
Ikram berhasil mengambil foto dirinya bersama Yuki saat makan siang berlangsung. Keduanya pun kini menikmati makan siang mereka tanpa percakapan. Setelah selesai mereka pun kembali ke resto Ikram yang berada tepat di seberang warung nasi Mak Aminah.
"Barangnya akan dikirim besok, kan? Jadi hari ini aku pulang saja," ucap Yuki saat mereka baru sampai di depan resto Ikram.
"Eh, mana bisa gitu jam kerja kamu tuh sampai jam 4 sore." Ikram menarik pergelangan tangan Yuki saat gadis itu hendak berbalik unyuk menyeberang.
Yuki menepis kasar tangan Ikram, netranya yang bening melotot ke arah pria yang entah mengapa selalu memaksakan kehendaknya itu. "Nggak usah pegang-pegang bisa nggak sih?"
Ikram hanya menarik satu unjung bibirnya, lalu melipat kedua tangannya. "Ikut aku!" Pria itu kemudian masuk ke restonya dan menuju lantai atas.
Yuki pun akhirnya, mau tak mau mengikuti pria tinggi itu. Mereka kini duduk di sofa yang ada di sana. Ikram pun memperlihatkan sebuah foto di tangannya. Yuki mengambilnya dan melihat foto sebuah ruangan yang ditata dengan sangat rapi dan unik. Warna catnya didominasi oleh warna putih dan coklat.
"Mau dibikin kaya gini?" tanya Yuki tanpa melirik ke arah Ikram. Sebenarnya desain di foto itu adalah hasil karyanya.
"Iya, aku ingin ruangan itu terlihat apik seperti itu, apalagi pencahayaan di ruangan ini sangat bagus."
"Nggak masalah. Ada permintaan lain?" Yuki menyimpan foto itu di meja.
"Yang lainnya terserah kamu, tapi khusus ruangan ini, aku ingin seperti yang ada di foto itu." Ikram menyandarkan punggungnya.
Sementara itu, Yuki beranjak dari duduknya dan mulai mengelilingi ruangan itu lagi. Gadis itu akan mulai mengecat temboknya terlebih dahulu, karena ternyata catnya sudah ada.
"Oke semangat Vanya." Gadis itu bergumam menyemangati dirinya sendiri. Ikram masih memperhatikan gadis yang kini mulai membuka kaleng catnya. Dengan lincah gadis itu mulai menarikan kuasnya di atas tembok. Warna putih tulang yang dipilih Ikram membuat ruangan itu menjadi lebih cerah.
"Mau bantuin, Masnya?" tanya Yuki saat berbalik melihat Ikram yang masih duduk di posisinya.
__ADS_1
"Heh, buat apa aku bayar kamu kalau harus aku juga yang kerja?" ketus Ikram.
Yuki pun kembali melakukan kegiatannya tanpa membalas ucapan menyebalkan pria di belakangnya. Yuki menikmati setiap gerakan yang ia lakukan saat mengecat temboknya. Gadis itu memang sangat menyukai pekerjaannya. Tak terasa waktu pun mulai beranjak sore, Yuki baru saja meyelesaikan dua dinding. Namun, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Ah, time is over." Yuki membereskan cat dan kuasnya. Namun, saat dirinya akan pamit, terlihat Ikram sedang terlelap dengan posisi yang sama saat tadi dirinya masih terjaga.
Namun, alih-alih membangunkan pria itu, Yuki berencana langsung pulang tanpa pamit, tetapi saat melihat Ikram tetap terlelap, akhirnya ide jahil pun muncul di kepala gadis berambut panjang itu. Yuki kemudian membawa kuas kecil, lalu mencelupkannya pada cat berwarna coklat. "Mari melukis!" baiknya lalu mendekati Ikram. Dengan hati-hati ia melukis di atas wajah Ikram.
Ikram benar-benar tertidur pulas, bahkan saat kuas utu menari di wajahnya, pria itu hanya bergumam kecil tanpa membuka netranya. Setelah selesai, Yuki pun langsung meninggalkan Ikram dengan wajah mirip singa itu.
