
Vanya baru saja selesai membersihkan dirinya, malam ini ia diajak sang papi untuk menghadiri sebuah acara di salah satu hotel bintang lima.
"Vanya bisa di rumah aja nggak sih, Pi? Apalagi mami udah pulang." Gadis itu merajuk pada sang papi yang memaksanya untuk ikut.
"Mami kamu baru saja pulang dari rumah sakit, nggak mungkin papi ngajak mami, Sayang." Ehsan menjawab lembut pada putrinya sambil mendekap sang istri yang saat ini duduk di sampingnya.
"Iya, Sayang temani papimu, jagain juga biar nggak ada yang deketin papi," ucap sang mami.
"Sayang," tegur Ehsan pada sang istri.
"Kamu memang setia, tapi kan kalau wanitanya agresif aku mana tahu."
Perdebatan keduanya membuat Vanya akhirnya mengalah dan siap menemani sang papi ke acaranya. "Baiklah Vanya akan ikut. Mami. Vanya akan jagain Papi."
Manda dan Ehsan pun saling pandang lalu mereka mengangguk bersama. Akhirnya, Vanya dan sang papi pun berangkat ke hotel yang dituju untuk memenuhi undangan salah satu kolega sang papi.
Vanya duduk berdampingan dengan sang papi di kursi penumpang. Sang supir sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Tidak banyak percakapan berarti antara anak dan ayah itu. Hanya sesekali Vanya bertanya apa yang harus gadis itu lakukan di sana.
Waktu yang mereka tempuh memakan waktu satu jam karena keramaian ibu kota tak pernah tergerus oleh waktu baik siang maupun malam kemacetan tetap menjadi ikon kota besar itu.
Vanya turun dari mobil saat sang supir membukakan pintu mobilnya setelah sang papi. Gadis itu terlihat begitu cantik dan anggun dengan gaun berwarna denim yang ia gunakan. Rambutnya ditata dengan rapi, polesan make up di wajah cantik gadis itu menambah kesan cantik alami yang paripurna.
Ehsan menyodorkan lengannya agar sang putri bergelayut manja di lengan kokohnya. Dengan senyum mengembang gadis itu pun berjalan anggun bersama sang papi dengan senyum yang tak lepas dari bibir cantiknya.
Pria paruh baya itu berjalan dengan penuh rasa bangga karena memiliki seorang putri yang sangat cantik, walaupun dibalik itu semua putrinya pernah mengalami gagal menikah. Namun, saat ini kebahagiaannya telah kembali walaupun luka itu masih tetap membekas di hatinya.
Sambutan dari beberapa tamu lain membuat Vanya semakin mengeratkan gandengannya pada lengan sang papi. Ini memang bukan pertama kalinya Vanya menemani Ehsan ke sebuah acara, tetapi kali ini ia kembali dengan status gadis yang pernah mencoreng nama baik keluarga karena gagal menikah.
"Ayo, Sayang kita duduk di sebelah sana!" tunjuk Ehsan setelah seorang petugas hotel menunjukkan tempat untuk mereka. Namun, baru saja beberapa langkah terdengar seseorang memanggil nama lain Vanya dari arah samping. "Yuki!"
__ADS_1
Vanya tentu saja sangat tahu siapa dia, suara seorang pria yang akhir-akhir ini selalu mengganggu kehidupannya. Gadis itu tak menoleh walaupun ia sempat menghentikan langkahnya sebentar, tetapi kemudian melanjutkan langkahnya.
"Ayo, Pi cepetan. Vanya haus," ucap gadis itu.
Ehsan sebenarnya tahu ada yang memanggil nama sang putri, tetapi saat melihat respon Vanya. Pria paruh baya itu pun menuruti keinginan sang putri. Ehsan dan Vanya akhirnya duduk di tempat yang telah disediakan. Vanya mengambil jus jeruk untuk menghilangkan rasa dahaganya.
Namun, baru saja gadis itu menyimpan kembali gelasnya, tiba-tiba seorang pria berjas denim datang menghampiri meja mereka. Vanya sempat terpaku saat melihat gaun dirinya dengan pria di hadapannya yang entah mengapa warnanya begitu serasi.
"Malam, Om, Yuki ... maksudku Vanya," sapa pria yang tak lain adalah Ikram itu. Bersamaan itu di belakang Ikram datang pria tua berjas putih dengan tongkat di tangan kirinya.
