
Ikram keluar dari mobil Vanya, pria itu masuk ke mobil sang kakek untuk pergi ke kediaman Ehsan. Walaupun pria itu terkena pukulan tongkat di kakinya dari sang kakek, tetapi ia bahagia karena akhirnya ia bisa mendapatkan Vanya dengan cara yang tak terduga.
"Apa yang sudah kau lakukan, Anak nakal?" tanya pria tua itu saat mobil mereka melaju mengikuti mobil Vanya.
"Ikram hanya melakukannya sekali saja, Kek," jawab pria tinggi itu dengan senyuman di bibirnya yang membuat sang kakek merasa jengkel.
"Kakek tak pernah mengajarimu untuk berbuat hal yang melanggar norma, Ikram."
"Ikram juga nggak sengaja, Kek."
Lagi-lagi pria tampan itu mendapat pukulan di kakinya.
Sementara itu di mobil lain. Ehsan mengutarakan rasa kecewanya pada sang putri.
"Papi kecewa, Vanya. Kenapa kamu bisa berbuat hal seperti itu? Kamu tahu itu dosa?" lirih Ehsan.
"Pi, dengerin Vanya. Vanya bersumpah tak melakukan apapun sama Mas Ikram. Vanya berani dihukum apapun, yang jelas Vanya nggak pernah berbuat hal sebodoh itu." Gadis itu berusaha membela dirinya sendiri. Namun, sepertinya Ehsan masih terbawa emosi.
Akhirnya, suasana hening pun menemani mereka hingga ke kediaman Pradipta. Vanya langsung turun tanpa menunggu dibukakan pintu. Gadis itu mengejar sang papi yang pergi meninggalkannya. Sementara itu, Ikram dan sang kakek pun turun dari mobil dan mengikuti mereka.
"Pi, dengerin Vanya. Papi!" teriak gadis itu saat Ehsan masuk ke kamarnya.
Tak berselang lama, pria paruh baya itu keluar bersama sang istri. Sepertinya, Ayudia sudah tertidur sebelumnya tetapi dibangunkan oleh Ehsan. Ikram dan Fathan sudah duduk di sofa ruang tamu. Kini Ehsan beserta istri dan putrinya pun menghampiri tamunya.
Suasana masih terasa tegang, Ehsan masih menampakkan wajah kecewanya. Ikram sesekali mencuri pandang ke arah Vanya yang menatapnya dengan sinis.
"Coba jelaskan! Apa yang telah terjadi, kapan kalian melakukannya?" Ehsan menahan amarahnya.
"Pi, Vanya ...."
"Diam!" Ehsan setengah membentak putrinya. Pria paruh baya itu ingin mendengar penjelasan Ikram.
"Kami sering bertemu selama di Bandung. Aku dan Yuki menjadi sangat dekat. Waktu itu ... Yuki sedang mendesain resto Ikram dan malam itu ...."
__ADS_1
"Malam itu?"
"Kami khilaf, Om."
"Bohong!" Vanya membantah dengan keras.
"Pantas kamu selalu ingin pergi ke Bandung dengan alasan membantu Mina?" Ehsan tertawa sinis.
"Demi Allah, Pi, Mi. Vanya nggak serendah itu. Vanya bersumpah nggak pernah melakukan apapun sama dia!" Kini gadis itu mulai menangis atas fitnahan yang dilontarkan Ikram.
"Lalu untuk apa Ikram bertanggung jawab kalau kamu tidak hamil, Vanya?"
"Papi!" Kini Ayudia menatap marah pada suaminya.
"Mi, demi Allah Vanya nggak ngelakuin itu, ini hanya akal-akalan dia biar bisa deket sama Vanya!" Gadis itu menunjuk ke arah Ikram yang tersenyum penuh kemenangan.
Fathan masih diam seribu bahasa, pria tua itu masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Ikram. Ia tahu betul cucunya tak sesembarangan itu untuk melakukan hal yang dilarang agama.
"Begini saja, bagaimana kalau kita mengadakan pertunangan terlebih dahulu untuk mereka?" Tiba-tiba Fathan memberikan usul.
"Belum cukupkah kamu menghancurkan hidup aku, Ikram?" Kini Vanya berbalik ke arah Ikram."
