
Hari ini adalah hari pertunangan Ikram dan Vanya. kedua keluarga besar itu mengadakan acara di sebuah hotel bintang lima. Karena hanya dua keluarga itu saja yang menghadiri. Ehsan tidak ingin pertunangan itu dihadiri oleh orang lain. Rasa traumanya masih ada saat kegagalan pernikahan putrinya waktu itu.
Semua tamu seolah menertawakan kegagalan itu dan Ehsan tak ingin hal itu terulang kembali. Hotel Brata adalah hotel yang pilih Fathan untuk acara itu. Pemiliknya adalah salah satu koleganya.
Vanya sudah menaiki mobil bersama orang tuanya. Mereka akan menuju hotel Brata. "Vanya beneran harus tunangan malam ini, Mi?"
Ayudia mengusap lengan Vanya yang duduk di sampingnya. "Iya, Sayang. Mami harap ini yang terbaik untuk kita semua."
"Mak Aminah nggak dikasih tahu ya, Vanya kangen sama dia, Mi." Gadis itu kini memeluk tubuh sang mami.
"Nanti, kita akan memberitahu beliau. Sekarang kamu berdoa semoga malam ini acara pertunangan kamu lancar."
Kini perjalanan menuju Hotel Brata pun hanya ditemani senyap. Vanya tak lagi mengeluarkan suaranya begitu pun dengan kedua orang tuanya. Tak berselang lama mereka sampai di sana. Vanya turun dengan gaun nila yang sangat pas membalut tubuhnya, gadis itu terlihat begitu cantik malam ini. Tatanan rambutnya juga ditata dengan sangat rapi dan bagus.
Ehsan menggandeng kedua wanita kesayangannya. Pria paruh baya itu menggiring keduanya untuk masuk ke tempat acara. Sebuah sambutan merek terima dari Hanan dan Manda.
Ikram bahkan ikut menyambut kedatangan calon mertuanya itu. Bahkan Ikram terpana saat melihat ke arah Vanya yang begitu cantik.
Kemudian mereka pun menempati kursi yang telah disediakan di sana. Suasana malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Ikram dan Vanya duduk bersebrangan diapit oleh orang tua mereka masing-masing. Sementara sang kakek duduk terpisah di kursi tunggal.
"Baiklah, malam ini adalah malam yang sangat berarti bagi kami. Aku harap Ikram pertunangan antara Ikram dan Vanya bisa berlanjut ke jenjang pernikahan," ucap Fathan memulai acara.
"Mungkin malam ini sengaja kita tak mengundang siapapun selain keluarga inti untuk kelancaran acara ini."
Vanya menundukkan kepalanya saat melihat ke arah Ikram yang terus saja menatapnya. Ish lama banget dah ah.
Setelah melalu beberapa acara pembukaan dan juga petuah dari masing-masing keluarga, saatnya untuk bertukar cincin antara Ikram dan Vanya.
__ADS_1
Pasangan itu berdiri di tengah ruangan privat itu. Ikram menggenggam tangan Vanya, pandangannya begitu dalam pada gadis di hadapannya. "Aku bahagia karena bisa bertunangan denganmu, Vanya Anindira. Semoga ikatan ini bisa membuatmu menerimaku dan juga memaafkanku." Ikram berucap sebelum menyatkan cincin berlian di jari manis gadis itu.
Tidak ada jawaban apapun dari Vanya, gadis itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, sampai akhirnya Manda mendekat dan memberikan kotak cincin pada Ikram. Ikram pun mengambil cincin bertahtakan berlian dengan desain unik dan bersiap untuk menyematkan pada jari manis Vanya.
"Tunggu sebentar!" Tiba-tiba suara seorang pria berdiri di depan pintu. Pria tinggi dengan kemeja rapi yang menjadi ciri khasnya datang bersama seorang wanita bertubuh berisi dengan syal bulu di lehernya.
"Vanya, Sayang. Akhirnya Mamih menemukanmu. Ayo kita kembali ke rumah. Sudah banyak pelanggan yang menunggumu, Sayang!" Wanita itu langsung berkata sambil melangkah mendekati pasangan itu.
