Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Sepupu


__ADS_3

Mak Aminah sudah sampai ke ibu kota, wanita paruh baya itu mendapat kabar bahwa anak angkatnya akan menikah dalam waktu dekat. Untuk sementara warung makannya ia tutup, Nisa juga ia ajak.


Kedua wanita beda usia itu sudah sampai di pelataran rumah besar milik keluarga Vanya.


"Jadi, Teh Yuki beneran orang kaya ya, Mak?" ucap gadis berambut pendek itu sambil melihat kemegahan rumah milik Vanya.


"Hm, seperti yang sudah emak ceritain pokoknya. Ayo!" ajak wanita paruh baya itu.


Mereka disambut dengan baik oleh keluarga Pradipta. Ehsan dan Ayudia terlihat senang dengan kedatangan kerabat mereka yang juga penyelamat bagi Vanya.


Sementara itu Vanya masih berada di kantor Ikram, jadi gadis itu belum mengetahui prihal kedatangan ibu angkatnya. Mak Aminah berbincang dengan Ayudia dan Ehsan mengenai rencana pernikahan antara Vanya dan Ikram.


"Tuh kan bener, saya udah punya rasa kalau nak Ikram itu emang suka sama neng Yuki. Orang tiap ke warung aja gangguin terus neng Yuki." Mak Aminah bercerita sambil mengingat saat Ikram terus mengganggu Yuki di warung makannya.


"Iya, walau sebenarnya saya masih agak ragu dengan dia, Mina." Ehsan mengutarakan kegundahan hatinya saat putri semata wayangnya harus menikah.


"Mina yakin, kalau nak Ikram tulus sama Neng Yuki. Orang waktu itu pernah bawa pacarnya ... eh sebentar nak Ikram kan punya pacar," ucap wanita paruh baya itu saat mengingat kejadian Vanya disebut pelakor oleh wanita tak dikenal.


"Benar begitu, Mina?" Ehsan kembali geram saat mendengar penuturan sepupunya itu.


"Tapi ... mungkin udah putus, Kang. Soalnya udah lama nggak liat mereka bareng-bareng," sela Mak Aminah.


Nisa yang duduk di samping Mak Aminah hanya menyimak obrolan para orang tua itu. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya suara salam terdengar dari arah depan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumussalam, Teh Yuki!" Nisa langsung beranjak dari duduknya dan berlari ke arah gadis yang sangat ia rindukan.


"Ni-Nisa? Kamu beneran Nisa, kan?" Vanya terkejut dengan kedatangan gadis berambut pendek itu.


"Iya, ih Teteh masa lupa sama Nisa." Gadis itu merajuk.


Vanya pun balas memeluk tubuh Nisa dan saay beralih ke arah sofa terlihat Mak Aminah tersenyum ke arahnya. Gadis itu kemudian melepaskan dekapannya pada Nisa lalu berlari menuju ke arah Mak Aminah.


"Mak! Ih aku kangen." Vanya mendekap erat tubuh Mak Aminah yang duduk di sofa. Gadis itu bahkan menubruk tubuh Mak Aminah.

__ADS_1


"Neng Yuki sombong eh ternyata mau nikah," ucap wanita paruh baya itu.


"Akunya sibuk, Mak dan ... ah sudahlah yang penting Mak ada di sini sekarang."


Percakapan mereka terputus saat Ehsan bertanya mengenai hal yang sejak awal diceritakan Mak Aminah. "Vanya, jadi Ikram sebenarnya sudah punya kekasih?"


Gadis itu menoleh ke arah sang papi. "Masa papi lupa, dia kabur juga kan bareng kekasihnya, kenapa baru nanyain sih, Pi?"


"Terus maksudnya sekarang dia menikahi kamu tapi dia masih punya pacar? Papi nggak akan setuju."


"Yang nyuruh nikah cepet-cepet sama dia siapa? Vanya udah bilang Vanya nggak mau dan nggak ngelakuin hal terlarang sama dia, tapi Papi kekeh, kan?"


Ehsan terdiam, pria paruh baya itu memegang pangkal hidungnya. Namun, sang istri tiba-tiba mendekatinya dan mengusap bahunya. "Mami sudah pernah berbicara sama Nak Ikram, kalau dia sudah tak berhubungan dengan kekasihnya. Papi tahu kenapa?"


Ehsan memandang wajah istrinya, lalu menggelengkan kepala.


"Ternyata kekasihnya sudah mengandung benih tunangannya."


