Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Menebus Kesalahan


__ADS_3

Vanya sedang menikmati kebersamaannya bersama kedua orang tuanya. Mereka bahkan akan pergi ke villa mereka yang ada di puncak untuk berlibur. Tak terasa sudah satu minggu Vanya bersama keluarganya. Hari ini mereka berada di puncak untuk ketiga harinya.


Vanya sudah sepakat dengan orang tuanya, bahwa dia akan bolak-balik Jakarta-Bandung setiap dua minggu sekali. Vanya akan membantu Mak Aminah yang jelas-jelas adalah tantenya juga. Gadis itu juga sudah merindukan wanita itu.


Selama di kota Bandung, Vanya akan memakai nama Yuki bukan Vanya. "Mi, besok Vanya ke Bandung ya, Mami jadi ikut, kan?" tanya Vanya saat gadis itu sedang memainkan air di kolam renang villanya.


"Kenapa cepet banget sih, Sayang. Mami tuh masih kangen sama kamu, Nak."


"Iya, kan besok perginya sama Mami juga, Mami mau tinggal di apartemen yang udah papi siapin apa mau tinggal bareng Mak Aminah aja?" Vanya kembali bertanya kini kedua kakinya ia masukan ke dalam kolam, hanya kakinya saja, gadis itu duduk di tepi kolam.


"Ya udah Mami besok ikut kamu deh, kalau sama papi, Mami tinggal di apartemen aja, tapi kalo nggak sama kamu aja deh," jawab wanita paruh baya lalu beranjak untuk mengambil jus kesukaan putrinya.


Karena kesepakatan sudah didapat, Vanya pun kini benar-benar menikmati liburannya, sebelum esok memulai rencananya untuk membalas semuanya pada Ikram.


Sementara itu di kediaman Pradipta, terlihat sebuah mobil putih yang beberapa hari ini terus bolak-balik, walaupun satpam rumah sudah memberitahukan bahwa tuannya sedang berlibur ke luar kota.


Dia adalah Ikram Pradana, pria itu benar-benar menepati janjinya untuk meminta maaf pada keluarga Vanya. Namun, entah mengapa sulit sekali untuk bertemu dengan keluarga ini.


Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk tidur di pos satpam milik keluarga Pradipta. Sebenarnya Ikram masih memikirkan Olive, kenapa wanita itu dengan tega membohonginya, padahal Ikram benar-benar mencintainya. Namun, ia kembali ingat pada janji yang telah ia buat untuk menebus kesalahannya.


Malam pun tiba, Ikram benar-benar duduk bersama satpam rumah Pradipta. "Aduh nggak apa-apa ini nunggu di sini?" tanya pria berkumis tebal itu entah yang ke berapa kali.


"Sudah, Pak. Saya baik-baik saja." Ikram menjawab dengan santai


"Nak Ikram ini seperti familiar tapi Bapak lupa," ucap pria bernama Trisno itu.

__ADS_1


Ikram hanya tersenyum, ia malu untuk mengakui bahwa dirinya adalah mempelai pria yang kabur di hari pernikahannya. "Pak Ehsan apa sudah memberi kabar kapan akan pulang?" tanya Ikram mengalihkan bahasan mengenai dirinya.


"Katanya lagi di jalan menuju ke sini. Tunggu aja, oh iya mau minum kopi?" Ikram hanya mengangguk dan Trisno pun menunjukkan jari jempolnya, kemudian pria itu pun beranjak dari sana.


Kenapa Ikram tidak dibiarkan masuk saja? Karena sudah peraturan Ehsan, tidak boleh memasukkan sembarang orang jika dirinya dan keluarganya sedang tidak di rumah. Semua demi keamanan anak dan istrinya.


Malam pun semakin larut, Ikram mulai kedinginan untung saja ia membawa jaket di mobilnya, walaupun Trisno sudah menyediakan kopi dan pisang goreng untuk dirinya, tetap saja udara malam memang sangat dingin.


