Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Makan malam


__ADS_3

"Mas Ikram?" Vanya terkejut dengan keberadaan Ikram di ruang tamunya. Pria tinggi itu memecahkan vas kesayangan Ayudia.


"Ya ampun, Mas. Itu vas kesayangan mami." Alih-alih terkejut dengan dengan kehadiran Ikram, ternyata gadis itu lebih terkejut saat melihat vas kesayangan sang mami pecah berantakan di lantai.


"Maaf, aku nggak sengaja." Ikram jongkok untuk mengambil pecahan vas itu, tetapi dicegah oleh Bi Sumi.


"Kamu menguping pembicaraan kami?" Tiba-tiba Fathan datang dengan tongkat di tangan kirinya.


"Ikram ...." Pria itu tak melanjutkan ucapannya. Namun, saat melihat ke arah Vanya. Gadis itu masih terlihat marah karena vas yang pecah.


"Aku akan menggantinya, Vanya."


"Vas itu hanya ada satu, tak akan ada lagi yang menjual vas seperti itu."


Malam pertama di rumah yang sangat menyebalkan bagi Vanya. Kenapa juga dia lupa mengganti pakaian saat kembali ke ibu kota. Kalau saja ia lebih santai tentu saja pertemuan dengan Ikram tak akan terjadi. Namun, semuanya sudah terlanjur kali ini Ikram sudah mengetahui bahwa Yuki adalah Vanya.


Vanya tak habis pikir dengan pria tampan di hadapannya, saat dirinya menjadi Yuki dia selalu mengganggunya, sekarang saat tahu dirinya Vanya pun tetap saja dia membuat masalah.


"Sudahlah lebih baik kamu pulang, ngapain juga masih di sini? Udah malam di rumah cewek lagi," usir Vanya pada Ikram, lalu gadis itu pun kembali ke dalam tanpa mempedulikan panggilan Ikram.


Fathan pun pamit, setelah Vanya masuk ke dalam. Bi Sumi yang sudah selesai membersihkan pecahan vas pun langsung pergi ke dapur. Vanya yang awalnya turun ke bawah untuk makan malam jadi tak berselera karena kejadian malam ini.


Dengan cepat ia menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Setelah masuk, gadis itu langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, mencoba menutup matanya untuk terlelap. Namun, pikirannya malah mengajaknya berkelana.


"Ah, sepertinya aku harus nyari yang pedes." Vanya kini beranjak lalu mengambil jaket serta kunci mobilnya. Gadis itu kembali menuruni tangga dan berpapasan dengan Bi Sumi.

__ADS_1


"Neng Vanya mau ke mana?" tanya wanita paruh baya itu sedikit khawatir.


"Aku mau nyari bakso, Bi. Ikut aku yuk, Bi!" ajaknya sambil terus berjalan.


Bi Sumi pun akhirnya mengikuti sang majikan. Mereka berdua naik ke mobil Vanya. "Aku mau makan bakso yang pedes banget di mana ya, Bi? Yang enak tapi nggak mau yang ada di mal." Vanya mulai menyalakan mobilnya dan melaju keluar dari gerbang setelah pak satpam membuka pagar besi itu.


"Ada, Neng langganan bibi kalau abis pulang dari pasar, tapi kedai bakso biasa nggak apa-apa?" jawab Bi Sumi ragu.


"Nggak apa-apa, Bi. Malah enakan bakso gerobakan di pinggir jalan gitu ternyata," ucap Vanya.


Bi Sumi tersenyum wanita itu memang kagum pada nona-nya, walaupun orang berada tetapi tak pernah sombong dengan semuanya.


"Dari sini lewat mana, Bi?" tanya Vanya yang membuyarkan lamunan Bi Sumi.


"Eh, sedikit lagi, Neng. Tuh di depan sana!" tunjuk Bi Sumi pada sebuah kedai bakso yang sudah kelihatan oleh keduanya. Vanya pun kemudian menepikan mobilnya. Kedua wanita beda usia itu pun turun dari mobil.


"Alhamdulillah, Mbak. Ada varian baru lho di sini, bakso iga kuah mercon mau nyoba nggak?" tawar pemuda bertopi itu.


