
Setelah belanja bersama, Yuki dan Mak Aminah menikmati kebersamaan mereka. Keduanya terlihat makin akrab. Sudah satu minggu, mereka bersama. Mak Aminah juga belum mau membuka warung nasinya, apalagi Yuki sudah merancang semuanya agar lebih kekinian.
Yuki alias Vanya adalah seorang desain interior yang bertugas untuk merancang sebuah ruangan agar terlihat lebih indah.Yuki sudah merinci semua bahan yang akan ia beli.
"Mak, nanti menu makanannya mau apa aja? Nggak mau bikin makanan korea kah?" tanya Yuki sambil mencoat-coretkertas rancangannya.
"Ah, udah we makanan khas Sunda, makanan asli Indonesia, Neng," jawab wanita itu sambil mengaduk masakannya di wajan.
"Okelah, aku lihat warung nasi ini belum ada namanya ya?" Yuki beranjak dari dari duduknya dan melihat ke kaca besar yang tertera hanya tulisan 'Warung Nasi Khas Sunda'.
"Mak bingung mau ngasih nama apa, udah pokoknya urusan itu terserah Neng Yuki aja, Mak ikut. Tugas Mak masak aja udah." Wanita kini menghampiri Yuki dengan satu mangkuk sup ayam di tangannya.
Yuki dan Mak Aminah sudah berbelanja sebagian barang yang dibutuhkan. Namun, Yuki baru akan mengerjakan semuanya mulai besok, karena masih menunggu beberpa barang yang belm lengkap.
Saat ini keduanya sedang menikmati makan siang mereka dengan sup ayam buatan Mak Aminah. "Masakan Mak memang the best." Yuki mengacungkan dua jempol tangannya.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dan mengambilkan sup ayam lagi untuk anak gadisnya.
Hari telah berlalu, Yuki benar-benar me-make over warung nasi Mak Aminah menjadi sangat indah dan unik. Gadis itu menjadikan warung nasi itu menjadi tempat lesehan, sementara kursi dan meja yang sudah ada dipindahkan ke luar dengan payung-payung besar di tengahnya.
Kebetulan halaman rumah makan itu cukup besar sehingga cukup untuk memuat meja dan kursi yang sebenarnya tidak terlalu banyak.
Dinding-dindingnya ia pasang wallpaper dengan motif bambu, sehingga khas pedesaannya makin terasa, sementara d sudut lain ia tempeli dengan wallpaper motif kartun, bertujuan untuk pelanggan yang membawa serta anak mereka yang masih kecil.
Mak Aminah merasa pangling ddengan tempatnya sendiri, ternyata, rumah itu cukup besar. Bahkan kamar mereka juga sudah di make over dengan baik oleh Yuki. Antara warung nasi dan tempat mereka, Yuki skat dengan pagar kayu yang bisa diputar untuk dibuka dan ditutup, sehingga privasi mereka tetap terjaga.
Sementara itu di seberang juga bangunan ang ternyata milik Ikram, sudah hampir selesai, dugaan Yuki memang benar, mereka akan membuka rumah makan khas Korea.
"Mak, kayanya kita bakal barengan buka sama yang di seberang deh." Tunjuk Yuki dengan dagunya saat mereka sedang beristirahat dikursi depan.
"Biarinlah, rizki sudah ada yang ngatur, kita nggak perlu takut." Mak Aminah menjawab sambil menatap ke arah warungnya yang lebih keren sekarang.
__ADS_1
Jangankan orang lain, dirinya saja sekarang merasa nyaman tinggal di sana. Saat masuk pun suasananya sudah benar-benar terasa adem, beda dengan dulu, saat masuk suasananya pengap dan bsa dibilang angker.
Sementara itu, Yuki sedang mengepalkan tangannya saat kembali melihat iblis berkedok malaikat yang dengan tega menjual dirinya.
"Kita lihat saja siapa yang lebih unggul," gumamnya pelan.
**
Di Jakarta
Di ruangan sebuah rumah sakit terlihat beberapa orang sedang berkumpul. Seorang pria tua duduk di ranjang pesakitannya. Namun, semua alat rumah sakit yang dulu menempel di tubuhnya, kini sudah terlepas.
