakit. "Mami ada di dalam, ayo dia udah nungguin kamu dari tadi," ucap Olive sambil menggandeng tangan Ikram.


"Selamat siang, Tante," sapa Ikram sopan.


Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Ikram lalu tersenyum. "Siang, Ikram. Sini duduk!" Wanita itu menepuk sofa kosong di sampingnya. Ikram pun menghampiri wanita dengan baju warna hitam itu, lalu mencium punggung tangannya. "Tante sakit apa?" tanyanya.


"Ah, biasa cuma flu doang. Besok juga sembuh kok," jawab Astrid.


"Mami jangan nganggap enteng deh, flu juga harus diobatin, Mi." Olive yang kini duduk di samping Ikram ikut berbicara.


"Mami nggak apa-apa, Sayang."


"Tuh, lihat deh. Mami tuh kaya gitu padahal keliatan banget kan wajahnya aja pucat gitu, Kram." Olive mengadu pada sang kekasih tentang maminya.


Ikram hanya tersenyum, lalu kembali menatap calon mami mertuanya. "Tante harus minum obat, makan yang banyak dan istirahat juga biar cepet sembut."


"Iya, Tante akan lakuin itu. Oh iya Tante mau ...." Astrid menggantung kalimatnya, ia merasa ragu untuk mengungkapkan sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa, Tante?" Ikram mengerutkan ieningnya.


"Kamu kapan nikahin Olive?" Pertanyaan itu membuat Ikram terdiam sejenak, padahal ia sudah menduga apa yang akan ditanyakan wanita paruh baya di depannya itu, tetapi saat kalimat itu keluar tetap saja Ikram merasa speechless. "Ikram?" ulangnya.


"Secepatnya, Tante. Ikram masih ada satu lagi pekerjaan yang belum beres." Ikram menjawab dengan santai.


"Kalau ngurusin kerjaan terus, mana ada beresnya, Kram?" sela Astrid.


"Ini juga untuk Olive nantinya, Tantenya." Ikram menarik tangan kekasihnya dan menggenggamnya.


"Baiklah, Tante tunggu kabar baik itu, dan Tante harap kamu nggak ingkar janji." Wanita paruh baya itu mengakhiri percakapannya. Lalu pamit untuk beristirahat. Setelah Olive mengantar sang mami ke kamarnya, gadis itu kembali menemui kekasihnya yang saat ini sedang fokus pada ponselnya.


"Kamu lagi ngapain sih?" Olive duduk di samping prianya dan melihat ponsel milik Ikram.


"Aku lagi nungguin kabar dari desain interior aku, Sayang." Ikram menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih di tangannya.


"Memangnya restonya udah selesai dibangun?" Olive tak menyangka ternyata pengerjaannya cukup cepat.


"Sudah, Sayang. Makanya aku mau menyelesaikan urusan resto dulu, baru bikin rencana untuk pernikahan kita," ucap Ikram.


Olive tentu saja bahagia mendengar alasan kekasihnya itu, dan ia berharap bahwa semuanya akan cepat terjadi. Saat keduanya asyik berbincang, tiba-tiba ponsel Ikram berdering tanda panggilan masuk. Ikram pun izin untuk mengangkat teleponnya. Namun, saat pria itu akan beranjak, Olive menahannya agar menerima teleponnya di sini saja.


"Halo?"


"Ini aku Yuki, kayanya perjanjian kita batal deh, aku ada urusan." Ternyata Yuki yang menghubungi Ikram.


"Apa? Nggak bisa gitu dong kita udah deal," bantah Ikram.


"Akunya sibuk ada urusan lain," jawab Yuki santai.


"Kami jangan macam-macam Yuki!" geram Ikram, sepertinya ia lupa sedang berada dekat dengan sang kekasih.


"Siapa Yuki?"

__ADS_1


__ADS_2