
"Apa yang kalian lakukan!" Tiba-tiba suara bariton yang sejak tadi siang membuat Ikram merasa kacau menyapa mereka dengan keras.
"Mas Ikram!" Vanya mendorong dada Ikram dengan kuat saat sejak tadi penolakannya tak berhasil.
"Bang Aga? Ini nggak ...."
"Dia calon istriku. Ada masalah?" sinis Ikram.
Sementara Vanya terlihat salah tingkah dengan kejadian barusan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
"Ayo masuk jangan di luar ini sudah malam." Aga memberi perintah kemudian berlalu masuk.
Vanya menatap sinis ke arah Ikram yang saat ini masih berdiri di sampingnya. "Kamu ngapain sih?"
"Kenapa?" Ikram melirik ke arah gadis di sampingnya. Namun, Vanya langsung pergi meninggalkan pria jangkung itu sendiri. Setelah Vanya masuk, Ikram mengikutinya dari belakang.
Saat masuk, pria itu terkejut melihat kehadiran Mak Aminah yang duduk bersama calon mertuanya. Aga juga duduk bersama mereka bahkan terlihat begitu akrab.
"Nak Ikram ternyata ikut makan malam juga ya," sapa Ayudia menyambut calon menantunya.
"Sudah kenalan dong sama Erlangga, dia itu ...."
"Tunangan Vanya," sela Aga.
"Hus! Kamu itu abangnya, mana ada jadi tunangan," jawab Ayudia sambil menepuk bahu pria itu.
Ikram masih mencerna ucapan calon mami mertuanya itu, jadi Erlangga itu tunangan atau abang dari Vanya?Kalau abang bukannya Vanya itu anak tunggal?
"Nggak usah bingung gitu, Nak Ikram. Eralngga itu putra dari kakaknya Kang Ehsan." Kini Mak Aminah yang bersuara.
Mendengar itu semua, Ikram terlihat bernafas lega. Jadi, tidak ada lagi alasan bagi Vanya untuk membatalkan pernikahan mereka. "Apa kabar, Mak?" Ikram pun menyalami semua orang yang ada di sana lalu duduk di samping Vanya.
"Alhamdulillah, Nak Ikram. Akhirnya kalian mau nikah ya. Jodoh mah nggak ke mana ya," balas Mak Aminah.
Ikram tersenyum sambil melirik ke arah gadis di sampingnya. Percakapan mereka berlanjut pada rencana pernikahan antara Ikram dan Vanya. Sampai akhirnya Ikram pun pamit undur diri karena malam sudah semakin larut.
Selama perjalanan menuju kediaman Pradana, pria tampan itu tak berhenti menarik kedua ujung bibirnya. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia.
***
Tak terasa waktu terus berlalu, pernikahan Ikram dan Vanya tinggal menghitung hari. Jadwal hari ini adalah fitting baju pengantin. Ikram menjemput calon istrinya untuk mencoba baju pengantin yang sudah dipesan di Butik Klarisa.
__ADS_1
Kali ini Vanya sudah siap menunggu calon suaminya di ruang tamu. Gadis itu pasrah karena tidak mungkin lagi lari dari pernikahannya. Tak berselang lama Ikram pun sampai di sana. Pria itu menggunakan kaus putih lengan pendek dengan celana jeans hitam dengan topi hitam juga. Tubuhnya yang kekar terlihat jelas dibalik kaus ketatnya. Vanya sempat terpana, tetapi kemudian tersadar saat pria itu mengibaskan tangannya di depan wajah.
"Hei, ayo!" ajaknya.
"Eh, iya. Mi! Vanya pergi dulu, Mas Ikramnya udah datang." Gadis itu berteriak sambil menoleh ke belakang.
"Iya, Sayang!" balas Ayudia tanpa menampakkan dirinya.
"Maminya lagi ngapain emang?" tanya Ikram yang merasa heran dengan calon mami mertuanya yang tak menyambutnya.
"Lagi masak sama Mak. Udah ayo keburu siang. Panas banget tahu sekarang." Vanya berjalan lebih dulu keluar dari rumahnya.
Ikram pun mengikutinya dari belakang. Rasa bahagianya bertambah karena Vanya sudah tidak lagi bersikap dingin pada dirinya. Setelah keduanya masuk mobil, Ikram langsung mengemudikan kendaraan roda empatnya.
"Aku tahu aku ganteng." Tiba-tiba Ikram berucap saat mereka berhenti di lampu merah.
"Dih, apaan sih?" Vanya salah tingkah, mungkin Ikram menyadari saat dirinya sejak tadi terus memperhatikan. Vanya juga merasa kalau hari ini entah mengapa wajah suaminya itu begitu tampan. Apalagi dengan setelan santai seperti sekarang ini.