Vanya terlihat pucat pasi melihat wanita itu. Wanita yang dulu membelinya dari Jafin, pria brengsek berkedok malaikat yang berpura-pura menolongnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Siapa kalian?" Fathan dan Ehsan menghadang keduanya sementara Jafin tersenyum miring, tetapi saat melihat pria yang akan bertunangan dengan Vanya adalah bosnya, nyalinya sedikit ciut. Namun, dendamnya pada Vanya lebih besar sehingga ia pun tak mempedulikan itu.
"Kenapa mereka bisa masuk?" Hanan ikut berbicara dan mulai menghubungi manajer hotel.
"Tenang saja, aku hanya ingin mengajak Vanya kembali ke rumah bordil milikku. Karena dia aku bisa mendapatkan uang puluhan juta," ucap wanita yang menyebut dirinya dengan Mamih itu. Wajahnya begitu menyebalkan dengan gaya genitnya.
"Sebentar, kamu ... pria yang bertemu di rumah sakit waktu itu, kan?" tanya Ehsan saat melihat ke arah Jafin.
"Iya, Om."
"Ayo, ikut Mamih, Vanya!" Wanita itu hendak menarik tubuh Vanya, tetapi dengan sigap Ehsan menghadangnya. Ikram bahkan melindungi Vanya agar berdiri di belakangnya.
"Jangan sentuh putriku!" bentak Ehsan.
"Ah, dia bahkan dulu yang mengemis meminta pekerjaan padaku, lalu kabur setelah mendapatkan uang banyak," ucap Mamih bohong.
Vanya mengepalkan tangannya erat, ia difitnah. Bukan seperti itu kejadiannya. Namun, bibirnya masih terasa kelu untuk mengeluarkan bahkan sepatah kata.
__ADS_1
Ayudia dan Manda saling tatap, lalu Ayudia menghampiri putrinya. Ia ingin memastikan kalau semuanya itu tidak benar, tetapi tidak ada bantahan dari Vanya. Gadis itu hanya bergeming, bayangan tentang malam itu membuatnya sangat ketakutan, ia bahkan tak peduli dengan nyawanya saat melompat dari lantai dua rumah bordil itu.
Namun, saat keributan itu berlangsung tiba-tiba seorang sekuriti dan manajer hotel pun datang bahkan pemilik hotel juga ada di sana, Davian Bratasukma.
"Ada apa ini?" tanya pria tampan itu pada Fathan.
"Acara kami dihancurkan oleh mereka, kenapa mereka bisa masuk begitu saja padahal kami memesan ruang privat untuk acara ini?"
Davian dan manajer itu meminta maaf atas insiden kali ini, sekuriti pun langsung menggiring Jafin dan Mamih keluar dengan paksa walau wanita itu terus berteriak memanggil Vanya.
"Kami akan mengganti semua kerugian yang Anda alami, Pak Fathan. Maafkan kami." Davian membungkuk dan menyalami Fathan.
Setelah suasana kembali aman. Kini semua mata tertuju ke arah Vanya yang masih bergeming di tempatnya.
"Apa yang telah kamu lakukan selama kamu pergi dari rumah, Vanya? Apa kamu menjual diri untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu?" Ehsan terbawa emosi saat melihat putrinya.
"Mas!" Ayudia memeluk tubuh putrinya.
"Vanya bilang ke mami kalau kamu nggak seperti apa yang dituduhkan mereka, Nak?"
"Vanya benci hidup seperti ini, nggak ada yang ngerti keadaan Vanya." Gadis itu kini mulai menahan sesak di dadanya.
Fathan, Hanan dan Manda masih membisu. Mereka tak mengira kalau Vanya bisa melakukan hal serendah itu. Sementara Ikram masih berdiri di samping Vanya dengan tangan yang mengepal.
"Sekarang apa Mas Ikram masih mau bertunangan sama Vanya?"Gadis itu kini berbalik ke arah pria di sampingnya.
Ikram tak menjawab, tetapi pria itu langsung menarik tangan Vanya dan menyematkan cincin berlian itu di jari manis Vanya. "Jangan pernah lari dari aku, Vanya Anindira," bisik Ikram.
__ADS_1
"Ikram!"