Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Terlantar


__ADS_3

Vanya melangkah mundur saat pria dengan perut buncit itu terus mendekatinya. "Jangan!"


Entah kenapa semesta pun seolah berpihak pada mereka. Suasana begitu sepi, bahakan saat Vanya berteriak pun tak ada seorang pun yang mendengarnya. Sepertinya bukan tidak mendengar, tetapi ada sebagian orang yang tak peduli dengan urusan orang lain.


"Kami hanya menginginkan uang, Nona. Jadi, bekerja samalah, berikan uangmu!" desis pria itu.


Vanya yang semakin terpojok, akhirnya menyerahkan uang yang ada di saku celananya. Jumlahnya cukup banyak. Setelah itu, ketiga pria itu pun pergi meninggalkan Vanya yang kini terduduk di trotoar jalan.


"Kenapa papi begitu tega membuat aku kaya gini," isak gadis yang tampak berantakan itu.


Sekitar tiga puluh menit, gadis itu masih terdiam di jalanan, semua barang miliknya sudah raib begitu saja oleh ketiga pria jahat itu. Fisiknya memang tidak terluka sedikit pun, tetapi psikisnya mulai merasa tak aman berada di luaran seperti ini.


Ternyata orang jahat itu, memang ada. Vanya kini mengusap pipinya yang basah, lalu beranjak dari duduknya dan mulai berjalan menuju hotelnya. Wanita itu, akan pergi dari sana esok hari. Untung saja, biaya sewa hotel sudah dibayar lunas di awal waktu. Sayangnya Vanya hanya menyewa kamar hotel untuk tiga hari saja,  dan besok ia harus sudah cek out dari sana.


Setidaknya malam ini, Vanya masih bisa tidur dengan nyenyak. "Aku harap semoga besok menjadi hari terbaik setelah hari buruk ini." Vanya mulai memejamkan matanya yang lelah.


**


Keesokan harinya, Vanya sudah bangun pagi sekali, perutnya begitu lapar, setelah membersihkan tubuhnya, gadis yang sudah memakai seater hitam itu pun langsung mengemas barangnya yang tersisa.


Vanya turun ke bawah sambil menarik kopernya. Gadis itu menuju ke lantai bawah untuk sarapan terlebih dahulu. Ia harus makan banyak agar bisa menghadapi hari ini, apalagi uang di saku celananya hanya tinggal lima ratus ribu. Vanya menyembunyikan sebagian uangnya saat para perampok itu mengambil uangnya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, gadis itu pun memberikan kunci kamar ke resepsionis dan langsung meninggalkan hotel. Vanya tidak punya tujuan ke mana ia akan pergi, mau pergi mengunjungi sahabatnya, tetapi gadis itu tak yakin diterima setelah kegagalan pernikahan waktu itu.

__ADS_1


"Haish, aku harus ke mana coba? Nggak mungkin aku pulang, papi pasti akan lebih lagi menyudutkan aku." Gadis itu terus menyeret kopernya berjalan di atas trotoar.


"Ayolah, kaki ajak aku ke tempat yang nyaman!" Gadis itu terus bergumam sambil mengikuti langkahnya.


Hingga akhirnya Vanya sampai di sebuah taman kota, entah kenapa gadis itu selalu tertarik dengan yang namanya taman. Akhirnya, ia pun berjalan masuk ke taman dan duduk di bawah pohon yang rindang.


Hari sudah menjelang siang dan Vanya masih duduk di taman, tanpa melakukan sesuatu. Gadis yang memakai sweater itu hanya melihat sekeliling taman.


"Ah, sudah ku putuskan aku akan menginap di sini." Vanya menganggukkan kepalanya.


Vanya pun mulai membenahi tempatnya duduk, ia berpikir mungkin jika dibawah pohon setidaknya jika hujan turun, ia masih bisa berteduh. "Untung baju-bajuku masih aman, coba kalau ilang, ah ... amit-amit."


Setelah memutuskan untuk tinggal di taman itu, kini perutnya yang berontak minta diisi. "Mari kita makan." Vanya mengelus perutnya yang sudah keroncongan.