"Aku mau, Bi. Vanya nunggu di kursi aja ya," ucap Vanya sambil masuk untuk mencari kursi kosong.


Bi Sumi pun mengangguk, lalu memesan bakso iga kuah mercon untuk Vanya dan bakso cincang untuk dirinya tanpa kuah mercon karena Bi Sumi memang tak terlalu suka pedas.


Mereka pun duduk menunggu pesanan baksonya. Sesekali Bi Sumi menceritakan rasa bakso di kedai ini yang menurut lidahnya enak sekali. "Yang bibi suka di sini tuh udah enak harganya terjangkau lagi nggak sampai dua puluh ribu lho, Neng."


"Masa sih, Bi?" Vanya mengerutkan keningnya. Bersamaan itu pesanan keduanya pun datang. Vanya langsung mengambil baksonya dan mencoba kuahnya. Pedesnya pas di lidahnya rasanya juga gurih.

__ADS_1


"Ah pilihan Bibi emang nampol. Vanya suka." Gadis itu pun mulai meracik kuah baksonya dengan kecap juga jeruk nipis, bahkan ia juga menambahkan sedikit sambel ke baksonya.


"Astaghfirullah, Neng itu cabainya. Udah kasihan lambungnya," sela Bi Sumi sambil bergidik ngeri melihat mangkok milik nona-nya penuh dengan sambal.


"Nggak apa-apa, Bi, tenang aja aman, kok."


Sekitar tiga puluh menit mereka menikmati makan malam di kedai bakso. Setelah membayar semuanya Vanya dan Bi Sumi pun kembali ke mobil. Keduanya akan langsung pulang. Namun, saat memutar balik mobilnya ada beberapa orang berlari ke arah yang akan dituju oleh Vanya.


"Ada apa, Bang?" tanya Bi Sumi pada seorang pria yang berlari melewati mobil Vanya.


"Itu ada kecelakaan katanya," jawab pria itu kemudian kembali berlari.


Vanya pun melajukan mobilnya perlahan, saat sampai di tempat kerumunan orang, terlihat sebuah mobil warna hitam berhenti. Vanya pun mencoba turun untuk memastikan kalau korbannya bukanlah orang yang ia kenal.


Gadis itu mencoba menerobos kerumunan orang-orang, sementara Bi Sumi dibiarkan untuk menunggu di dalam mobil. Terlihat seorang wanita tua terkapar di jalan raya dengan kursi roda yang terbalik. Vanya mencoba mendekati wanita itu yang wajahnya penuh dengan cairan merah. Dadanya tiba-tiba berdetak tak karuan saat melihat postur tubuh wanita itu.


Saat lebih dekat, jantungnya makin tak beraturan, wanita tua itu adalah wanita yang pernah menolongnya, wanita yang tak mengizinkan dirinya mengikuti sang putra. Vanya membekap mulutnya sendiri. Ia ingin sekali menolong wanita itu, tetapi tiba-tiba seorang pria berkemeja abu datang dengan memeluk tubuh wanita itu.


"Ibu!" Pria itu langsung menggendong tubuh ibunya menuju mobilnya. Beruntung Vanya langsung segera pergi sebelum pria itu benar-benar mengenalinya.


Maafin Vanya bu, semoga ibu baik-baik saja.


Gadis itu pun kembali ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kemacetan karena kecelakaan tadi sudah diatasi. Namun, saat Vanya melewati mobil jeep warna hitam itu, gadis itu bisa melihat keadaan korban kecelakaan tadi dibaringkan di jok belakang.


"Demi Tuhan aku akan buat perhitungan denganmu, Vanya! Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi!" teriak pria itu sambil memukul stirnya dengan keras. Suaranya sangat jelas terdengar oleh Vanya yang saat itu berhenti tepat di samping mobil jeep itu.

__ADS_1


"Neng, lelaki itu seperti memanggil nama Neng, mudah-mudahan bukan Neng Vanya ya?" celetuk Bi Sumi yang membuat Vanya terperanjat.


"Eh."


__ADS_2