Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Menetap Di Kota Bandung


__ADS_3

Hari ini Ikram dan Olive berencana menemui seseorang yang akan mengurus cabang perusahaannya di kota kembang itu. Mereka pergi pagi-pagi sekali, karena keduanya akan menyempatkan untuk lari pagi.


Suasana kota yang cukup sejuk dibanding ibu kota itu membuat keduanya tak lepas dari jaket.


"Aku mau sarapan bubur ayam, boleh ya?" Olive menunjuk gerobak bubur ayam yang ada di sana.


"Yakin mau makan di sana?" Ikram yang menggunakan masker itu mengerutkan alisnya.


"Aku mau coba, katanya makan di pinggir jalan kaya gitu tuh enak," ucap Olive sambil menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, ayo!" Olive langsung bergelayut manja pada sang kekasih, saat keinginannya terpenuhi.


Wanita itu pun memesan dua porsi bubur ayam pad ibu penjualnya.


"Neng anak baru ya? Kaya baru lihat," tanya wanita dengan hijab hitam itu sambil menuangkan buburnya ke dalam mangkuk.


"Iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Olive, lalu duduk di samping kekasihnya yang sibuk dengan ponselnya.


Tak berselang lama, pesanan mereka pun datang, Olive bingung bagaimana memegang mangkoknya yang masih panas. "Di sini nggak ada meja ya, Bu?"


tanya wanita itu, yang membuat Ikram menahan tawanya.


"Nggak ada atuh, Neng," jawab wanita itu sambil terkekeh. Kemudian wanita itu kembali ke depan untuk melayanii pembeli yang lain.


"Aku gimana mau makan, Kram? Panas banget tahu," gerutu gadis itu. Ikram tidak menjawab, pria itu membawa sebuah kursi plastik kosong di sampingnya, lalu menyimpannya di depan Olive.


"Simpan mangkuknya di sini," ucap Ikram sambil menunjuk kursi di sampingnya.

__ADS_1


Selama makan bubur Olive tak berhenti mengumpat, ia berjanji tidak akan pernah makan di pinggir jalan lagi. Menghabiskan satu mangkuk saja serasa berjam-jam bagi seorang Olive.


Sampai akhirnya gadis itu selesai dengan sarapan ribetnya. Ikram kemudian membayar makanannya lalu pergi dari sana.


Olive kembali menggerutu, "Aku nyesel makan di sana, Sayang. Pokoknya aku kapok."


Ikram mengusap kepala gadisnya dengan lembut. "Makannya lain kali ,jangan minta yang aneh-aneh, kamu itu udah aku jadikan ratu."


Olive pun makin bergelayut manja di lengan kokoh pria itu. "Sayang Ikram banyak-banyak pokoknya."


Kemudian keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang sudah disepakati dengan klien baru mereka. Sebuah resto makanan khas sunda dengan nama 'Sugema'. Ikram masuk ke sana dan mencari tempat duduk lesehan yang sudah kliennya itu pesan sebelumnya.


Baru saja pasangan itu duduk, tiba-tiba seseorang berkemeja hitam datang. Pria itu kemudian memperkenalkan diri dengan nama Jafin.


Ikram pun memepersilakan duduk kliennya. Mereka berbincang mengenai bisnis yang akan mereka bangun. Namun, ternyata Ikram akan membangun sebuah restoran dengan makanan khas korea di sana. Jafin adalah pria yang telah menjual Vanya beberapa saat lalu, pria itu memang berencana mengakhiri pekerjaan haramnya, jika mendapatkan uang yang cukup untuk membuka usaha baru.


Dengan percaya diri Jafin pun mengajak kenalan Ikram dan menawarkan diri untuk membangun usaha bersama. Awalnya, Jafin tidak yakin, tetapi pria itu mencobanya dan ternyata disambut baik oleh Ikram.


Ikram adalah pria yang selalu serius sola bisnis, sehingga ia akan membantu siapa saja yang ingin berbisnis dengannya dengan sungguh-sungguh.


Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya, Ikram pun menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Jafin. Jafin akan mencari lokasi untuk membangun tempat mereka. Jafin memang sudah mengenal lebih jauh di mana lokasi-lokasi yang strategis untuk membangun sebuah resto.


"Deal!" Ikram dan Jafin saling berjabat tangan. Percakapan mereka yang cukup lama, tak terasa makan siang pun mulai tiba. Akhirnya mereka pun memesan makan siang.


Ikram memesan menu istimewa yang ada di sana. Jafin sesekali kembali berbincang membahas rencana yanga kan mereka lakukan mulai besok.


"Saya akan pegang janji Anda, Tuan Jafin." Ikram kembali menegaskan kembali. Pria itu mengingatkan bahwa dirinya tak suka dikhianati, jika sampai hal itu terjadi, maka Ikram tidak akan melepaskan Jafin sampai kapan pun.

__ADS_1


Dengan berjalannya rencana Ikram, maka pria itu akan menetap sementara di kota Bandung, Sampai semuanya selesai dan berjalan dengan lancar. Ikram juga sedang menyusun rencana pernikahannya dengan Olive. Bagaimana pun ia harus bertanggung jawab karena telah membawa lari seorang gadis.


Keesokan harinya, Jafin benar-benar menunjukkan lokasi untuk membangun usaha mereka. Ada yang berupa lahan kosong ada juga yang berupa bangunan kosong yang disewakan.


"Bagaimana dengan pilihan saya, Pak Ikram?" tanya Jafin saat mereka menuju sebuah lokasi bangunan yang sudah jadi.


"Lumayan ya, tempatnya juga cukup strategis." Ikram melipat kedua tangannya di depan dada. Kali ini Olive tidak ikut, gadis itu menunggu di hotel. Apalagi, Olive juga mengeluh kecapean.


"Ada referensi tempat yang lain nggak selain ini?" Akhirnya Ikram bertanya.


"Ada, Pak. Banyak malah, mari saya antar ke tempat berikutnya." Jafin kemudian mempersilakan Ikram masuk ke mobilnya.


Mereka berdua pergi menggunakan mobil Jafin, pria itu yang mengemudikan mobilnya, sementara Ikram duduk santai di samping kemudi. Sesekali ia sibuk dengan ponselnya.


Tak berselang lama mereka sampai di tempat berikutnya. Ikram pun langsung menyetujui tempat itu. Entah mengapa tempat itu begitu menarik perhatian Ikram. Bangunannya juga luas dan ada dua lantai. Sementara di seberangnya terdapat sebuah warung makan khas Sunda, tetapi tidak bernama.


"Aku ingin tahu seberapa minat masyarakat sini terhadap makanan Korea atau makanan negeri sendiri," gumam Ikram sambil menarik satu ujung bibirnya.


Jafin pun menghubungi pemilik bangunan itu dan siap menyewanya selama satu tahun percobaan. Jika berhasil, maka kontraknya akan diperpanjang. Jafin, Ikram dan pemilik bangunan pun menandatangi surat perjanjian sewa dan membayar full selama satu tahun.


Karena dirasa Jafin dapat dipercaya, maka tentang perekrutan karyawan pun diserahkan semuanya kepada Jafin. Ikram hanya akan memantau semuanya dan menerima laporan saja.


Jafin bersyukur karena niat baiknya ternyata disambut baik. Semua rencananya begitu lancar. Jika semuanya sudah berjalan lancar, maka pria itu juga akan membawa sang ibu ke kota Bandung ini, dan menetap di sini.


Sementara itu, di tempat lain seorang gadis sedang bersusah payah pergi dari kejaran para preman. Gadis itu, dikejar karena belum memberikan setoran hasil mengemisnya.


"Ya Allah, selamatkan aku. Aku takut, aku ingin pulang." Gadis dengan sweater hitam itu bersembunyi di dalam bak sampah besar yang ada di pinggir jalan. Tidak peduli, badannya bau dan kotor, ia hanya ingin menyelamatkan dirinya, setelah diberi kesempatan kedua dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2