Semua orang yang ada di sana terperanjat termasuk Vanya. "Yah keduluan tenyata," celetuk Nisa.


"Hus!" Mak Aminah menepuk bahu gadis itu yang kalau berbicara seadanya.


Ayudia tersenyum ke arah putri semata wayangnya, wanita paruh baya itu melihat rasa cemburu di sudut matanya. "Mami yakin, nak Ikram bukan pria seperti itu."


Percakapan mereka mengenai Ikram dan kekasihnya terhenti saat suara seorang pria menyapa mereka. "Sore, Om, Tante," sapa seorang pria jangkung dengan wajah tampan.


Vanya melihat ke arah suara dan tersenyum lebar saat tahu siapa yang datang. "Bang Aga!" Gadis itu berlari dan masuk ke dalam dekapan pria itu.


"Katanya adek abang mau nikah ya? Katanya mau nungguin," ucap pria itu sambil mendekap erat tubuh Vanya.


Mak Aminah dan Nisa saling pandang.


Ya Allah kenapa cowok teh Yuki ganteng semua sih, sisain buat Nisa satu aja Ya Allah.


Pria itu adalah Erlangga putra dari kakaknya Ehsan. Pria itu biasa dipanggil Bang Aga oleh sepupunya termasuk Vanya. Keduanya memang sedekat itu, apalagi Vanya anak tunggal jadi dia merasa punya kakak laki-laki jika bersama dengan pria itu.

__ADS_1


Erlangga baru saja pulang dari luar negeri setelah mengurus beberapa pekerjaannya di sana.


Pria itu juga tidak mengetahui tentang pernikahan Vanya yang gagal saat itu. Kalau hal itu diketahui Erlangga orang pertama yang akan membantu Vanya. Namun, saat itu dirinya sedang berada di luar negeri dan entah mengapa sulit sekali dihubungi.


Malam pun mulai beranjak. Kediaman Ehsan ramai dengan kehadiran Mak Aminah dan Nisa juga Erlangga. Malam ini, mereka berencana akan makan malam di luar. Namun, sepertinya yang akan pergi hanya Vanya, Nisa dan Erlangga saja karena orang tua mereka hanya ingin di rumah dan beristirahat.


Erlangga mengajak kedua gadis itu pergi makan malam di salah resto mewah yang ada di ibu kota. Mereka bertiga memilih duduk di dekat jendela kaca besar yang berhadapan langsung ke jalan raya, sehingga suasana malam di ibu kota bisa terlihat dengan jelas.


Setelah memesan makanan yang mereka suka, Nisa lebih tepatnya mengikuti Vanya karena gadis itu baru pertama kali masuk ke resto mewah seperti ini.


Saat sedang menunggu pesanan mereka datang, Nisa tiba-tiba berbisik, "Teh Yuki, Nisa mau ke toilet sebentar, sebelah mana?"


Vanya pun beranjak. "Ayo teteh anterin." Namun, Nisa menggeleng gadis itu hanya minta ditunjukkan saja jalannya. Setelah mengerti saat Vanya memberi petunjuk, Nisa pun pamit sebentar.


Kini hanya tinggal Vanya dan Erlangga yang ada di sana. Keduanya banyak bercerita tentang kisah mereka, walaupun Vanya menutupi saat dirinya diusir dari rumah. Namun, keakraban mereka telah mengusik seseorang yang berada dalam sebuah mobil. Hingga akhirnya seseorang itu memutuskan untuk masuk ke resto itu. Dia adalah Ikram yang baru aja pulang kerja.


"Yuki?" sapa pria jangkung itu saat melihat gadis itu duduk berdua dengan seorang pria yang tak dikenalnya.


Vanya menoleh ke arah Ikram, gadis itu biasa saja bahkan tak menampakkan wajah panik jika seseorang diketahui sedang berselingkuh.


"Mas Ik ...."


"Ayo pulang!" Ikram langsung menarik tangan Vanya agar ikut bersamanya.


"Eits, sabar, Bro." Erlangga menahan tangan Ikram.


"Dia calon istri gue, jadi lo nggak usah ikut campur!" Ikram berkata dengan geram.


"Mas Ikram sakit!" Vanya memekik saat genggaman tangan Ikram semakin erat.


"Kita pulang, Vanya." Ikram kembali menarik tangan gadisnya agar ikut bersamanya.


"Nggak ada satu orang pun yang bisa bawa Vanya dari sini!"


"Bang Aga ...."

__ADS_1


"Bang Aga? Siapa dia?"


"Aku tunangannya."


__ADS_2