
Pak Darman menjelaskan bahwa Yuki gadis yatim piatu yang datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, tetapi karena ia hidup sebatang kara, jadi ia tak punya sanak saudara yang bisa ia kunjungi. Akhirnya ia meminta izin untuk menginap di masjid. "Jadi saya mengizinkan Neng Yuki untuk menginap di gudang masjid, Pak Rt. Padahal istri saya sudah menawari untuk tinggal di rumah saya, tapi dia nggak mau." Pria bersarung itu berkata panjang lebar.
"Kenapa Pak Darman nggak lapor sama saya? Kalau udah kejadian kaya gini baru lapor," kesal Pak Rt.
"Maaf, Pak." Pak Darman menunduk.
"Usir saja cewek itu dari sini, Pak Rt!" teriak Bayu memprovokasi warga lain.
"Usir! Usir!" teriak yang lainnya.
Yuki sebenarnya ingin menangis, tetapi entah mengapa air matanya seperti telah kering, gadis itu hanya menunduk tanpa melakukan pembelaan.
"Sebentar-sebentar! Jangan dulu ambil kesimpulan, kalau memang dia pencuri amana buktinya?" ucap Pak Rt.
Kemudian, Bayu mengambil sebuah kantong keresek, milik Yuki. Gadis itu terkejut, bagaimana bisa Bayu mengambil barangnya tanpa izin. "Lihatlah, gadis ini berpura-pura membawa kantong keresek sebagai tempat bajunya padahal untuk menutupi hasil curiannya agar tak dicurigai, Pak Rt." Pria itu memberikan kantong kereseknya pada Pak Rt untuk dilihat.
Saat dibuka, ternyata benar, dibalik bajunya yang lusuh, ada banyak uang dari mulai pecahan seribuan Samapi ratusan ribu, bahkan uang koin pun banyak. Yuki terbelalak melihat barangnya. "Aku tidak mencuri, aku bersumpah, Pak!" lirih Yuki.
Namun, ucapannya tentu saja tak diterima warga dan juga Pak Rt. Pak Darman juga tak menyangka bahwa gadis yang ditolongnya malah membuat malu dirinya. "Bagaimana kami percaya bukti sudah di depan mata, Neng." Pak Darman berucap dengan kecewa. Bahkan saat Bu Darman baru datang pun, wanita itu langsung memasang wajah judes pada Yuki.
"Nyesel saya udah bantuin kamu, udah ngasih makan gratis pula," omel Bu Darman. "Untung saja nggak jadi sama anak kita ya, Pak," imbuhnya.
__ADS_1
Pak Darman menatap iba gadis kurus di depannya. Pria itu masih yakin dengan hatinya, kalau bukan gadis itu pelakunya, tetapi karena bukti ada pada dirinya ia pun tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah semuanya jelas, akhirnya Pak Rt memutuskan untuk memulangkan Yuki ke tempat asalnya. Namun, para warga dengan tak berperikemanusiaan langsung menyeret tubuh Yuki ke jalanan dan mengusirnya dengan kejam. Yuki alias Vanya kembali terusir lagi-lagi bukan karena kesalahannya.
Kantong keresek berisi bajunya pun dilemparkan ke muka gadis itu dengan kejam oleh Bu Darman. "Sana pergi! Jauh-jauh dari sini dan anakku!"
Yuki mengambil barangnya dan berusaha berdiri untuk segera pergi dari neraka ini. Kini air matanya mulai luruh, saat dirinya benar-benar dianggap hina oleh orang lain. Yuki pergi berjalan dengan terseok, karena kakinya lecet-lecet karena diseret warga tadi, kedua sikunya juga terluka.
"Kamu harus kuat, Vanya, oh tidak kamu adalah Yuki. Yuki adalah wanita kuat. Kamu pasti bisa melewati semu ini." Gadis itu bergumam sambil terus berjalan dan mengusap pipinya yang terus saja basah oleh air matanya.
Kini malam pun sudah tiba, Yuki masih berjalan menyusuri jalan yang tetap ramai. Namun, entah mengapa kakinya mengajak ke tempatnya tadi siang. Yuki kembali ke tempat warung makan yang sudah tutup sejak siang tadi.
