
Keadaan ibu Jafin kembali kritis dan pihak rumah sakit pun menghubungi pria itu agar kembali ke rumah sakit. Jafin akan langsung ke sana setelah mendapat kabar mengenai ibunya.
Ternyata di tempat lain juga, dua orang wanita berbeda usia sedang menunggu dengan cemas proses operasi seorang pria tangguh kesayangan mereka. Ana dan sang ibu keduanya terlihat mondar-mandir di depan ruangan operasi yang masih tertutup rapat.
"Apa bapak akan baik-baik saja, Bu?" tanya Ana yang saat ini keduanya sudah mulai duduk kembali.
"Kita berdoa yang terbaik saja untuk bapak, An." Wanita paruh baya itu kini mulai menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Perasaannya sudah tak karuan sejak suaminya masuk ke ruang operasi, kondisi pria yang sangat dicintainya itu sudah tak berdaya.
Aku selalu bersyukur hidup denganmu, Pak. Aku akan tetap kuat jika kamu memang ....
Pikiran Bu Ayu, ibu dari Ana tiba-tiba buyar saat anak gadisnya kembali menarik tangannya dan memberi tahu kalau operasinya sudah selesai karena lampu ruangan itu sudah tak menyala lagi.
Ayu dan Ana pun langsung beranjak dan menghampiri pintu ruangan itu menunggu seseorang yang sedang memperjuangkan nyawa pria kesayangan mereka. Tak berselang lama orang yang mereka tunggu pun keluar dengan masker yang masih menempel di wajahnya.
Ana tak menunggu lama, gadis itu langsung menanyakan bagaimana keadaan sang bapak. Dokter bernama Permono itu pun membuka maskernya terlebih dahulu sebelum menjawab semua pertanyaan keluarga pasien.
"Kami ... sudah berusaha semaksimal yang kami bisa, tetapi ... yang berkehendak bukan kami ...."
"Maksud Dokter, bapak ...." Ana lanhsung memotong ucapan pria berkacamata di de hadapannya dengan bulir bening yang yang sudah tumpah ruah di wajahnya.
"Operasi Pak Dika berhasil," sela Dokter Permono dengan menepuk bahu Ana yang sudah menangis histeris.
"A-apa? Jadi, ba-bapak ...."
Anggukkan dari sang dokter membuat senyum Ana dan Bu Ayu kembali terbit. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih, Dok." Ana dan Bu Ayu langsung luruh ke bawah, tubuh mereka terasa lemas, tetapi kabar bahagia ini membuat keduanya kembali bersemangat untuk melanjutkan kehidupannya.
Tak berselang lama setelah kepergian sang dokter, Pak Bagas juga keluar dari ruang operasi untuk dibawa ke ruang ICU untuk proses pemulihan yang lebih intensif.
__ADS_1
Ana dan Bu Ayu pun mengikuti petugas rumah sakit dari belakang. Dengan air mata yang masih terus mengalir, tetapi terbit senyuman di bibir mereka. Setelah proses yang menegangkan itu selesai, Bu Ayu pun meminta Ana agar pulang terlebih dahulu untuk beristirahat dan menjaga kedua adiknya. Sementara Bu Ayu akan tetap berada di rumah sakit untuk menjaga sang suami.
"Besok Ana sama adik-adik akan ke sini, Bu. Ibu jaga diri baik-baik." Ana memeluk tubuh sang ibu sebelum pergi meninggalkan rumah sakit. "Oh, iya ...." Ana tak melanjutkan ucapannya gadis itu langsung memberikan dompet berisi uang pada sang ibu yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Ini apa, An?" Wanita itu mengerutkan keningnya, putri sulungnya selalu memikirkan keluarganya dibandingkan kebutuhan dirinya sendiri.
"Ini buat jaga-jaga, Bu. Ibu juga makan makanan yang enak di sini biar ibu tetap sehat, gunakan uang itu buat keperluan ibu." Ana memberikan kembali dompet yang terlihat lusuh itu pada sang ibu.