"Apa yang terjadi dengan Hanan? Kenapakalian menyembunyikan semuanya dari aku?" Pria itu berucap dengan marah saat baru mengetahui bahwa putranya sedang koma di rumah sakit yang sama.
"Tenanglah, Ayah. Kita akan membicarakan semuanya di rumah." Wanita berbaju biru itu mencoba menenangkan ayah mertuanya.
"Kamu juga sama saja, Manda," bentak pria tua itu yang tak lain adalah Fathan, kakeknya Ikram.
Saat Fathan turun dari ranjangnya, ia baru menyadari bahwa cucunya yang baru menkah tidak ada diantara mereka. "Mana Ikram dan istrinya, aku ingin sekali bertemu mereka?"
Manda dan putri sulungnya salng berpandangan, mereka bingung harus menjawab apa. "Manda mana Ikram?" Pria itu mengulang pertanyaannya.
"Ayah, mereka masih pengantin baru, Ayah pasti mengerti." Manda mencoba menjawab dengan tersenyum di bibirnya untk menyembunyikan kekalutannya.
Mereka pun akhirnya keluar dari rumah sakit, saat ini Fathan dan keluarganya berada dalam satu mobil menuju pulang. Tidak ada percakapan selama perjalanan pulang, Manda dan Tania takut jika mereka keceplosan mengenai kegagalan pernikahan antara Ikram dan Vanya.
Tak berselang lama mereka pun sampai ke kediaman Pradana. Fathan bernafas lega saat dirinya sudah menginjakkan kakinya lagi di teras rumahnya. "Akhirnya aku kembali."
Bersamaan itu dering ponsel Manda terdengar begitu nyaring dari tasnya, wanita cantik itu pun langsung mengambil benda itu dan tertera di sana nama salah satu suster yang merawat suaminya.
"Iya, Sus?" Manda langsung menjawab panggilan teleponnya saat itu juga, rasa khawatir mulai terbit di hatinya, ia takut terjadi sesuatu pada suaminya.
__ADS_1
"Apa? Suster nggak bohong, kan?" Manda menggenggam erat tangan Tania yang sedang menatapnya dengan cemas.
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Sus." Manda pun menutup panggilan teleponnya.
"Ada apa, Mi?" Tania mengguncang lengan maminya.
"Papi, Tan, papi ...."
"Iya, kenapa dengan papi?"
"Alhamdulillah papi udah sadar, Tania. Mas Hanan sudah sadar, Ayah." Wanita itu berbalik ke arah ayah mertuanya dan memberitahu keadaan suaminya.
"Alhamdulillah, apa itu artinya aku harus kembali ke rumah sakit?" Pria tua itu menatap murung ke arah menantunya.
Manda menggelengkan kepalanya dan mengajak masuk ayah mertuanya. "Ayah istirahat saja di rumah, biar Manda yang kembali ke rumah sakit."
Hanan sudah kembali sadar setelah sekian lama koma akibat kecelakaan waktu itu. Pria itu saat ini sedang memanggil nama putra bungsunya. "Di mana Ikram, Sus?"
"Bapak sebaiknya istirahat, jangan banyak bergerak dulu, Pak." Suster berbaju putih itu membujuk Hanan yang ingin bangkit dan berteriak memanggil nama Ikram.
"Mana Ikram!" bentaknya.
Sekarang sudah ada beberapa perawat pria yang membantu menenangkan Hanan. Sampai akhirnya, Manda kembali dengan setengah berlari. Wanita itu menatap suaminya yang tiba-tiba tak terkendali.
"Maaf, Bu Manda siapa Ikram?" tanya dokter dengan kacamata bertengger di hidungnya.
"Dia putra kami, Dok. Kenapa dengan suami saya, Dok?" Manda terlihat khawatir saat melihat suaminya yang tak terkendali seperti itu, padahal dia sudah bahagia mendengar bahwa suaminya siuman.
"Sepertinya, Pak Hanan sangat merindukan putra Anda, Bu. Apa dia tidak ada di kota ini?"
Manda tertegun, ia tak mungkin menceritakan semuanya, sampai akhirnya ia pun mengangguk.
__ADS_1