"Kamu dari tadi lihatin aku terus," goda Ikram sambil menoleh dan mendekatkan wajahnya ke arah Vanya.
Vanya tentu saja langsung beringsut mundur. "Nggak isah ge-er ya, aku nggak lihatin kamu juga, Mas." Gadis itu memalingkan wajahnya dengan jantung yang berdebar tak karuan. Siyalan kenapa ganteng banget coba hari ini.
Saat Ikram mengikis jarak di antara mereka, sahutan klakson kendaraan lain membuat pria itu akhirnya kembali duduk di depan kemudi dan melajukan mobilnya. Sementara itu, Vanya bisa bernafas dengan lega.
Tidak percakapan lagi sampai akhirnya mobil putih itu sampai di tempat tujuan. Ikram mendahului Vanya untuk membukakan sabuk pengamannya. Namun, sebelum pria itu keluar. Ikram mencuri ciuman Vanya di pipinya.
"Mas Ikram!" Vanya berteriak kesal, sementara Ikram sudah keluar terlebih dulu. Pria itu tentu saja tersenyum senang. Saat sampai di butik. Seperti biasa keduanya disambut oleh Nesa, lalu diajak ke ruangan lain untuk mencoba baju pengantin mereka. Fimi sebagai pemilik dan desainer baju pengantin Vanya langsung meminta Vanya untuk mencoba bajunya.
Sementara Ikram diurus oleh Nesa. Fimi melihat Vanya dengan gaun berwarna merah muda permintaan gadis itu. Desainnya sangat unik dan juga elegan.
"Sudah pas sepertinya ya?" tanya Fimi pada kliennya.
"Sudah sepertinya, Mbak. Enak banget di tubuh aku juga pas." Vanya memutar tubuhnya di depan cermin.
"Sip, kalau gitu besok aku bisa kirim langsung ke rumah ya. Lancar pernikahannya ya, langgeng terus sampai akhir hayat."
"Aamiin!" Tiba-tiba Ikram menyahut dari belakang. Pria itu juga menggunakan warna senada dengan calon istrinya.
"Ini Masnya gimana udah pas juga?" Fimi beralih pada pria jangkung di depannya.
"Sudah pas juga. Sepertinya tidak ada yabg perlu diperbaiki atau diubah lagi."
__ADS_1
"Alhamdulillah, lancar ya semuanya. Besok kami akan kirim ke alamat masing-masing. Terima kasih sudah mempercayakan semuanya pada butik kami."
"Sama-sama, Mbak Fimi. Oh iya ini undangan dari kami. Mbak datang ya." Vanya menyodorkan dua kartu undangan untuk Fimi dan Nesa.
"Makasih ya, insya Allah kami akan datang, iya kan, Nes."
"Iya dong."
Setelah semuanya deal, Vanya dan Ikram pun pamit undur diri.
Saat keduanya sudah duduk di dalam mobil. Ikram pun bertanya, "Ini masih pagi, mau jalan-jalan dulu nggak?"
"Boleh, ke mana?"
"Kamu mau belanja nggak? Ayo aku anter kamu mau beli apa aja boleh," tawar Ikram.
"Aku mau ... beli cemilan aja boleh?"
"Oke, ke mana?"
"Ke jajanan pinggir jalan deh suka enak-enak tuh," jawab Vanya yang terlihat berbinar.
"Kamu yakin, Sayang?" Ikram mengerutkan keningnya.
"Yakinlah, emang kenapa?"
"Nggak, ayo!" Ikram langsung melajukan mobilnya.
Perjalanan menuju tempat yang diinginkan Vanya pun hanya sekitar dua puluh menitan dari butik. Vanya turun dari mobil dan menuju sebuah penjual makanan pinggir jalan.
"Mas Ikram mau?" tanya Vanya saat memesan makanan dengan nama 'Batagor' itu.
"Boleh, tapi jangan pedes." Vanya pun mengangguk.
"Dua ya Bang, pedes satu nggak pedes satu." Vanya pun kemudian duduk di kursi kayu yang disediakan abang batagor itu.
Ikram melirik ke arah calon istrinya yang tentu saja menjadi pusat perhatian orang.
"Sayang, sini masuk mobil." Ikram memanggil Vanya. Namun, sepertinya gadis itu tak mendengarnya.
Akhirnya, Ikram pun turun dari mobil hendak menghampiri gadisnya. Namun, tiba-tiba seorang wanita memeluknya dari belakang. "Ah, Sayang ternyata kamu di sini."
__ADS_1