"Lalu kamu?"
"Ana sama adik-adik juga udah ada. Ibu tenang saja." Kemudian gadis itu pun pamit undur diri. Hidupnya terasa kembali berwarna setelah semua yang ia lalui begitu menyesakan. "Terima kasih Pak Jafin, Bu Maria berkat kalian bapak akhirnya bisa dioperasi dengan lancar. Aku janji akan kembali ke sana setelah bapak benar-benar pulih," gumam Ana saat ia berjalan keluar dari rumah sakit untuk mencari angkutan umum.
Setidaknya malam ini ia akan tidur dengan nyenyak. Ana juga sudah berjanji dalam hatinya akan mengajak kedua adiknya untuk berbelanja kebutuhan mereka juga keinginannya.
***
Di rumah sakit lain ibu kota.
Namun, tak ada respon dari wanita itu, posisinya tetap sama bahkan sebuah isyarat pun tak pria itu dapatkan. Rasa lelah yang menyergapnya membuat Jafin akhirnya mengantuk. Pria berkemeja lengan pendek itu pun akhirnya terlelap dengan posisi duduk di samping ranjang sang ibu dengan tangan yang menggenggam sang ibu.
***
Lain Jafin lain pula Ikram. Pria itu memang tengah bersedih karena mendengar bahwa Vanya belum bisa menerima dirinya. Namun, bukan Ikram jika menyerah begitu saja. Dulu saja ia bisa dengan tega meninggalkan pernikahannya demi seorang wanita yang ternyata juga mengkhianatinya dengan kejam.
"Aku tidak akan menyerah hanya karena kamu bersikap dingin padaku, Vanya." Ikram berucap saat dirinya tengah bercermin di kamarnya. Pria itu malam ini akan menghadiri sebuah acara di hotel bintang lima yang ada di ibu kota.
Ikram sudah berdandan rapi dengan setelan jas berwarna denim. Saat turun ke lantai bawah sang kakek terlihat sedang duduk menunggunya.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap, Anak nakal?" tanyanya kemudian berdiri dengan bantuan tongkatnya.
"Ikram sudah siap, Kek."
"Baiklah mari berangkat," ajaknya lalu berjalan menuju ke ruang depan.
Sebelum mengikuti sang kakek, Ikram mencari keberadaan sang mami dan papinya. Pria itu sekarang memang sudah berubah, ia akan pamit ke mana pun pergi pada keduanya.
"Mami, doain Ikram ya ...."
"Selalu, Nak."
"Doain biar Ikram dapatin Vanya juga, Mi," bisik pria itu karena tak ingin diketahui sang papi.
Manda pun mengangguk dan mengedipkan satu matanya sebagai kode setuju untuk putranya. Sementara Hanan hanya selalu berpesan agar Ikram menjadi pria bertanggung jawab.
Ikram pun kini pergi menemui sang kakek yang sudah duduk di mobilnya bersama sang supir. Kali ini Ikram memang diajak sang kakek untuk memenuhi undangan kolega sang kakek. Pria bertubuh tinggi itu pun, duduk di samping sang kakek.
Tidak ada percakapan apapun selama perjalanan, Ikram sibuk dengan ponselnya, pria itu terus memberi pesan pada akun 'Warung Nasi Kadeudeuh' agar bisa berbalas pesan dengan Vanya.
Namun, sepertinya kali ini yang membalas pesan itu bukan Vanya, karena Ikram tahu gaya bahasa Yuki alias Vanya. Akhirnya, pria itu pun menghentikannya.
"Nanti kamu di sana akan kakek kenalkan pada cucu daei kolega kakek. Jaga sikap kamu!" Tiba-tiba pria tua itu berucap saat mobil mereka sudah memasuki halaman hotel yang dituju.
"Apa?"
"Sudah, cepat turun!" titah sang kakek tanpa mempedulikan Ikram yang hendak protes.
__ADS_1
"Kamu tahu akibatnya kalau membantah kakek?"
"Baiklah."