Yuki menyeberang jalan dan langsung masuk ke warung nasi. Mak Aminah, terlihat sedang menerima pembayaran dari salah satu pelanggannya. Gadis itu pun menghampirinya dan duduk di samping Mak Aminah.
"Udah selesai, Neng?" tanya wanita paruh baya itu setelah menyelesaikan tugasnya.
"Besok.harus kerja lagi, Mak. Mak nggak cape sendirian?" Yuki sebenarnya sangat khawatir dengan sang emak.
"Ya udah sana, mandi biar seger." Yuki pun mengangguk dan pergi menuju ke kamarnya lalu hendak membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai Yuki pun makan bersama Mak Aminah.
Sementara itu di kediaman Pradana. Fathan tampak menghubungi seseorang. "Apa kalian sudah menemukan cucu menantuku?" Pria dengan rambut putih itu terlihat serius.
"Kami sudah menemukannya dan bahkan cucu Anda juga sudah bertemu dengannya."
"Baguslah, tolong kabari terus jika ada perkembangan lain." Fathan pun menutup sambungan teleponnya. Kemudian, ia kembali menghubungi seseorang lewat ponselnya.
__ADS_1
"Ikram, bagaimana apa kamu sudah bertemu dengan Vanya?" tanyanya saat cucunya itu mengangkat teleponnya.
"Aku masih mencarinya, Kek." Ikram menjawab dari seberang dengan suara sedikit serak.
"Dasar nakal! Cepat cari dia dan bawa ke sini, Kakek kasih waktu satu minggu dari sekarang!" Fathan langsung menutup sambungan teleponnya, berbicara dengan cucu lelakinya itu terkadang selalu membuatnya pusing.
Fathan duduk di kursi kebesarannya. Pria itu memegang pelipisnya. "Ikram-Ikram bagaimana bisa kamu tak mengenali Vanya?" keluhnya. Fathan memang sudah menerima foto kebersamaan Ikram dan Vanya saat mereka sedang berbelanja furnitur untuk resto Ikram.
Namun, pria itu akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Vanya. Fathan akan pergi ke Bandung besok pagi. "Aku harap kamu masih mau menjadi cucu menantuku, nak."
......................
Resto Ikram.
Pria yang baru saja mendapat telepon dari sang kakek itu langsung bangun dari tidurnya. Ikram hendak ke toilet untuk membasuh wajahnya. Namun, baru saja ia sampai di toilet, pria itu berteriak histeris saat melihat wajah tampannya di cermin berubah menjadi seperti singa. "Siapa yang berani melakukan ini!" teriaknya sambil menggosok wajahnya dengan air dan sabun muka yang tersedia di sana.
Namun, cat yang menempel di wajahnya tak sedikitpun terlepas. Ikram mengerang frustrasi. "Yuki! Awas kau!" Ikram kembali membasuh wajahnya hingga kemejanya basah, tetapi tetap saja catnya masih ada.
Pria itu pun menghubungi Jafin dan menyuruh pria itu untuk mencari obat yang bisa menghapus cat di wajahnya. Namun, jawaban dari Jafin membuat pria itu bergidik ngeri. Katanya biasanya cat akan terlepas bila diberi air bensin.
"Jangan gila, Jafin ini muka saya masa pakai bensin?" bentak Ikram. Setelah itu, Ikram pun menutup sambungan teleponnya, ia akan berkunjung ke warung nasi untuk menemui gadis yang telah merusak ketampanannya itu.
"Tunggu aku Yuki. Aku nggak akan lepasin kamu, jika benar ini semua perbuatanmu." Pria itu pun kemudian mencari masker dan sebuah topi untuk menutupi wajahnya. Selain itu ia juga menunggu hari agak malam, agar tak menjadi perhatian orang.
Sekitar jam 8 malam, Ikram pun berangkat ke warung nasi untuk bertemu dengan Yuki. Warung itu bahkan baru saja ditutup. Saat Yuki hendak menutup pintu warung, tiba-tiba tangannya ditarik dengan kasar.
__ADS_1
"Tunggu! Kamu harus bertanggung jawab!" geram Ikram.
"Hantu!"