Gadis itu duduk diam di kursi yang tadi siang ia tempati. Sampai sebuah suara seseorang memutar kunci pintu terdengar. Dari warung makan itu, keluar seorang wanita sekitar usia 50 tahunan. Dengan menggunakan apron di tubuhnya, wanita itu membuka warungnya.
Wanita itu langsung mengangkat kepala Yuki ke pangkuannya, sesekali ia menepuk-nepuk pipi gadis itu, tetapi tak kunjung bangun. Akhirnya, beberapa orang datang menghampiri mereka, dan wanita itu menyuruh seorang pemuda untuk mengangkat Yuki dan membawanya ke dalam.
Gadis itu dibaringkan di sebuah ranjang kecil yang ada di belakang warung. Kamar tempat ibu itu istirahat. " Nuhun, nya." Wanita itu mengucapkan terima kasih dengan bahasa Sunda pada pemuda yang telah membantunya.
Saat melihat gadis kurus di depannya, wanita bernama Bu Aminah itu merasa iba, ia lalu memegang dahi Yuki, panas sekali. "Ya Allah, meni panas kieu atuh, Neng." Bu Aminah pun keluar dan membawa baskom berisi air dingin dan handuk kecil untuk mengompres dahi Yuki.
Gadis itu terus memejamkan matanya, sampai akhirnya pagi menjelang. Bu Aminah terus menunggui Yuki, tetapi gadis itu tak kunjung sadar. Wanita itu pun pergi ke apotik untuk membeli obat. Ia sudah berniat dalam hatinya akan mengurus gadis itu sampai sembuh, kalau ada keluarganya, akan diantar pulang, tetapi jika tidak, Bu Aminah akan mengangkatnya sebagai putri.
__ADS_1
Setelah kepergian suaminya, ia hanya hidup sendirian, tanpa seorang anak. Bu Aminah benar-benar hanya memiliki warung nasi yang dibilang laku juga tidak, sehingga ia selalu buka saat malam saja.
Dia selalu berdoa agar diberi kesempatan untuk mendapatkan seorang anak. Sehingga saat dirinya menemukan seorang gadis yang tiba-tiba pingsan di hadapannya, semoga ini jawaban dari doanya. Saat dirinya pulang dari apotik, gadis itu ternyata masih saja memejamkan matanya. Namun, kali ini terdengar gumaman kecil dari gadis itu.
"Aku bukan pencuri, bukan salahku," lirihnya. Bu Aminah pun mendekat dan menarik satu ujung bibirnya, ia senang karena mungkin sebentar lagi gadis itu akan siuman.
"Bangun, Neng," ucap Bu Aminah sambil mengguncang bahu Yuki pelan. Namun, gadis itu malah kembali menggelengkan kepalanya sambil tetap memejamkan matanya. "Jangan sentuh aku, aku bukan pencuri."
Wanita itu sangat khawatir, sampai akhirnya ia kembali ke dapur untuk mengambil air. Saat kembali ke kamarnya, Yuki masih terlihat gelisah dengan keringat yang sudah membasahi tubuhnya.
Bu Aminah pun berdoa sebisanya dan mulai mengambil air itu untuk diusapkan ke wajah Yuki.
Tak berselang lama, gadis itu mulai mengerjapkan matanya. "Alhamdulillah, akhirnya." Wanita yang selalu mengenakan kebaya itu tersenyum bahagia.
"Aku di mana?" Yuki berusaha bangun sambil memegang keningnya yang terasa pening.
" Tong waka bangun dulu, istirahatlah, Neng," ucap Bu Aminah lembut.
Yuki kembali membaringkan tubuhnya yang masih lemah. Gadis itu masih mengingat kejadian yang menimpanya. Sampai akhirnya ia ingat saat dirinya diusir karena dituduh mencuri. "Bukan aku pencurinya, bukan aku." Gadis itu menutupi wajahnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kunaon, Neng? Sok atuh cerita ka Emak," ujar wanita itu.
__ADS_1
"Aku ...."