
"Berhenti!"Seorang pemuda tiba-tiba meminta berhenti dan turun dari bus yang ia tumpangi.
Ana sempat terkejut saat pemuda tadi berteriak bagaimana pun saat ini dirinya sedang kabur dari seseorang. Setelah mendapatkan beberapa omelan dari penumpang lain, akhirnya pemuda itu pun turun. Bus kembali melaju menuju kota tujuannya. Ana bisa bernafas lega saat bus yang ia tumpangi sudah jauh meninggalkan ibu kota.
Namun, gadis itu juga sepertinya enggan untuk memejamkan matanya karena dalam tasnya terdapat uang yang banyak untuk biaya operasi sang bapak. Perjalanan yang ditempuh cukup memakan waktu lama sehingga membuat Ana pun akhirnya terlelap.
Saat Ana membuka mata hari sudah berubah siang, matahari sudah menyapa lewat kaca jendela bus. Ana terkejut saat tasnya tak berada dalam dekapannya lagi. Semua penumpang juga hanya tinggal beberapa orang mungkin yang lain sudah turun. Gadis itu langsung panik, tetapi saat berdiri hendak mencari tasnya ia menginjak sesuatu di kakinya.
Ana pun langsung menunduk dan melihat benda yang ia cari sedang ia injak. Gadis itu pun langsung mengambil tasnya lalu mengibaskan tangannya untuk membersihkan bagian kotor yang terinjak. Sambil melihat sekeliling ia pun melihat semua barangnya sebelum benar-benar turun dari bus.
Semesta ternyata masih berpihak pada dirinya, semua barangnya aman termasuk uang yang ia simpan dalam kantong plastik hitamnya.
Alhamdulillah bapak bisa sembuh, Ana benar-benar ikhlas bantu bapak. Bapak cepet sembuh Ana akan segera sampai.
Ana pun langsung turun dengan dua tas yang satu tas punggung yang ia dekap di depan sementara satu lagi tas jinjing sedang berisi pakaiannya. Ana memang sepertinya tak berniat kembali ke ibu kota. Gadis itu akan menjaga bapak dan ibunya di rumah beserta kedua adiknya.
__ADS_1
Ana berniat mencari pekerjaan di kotanya saja. Gadis itu pun kini menggunakan angkutan umum untuk sampai ke rumahnya. Ana akan pergi ke rumah dulu sebelum menemui ibu dan bapaknya di rumah sakit. Katanya pagi ini jadwal operasi sang bapak akan dilakukan sekitar pukul 10.00.
Sekitar tiga puluh menit Ana pun sampai di sebuah gang yang menuju rumahnya. Gadis itu akan berjalan sedikit untuk sampai ke rumahnya. Gangnya tidak terlalu sempit, mobil kecil akan masuk ke sana.
Ana berjalan cepat untuk sampai ke rumahnya. Gadis itu akan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit. Setelah dirasa sudah siap, tanpa menghiraukan rasa lelahnya, Ana pun langsung pergi meninggalkan kembali rumahnya menuju rumah sakit tempat sang bapak dirawat.
Perjalanan menuju ke rumah sakit cukup memakan waktu lama, sehingga Ana pun terlebih dahulu mengisi perutnya di sebuah warung nasi. Gadis itu makan dengan menu sederhana, walaupun terlihat lapar tetapi sebenarnya Ana tetap merasa khawatir dengan keadaan sang bapak. Sekitar sepuluh menitan kurang lebih Ana sudah menyelesaikan makan siangnya lalu membayar ke kasir.
Kini gadis berambut panjang itu kembali menaiki angkutan umum untuk sampai ke rumah sakit. Ana berusaha bersikap tenang seperti yang biasa ia lakukan saat menghadapi situasi seperti ini. Walaupun dulu ia tenang dalam keadaan tak mempunyai uang untuk operasi sang bapak, tetapi kali ini ia telah berhasil membawa uang yang banyak untuk sang bapak. Bapak harus bertahan, Pak. Ana sudah berhasil mendapatkan uang untuk bapak.