"Aku hanya ingin menikahimu, Vanya dan hidup bahagia selamanya," jawab Ikram lembut.
"Satu minggu lagi kalian akan bertunangan. Itu keputusan Kakek." Tiba-tiba Fathan menyela.
"Tapi Pak Fathan ... kita harus ...."
"Sudahlah, biarkan kami yang mengurus semuanya, lebih cepat lebih baik. Aku sudah semakin tua umurku mungkin tak lama lagi, aku hanya ingin melihat Ikram menikah dengan Vanya bukan yang lain." Pria tua itu berkata panjang lebar.
"Baiklah, karena hari sudah larut. kami pamit undur diri." Fathan pun beranjak dan mengajak cucunya untuk pulang.
Tidak ada bantahan dari Ehsan maupun Ayudia. Vanya sendiri akhirnya terdiam, gadis itu makin muak dengan Ikram. Pria yang selalu membuat hidupnya berantakan itu entah mengapa selalu diberi kesempatan untuk mendekatinya.
__ADS_1
Vanya pun berlari ke kamarnya bahkan panggilan sang papi tak ia hiraukan. Gadis itu mengunci dirinya di kamar. Ia melepaskan gaunnya dan melemparnya sembarangan. Kemudian mengganti bajunya dengan piyama tidur. "Aku harus pergi dari pertunangan siyalan ini. Aku akan membalas semuanya, Ikram."
Ketukan di pintu kamarnya tak ia hiraukan. Vanya terus membuat rencana untuk menggagalkan pertunangan yang tak diinginkannya itu.
Hingga akhirnya, gadis itu pun terlelap setelah waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Vanya bangun sekitar jam 7 pagi. Gadis itu langsung membersihkan dirinya. Ia melewatkan sarapannya begitu saja. Bahkan gadis itu mengunci dirinya di kamar seharian hingga membuat orang tuanya merasa khawatir.
Ponselnya ia nonaktifkan. Vanya melakukan hobinya seharian di kamar tanpa ingin diganggu siapapun. Ada rasa kecewa di hatinya saat sang papi tak mempercayainya.
Vanya terus mengurung dirinya di kamar selama berhari-hari, bahkan makanan yang disediakan sang mami pun tak ia sentuh sama sekali. Sampai akhirnya, Vanya tak sadarkan diri di meja kerjanya.
Ehsan sangat panik, pria paruh baya itu menggendong putrinya untuk dibawa ke rumah sakit. Ayudia juga ikut bersama suaminya. "Semua ini gara-gara, Papi. Kenapa Papi nggak percaya sama putri kita? Vanya nggak mungkin kaya gitu, Pi," cecar Ayudia sambil menangis.
"Maafkan papi, Sayang."
Tak berselang lama mereka pun sampai di rumah sakit. Vanya dibaringkan di belankar ruang IGD. Gadis itu ditangani oleh dokter.
Saat Ehsan dan Ayudia menunggu, terlihat seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja rapi sedang mendorong seorang wanita paruh baya di kursi roda. Sesekali wanita paruh baya itu menoleh ke setiap arah. Bahkan berpapasan dengan pandangan Ayudia.
"Pi, kenapa ibu tadi lihatin mami terus?" tanya Ayudia pada sang suami.
"Mami kenal?" Gelengan dari sang istri membuat Ehsan mengerutkan dahinya.
"Udah nggak apa-apa, mungkin beliau hanya melihat saja."
Ayudia pun mengangguk, bersamaan itu seorang petugas keluar dan memberitahukan bahwa keluarga dari Vanya harus segera mengurus administrasi terlebih dahulu karena Vanya akan rawat inap selama beberapa hari .
Ehsan pun langsung menuju tempat administrasi dan meminta ruangan VIP untuk sang putri.
"Vanya Anindira Pradipta, iya itu nama lengkapnya."
Pria yang mendorong kursi roda itu ternyata Jafin, ia mendengar jelas nama Vanya disebutkan. "Akhirnya aku menemukanmu. Vanya. Selamat datang kembali dan kamu harus membayar semuanya," gumam Jafin.
"Jangan harap bisa kabur lagi dari ku." Jafin tertawa puas saat mendengar nama wanita yang ia cari berada satu rumah sakit dengan sang ibu.
__ADS_1
"Ibu cepet sembuh ya, Bu."