Sekitar jam sebelas malam suara kelakson mobil berbunyi, tanda seseorang datang dan mereka adalah Ehsan dan keluarganya. Trisno dengan sigap langsung membukakan pintu gerbang untuk tuannya. Vanya sendiri sudah terlelap di jok belakang karena kelelahan. Ehsan dan Ayudia sempat mengerutkan keningnya saat melihat ada mobil lain terparkir di halamannya.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini, No?" tanya Ehsan pada satpam rumahnya. Saat Trisno menunjuk pada pria di pos jaganya, ternyata Ikram tampak tertidur dengan posisi duduk. "Itu Nak ... Iran eh Iram, aduh kenapa saya jadi lupa namanya, Pak," ucap Trisno menggaruk kepalanya.


"Ah, kebiasaan kamu, No. Sudah jangan biarkan dia masuk, suruh pulang saja, kalau penting besok saja kembali ke sini." Ehsan mengakhiri ucapannya. Setelah itu sopir Ehsan pun kembali melajukan mobilnya ke depan, lalu Ayudia pun turun. Sementara Ehsan langsung menggendong tubuh putrinya yang sudah terlelap.


"Kamu tetap putri kecil papi, Sayang." Ehsan bergumam saat masuk ke dalam kamar Vanya untuk membaringkan tubuh putrinya. Vanya sepertinya memang kelelahan, gadis itu bahkan tak terbangun, ia hanya bergumam kecil lalu kembali tidur.


"Mami ayo! Vanya udah siap lho ini." Vanya begitu semangat untuk kembali ke kota Bandung.


"Mami sepertinya nggak ikut sekarang, Sayang ...."


"Kenapa?"


"Mami harus nemenin Papi ke acara lelang beberapa hari lagi." Ehsan menjawab pertanyaan putrinya.


"Papi percaya kamu bisa jaga diri dengan baik, Papi cuma titip hati-hati di sana, kalau ketemu 'Ikan Piranha' hajar aja," imbuhnya.

__ADS_1


Vanya tergelak mendengar nama panggilan yang ia sematkan untuk Ikram. "Kamu jangan main sama ikan piranha dong Vanya, bahaya," sela sang mami yang belum tahu apa-apa.


"Nggak, Mami. Mana ada aku main sama ikan piranha." Vanya tertawa lepas.


Sekitar jam delapan pagi, Vanya pun berangkat bersama Ehsan. Pria itu sekalian akan bertemu dengan salah satu koleganya di kota Bandung.


Saat Vanya sudah masuk ke dalam mobil bersama sang papi. Tiba-tiba Trisno datang dengan berlari.


"Pak, Pak!"


"Ada apa, No? Masih pagi ini," ucap Ehsan.


"Itu, Nak Iran nggak bangun-bangun, mana badannya panas banget lagi," ucap pria berkumis tebal itu khawatir.


"Iran siapa sih, Pi?" Vanya menoleh ke arah sang papi.


"Nggak tahu nih, Trisno. Itu katanya dari semalam ada di sini."


"Lihat dulu, Pak. Cepetan," ucapnya.


Akhirnya Ehsan dan Vanya pun kembali turun dan menuju pos satpam. Terlihat pria berjaket hitam itu berbaring di kursi panjang, tubuhnya terlihat menggigil. Saat Ehsan masuk, pria paruh baya itu memiringkan tubuhnya untuk melihat wajahnya. "Ikan Piranha!" pekik Vanya sambil menutup mulutnya.


Ehsan yang mendengar pekikan putrinya pun langsung melepaskan pegangannya pada wajah Ikram. "Kamu serius ini dia, Vanya?" Anggukkan dari sang putri membuat Ehsan makin geram. "Mau apa dia kemari?"


"Dia udah satu minggu bolak-balik sini terus, Pak. Katanya mau ketemu Pak Ehsan." Trisno menjelaskan.

__ADS_1


"Antar dia pulang, No. Jangan bilang kalau Kami sudah kembali, jika dia datang lagi bilang saja kami ke luar kota." Ehsan memberi pesan pada satpam rumahnya, kemudian ia pun mengajak putrinya untuk kembali masuk ke dalam mobil. Namun, baru saja mereka membalikkan tubuhnya terdengar suara gumaman.


"Vanya maafin aku. Aku menyesal ...."


__ADS_2