"Malam, Ikram, Pak Fathan." Ehsan membalas sapaan Ikram dengan biasa saja.
"Ah, ternyata kalian juga datang. Bolehkah kami bergabung di sini?" Fathan bertanya dengan tertawa khas pria tua itu.
Vanya berdiri lalu menghampiri Fathan. "Ayo duduklah, Kek." Gadis itu menggandeng lengan Fathan untuk mengajaknya duduk tanpa menghiraukan Ikram yang ia lewati begitu saja.
Fathan dan Ehsan sibuk berbicara masalah bisnis mereka, sementara Vanya masih terlihat diam, walaupun Ikram terus mengajaknya berbicara tetapi Vanya hanya menjawabnya dengan anggukkan dan gelengan saja.
Sesekali Ikram menatap Vanya dengan satu ujung bibirnya ditarik ke atas. Gadis di sampingnya begitu cantik dan kenapa dulu dirinya tak melihat itu semua.
Malam pun semakin larut acara sudah dimulai sejak Ikram dan Fathan bergabung beberapa saat lalu. Acara ini hanya dimengerti oleh Ehsan dan Fathan. Vanya dan Ikram hanya mengantar saja. Rasa bosan mulai menyergap Vanya hingga akhirnya ia berencana untuk keluar sebentar mencari angin.
"Pi, Vanya keluar sebentar ya. Bosen di sini," bisik gadis itu pada sang papi.
"Baiklah, Sayang hati-hati ya." Ehsan mengusap pucuk kepala putrinya.
"Biar Ikram temani, Om. Vanya aman sama Ikram." Tiba-tiba pria bertubuh tinggi itu menyela interaksi antara ayah dan anak.
Ehsan sepertinya memang sedang serius membahas sesuatu dengan para koleganya begitu juga dengan Fathan, sehingga tanpa berpikir panjang pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan menitipkan putrinya pada Ikram.
__ADS_1
Vanya yang sempat protes, akhirnya menurut dan pergi keluar meninggalkan ruangan tempat acara itu. Ikram dengan setia mengikuti Vanya dari belakang. Gadis itu sesekali menghentakkan kakinya karena kesal.
"Udah deh, nggak usah ikutin aku!"
"Aku cuma mau jalanin tugas dari papi kamu aja, Yuki." Ikram menjawab dengan lembut, pria itu sepertinya sudah nyaman memanggil Vanya dengan sebutan Yuki.
Vanya pun sampai di sebuah balkon ruangan tadi yang memang berada di lantai atas. Gadis itu berdiri di tepi pagar balkon sambil melihat pemandangan ibu kota yang gemerlap dengan dunia malamnya. Ikram pun berdiri di sampingnya dan menatap sama ke arah yang Vanya lihat.
"Apakah kita sudah sehati? Bahkan warna pakaian yang kita gunakan pun sama," ucap Ikram tanpa mengalihkan pandangannya pada Vanya.
"Nggak usah lebay, paling kebetulan."
"Atau jangan-jangan kita memang berjodoh., Yuki,"sela Ikram tak mau kalah.
"Kalau emang jodoh, kamu nggak akan kabur dari pernikahan kita dulu ya, Masnya. Udah deh jangan ngarep banyak aku juga udah punya pacar," sindir Vanya yang entah kenapa kalimat terakhir yang ia ucapkan malah membuat dirinya menyesal.
"Siapa? Kapan kalian pacaran?" Ikram kini berbalik ke arah Vanya yang sedang menatapnya.
Vanya tersenyum miring. "Harus banget ya aku laporin semuanya ke kamu? Nggak penting banget."
Ikram menatap ke arah Vanya dengan intens kemudian pria itu terus melangkah mendekati Vanya hingga Vanya memundurkan langkahnya. Rasa takut mulai menyergap gadis itu saat melihat ekspresi wajah Ikram yang tak seperti biasanya.
"Mas Ikram?"
Bersambung..
Happy reading guys
Makasih buat kalian yang masih setia nungguin Babang Ikram. Maaf bukan aku nggak mau up tiap hari, saat ini dunia RL aku lagi sibuk banget jadi aku nulis kalau waktu luang aja. Tenang aja aku pasti lanjutin cerita ini sampai tamat kok walau mungkin upnya nggak tiap hari. Love sekebon pokonya buat kalian yang selalu komen dan gerakin jempolnya, timamakasih.
__ADS_1