Vanya pun pergi meninggalkan taman itu dan mencari makan siang. Karena belum terbiasa dengan makanan yang biasa saja, gadis itu tetap pergi ke restoran untuk makan siang. Dengan uang yang hanya lima ratus ribu rupiah itu, Vanya bisa makan siang dengan menghabiskan hampir dua ratus ribu rupiah.


"Perut sudah kenyang dan sekarang kita kembali ke taman untuk mengganti baju," gumamnya.


Dengan berjalan kaki, gadis itu menuju taman, bahkan sesekali mulutnya bersenandung. Namun, saat dirinya sampai di tempat semula. Satu-satunya barang yang ia punya sudah raib dari sana. Awalnya gadis itu bersikap biasa, mungkin ia menyimpan di tempat yang salah, tetapi setelah ia menyusuri tempat itu, benda yang ia cari tak kunjung ia temukan.


"Ya Allah, apa lagi ini?" Vanya mulai frustrasi dengan keadaan ini. Tidak mau menyerah begitu saja, ia pun mulai bertanya pada setiap orang yang ia temui di taman itu. Namun, hasilnya nihil, taka ada satu pun dari mereka yang menemukannya.


Setelah seharian mencari kopernya, Vanya akhirnya pasrah saat barang terakhirnya itu juga hilang. "Siyal!" Vanya memekik sambil menjambak rambutnya sendiri. Karena lelah, akhirnya gadis itu pun terlelap di kursi taman.

__ADS_1


Hari telah berubah menjadi gelap, saat Vanya terbangun dari tidurnya. "Mi, kok nggak bangunin Vanya sih!" teriak gadis itu sambil mengucek matanya. Namun, saat ia telah benar-benar membuka matanya, ia terkejut saat suasana benar-benar gelap dan ia tak tahu sedang ada di mana.


"Di mana aku?" gumamnya sambil terus melirik ke kiri dan kanan. Vanya hampir saja berteriak, saat akhirnya ia sadar sedang berada di mana. "Ah, aku merindukanmu mami," lirihnya.


Bersamaan itu, seorang petugas keamanan datang menghampirinya. "Sedang apa Anda di sini, Nona?" tanyanya sambil menyorotkan lampu senter ke arah wajah gadis itu.


Vanya tahu bahwa taman kota tidak boleh digunakan untuk tidur para tunawisma seperti dirinya saat ini. "Ah, aku sedang menunggu temanku, Pak. Kami akan pergi setelah bertemu di sini," jawab Vanya.


"Oh, cepat hubungi temanmu, hari sudah malam."


"Baik, Pak. Terima kasih." Vanya menganggukkan kepalanya, dan dibalas hal sama oleh petugas itu. Kemudian pria berseragam biru dongker itu pun langsung pergi meninggalkan Vanya untuk patroli ke bagian lain taman.


Vanya menghela nafasnya lega, saat petugas taman itu telah pergi. "Aku bersumpah akan membalas semuanya, Ikram Pradana!" geram Vanya sambil mengepalkan tangannya.


Malam semakin larut dan suasana taman pun mulai sepi, Vanya mengusap kedua lengannya karena kedinginan, tidak ada benda yang bisa digunakan untuk menghangatkan tubuhnya. Vanya benar-benar bersembunyi di bawah pohon agar tak terlihat petugas keamanan.


Malam ini, status seorang Vanya Pradipta telah berubah menjadi seorang tunawisma, gadis manja yang kaya raya kini hidup terlunta-lunta di jalanan. Semalaman ini, Vanya terus terisak karena meratapi hidupnya saat ini. "Aku benci keadaan ini, aku benci kalian semua!"


"Ada orangkah di sebelah sana?" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki dengan menyorotkan lampu senter di belakang pohon yang didiami oleh Vanya. Gadis itu, membekap mulutnya sendiri ran menahan nafasnya agar tak terdengar oleh petugas taman.


"Ah, sepertinya aku ngantuk, hingga mendengar suara-suara aneh," ucap petugas taman itu, lalu pergi meninggalkan tempat di mana Vanya bersembunyi.


Langkah kakinya sudah terdengar menjauh, sehingga Vanya bisa bernafas dengan lega. Gelap kini kembali menemani gadis yang sedang putus asa itu.

__ADS_1


__ADS_2