"Ibu di sebelah mana? Ana udah sampai." Gadis itu menelepon sambil terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Mendengar jawaban dari sang ibu, Ana hanya mengangguk dan berkata, "Iya, Ana ke sana sekarang."
Setengah berlari gadis itu pun menuju tempat yang disebutkan oleh sang ibu. Ana berharap ini adalah kali terakhir keluarga mereka menginjak tempat ini. Ana ingin sang bapak sembuh kembali seperti saat dulu.
Sementara itu di ibu kota, seorang pria masih sibuk mencari kabar mengenai seseorang. Pria bertubuh tinggi itu terus mencari jejak sang suster. Jafin memeriksa semua rumahnya. Saat sampai di kamar sang ibu, ruangan itu masih terlihat rapi seperti biasanya. Namun, saat melihat laci tempat perhiasan milik sang ibu, Jafin merasa curiga karena biasanya tempat itu selalu tertutup rapat tetapi tidak dengan saat ini.
__ADS_1
Jafin memang selalu membeli perhiasan untuk ibunya bahkan dia sendiri yang menyimpan dan menata barang itu. Saat ia mendekati tempat itu, rahang pria itu mulai mengeras dengan tangan mengepal. Ada salah satu perhiasan sang ibu yang hilang harganya juga mencapai seratus juta rupiah.
"Ana!" geram Jafin. Pria itu kini mengambil ponselnya dan hendak menghubungi pihak berwajib atas pencurian yang dilakukan sang suster. Namun, tiba-tiba ia teringat saat dulu ia menerima Ana. Gadis itu pernah bercerita tentang bapaknya yang sakit dan membutuhkan biaya banyak.
"Apa mungkin terjadi sesuatu dengan bapaknya?" Tiba-tiba pria itu mengurungkan niatnya.
Sebenarnya nasib Jafin dan Ana tidak jauh berbeda, keduanya bekerja untuk kesembuhan orang tua mereka. Namun, Ana lebih memilih jalan yang lurus tidak dengan Jafin yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.
Pria itu pun membanting tubuhnya di ranjang kamar sang ibu. Bayangannya terus berkelana bahkan pada sang adik Rena yang meninggal karena kecelakaan. Adik kesayangannya pamit bersama seorang pemuda yang dikenalkan Rena sebagai kekasihnya. Namun, ternyata Rena dibawa ke sebuah rumah bordil oleh sang kekasih hingga membuat gadis itu berontak dan kabur dari sana sampai akhirnya ia tertabrak sebuah mobil.
Kejadian itu membuat Jafin sangat terpukul dan ia berhasil membereskan pemuda yang menjadi kekasih sang adik itu dengan tangannya sendiri. Namun, setelah kejadian itu sang ibu menjadi drop dan tak ingin berbicara sama sekali, sampai akhirnya wanita paruh baya itu benar-benar tak bisa menggerakkan kakinya lagi.
Karena itulah, Jafin menjadi frustrasi dan akhirnya ia merasa bahwa semua ini terjadi karena sang adik, Jafin pun selalu memperlakukan setiap wanita yang ditemuinya dengan baik tetapi akhirnya ia akan menjual wanita itu pada rumah bordil dengan imbalan yang sangat besar. Namun, saat bertemu dengan Vanya sepertinya kesiyalan terus berpihak padanya. Mungkin Tuhan ingin pria itu bertobat dan berhenti melakukan semuanya. Bahkan wanita pertama yang ia percayai pun solah mengkhianatinya hingga sang ibu mengalami kecelakaan.
"Aku akan mencari alamatmu di kota kelahiranmu, Ana. Aku bersumpah akan mem ... aaargh!" Jafin berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Bersamaan itu ponselnya berdering ternyata dari pihak rumah sakit. Jafin langsung mengangkat panggilan teleponnya dengan cepat.
__ADS_1
"Apa! Baiklah aku akan segera ke sana!"