
Sudah satu minggu Vanya tinggal di taman kota. Gadis itu harus pintar-pintar bersembunyi dari petugas taman. Ia juga harus rela makan seadanya dengan uang yang pas-pasan. Menggunakan pakaian yang sama selama satu minggu membuat Vanya terlihat begitu kotor jauh dari kata cantik. Tidak ada baju, tidak ada uang, apalagi skincare untu perawatan. Vanya benar-benar berjuang keras untu bertahan hidup.
Adaptasi yang cukup membuat Vanya stres. Bagaimanapun Vanya terlahir dari keluarga berada yang selalu mendapatkan apapun yang diinginkan. Namun, tidak dengan saat ini. Semua ini gara-gara Ikram, pria yang ia tolong untuk menyembuhkan kakeknya, malah membuat dirinya hancur seperti sekarang.
Ada dendam di matanya saat, gadis itu mengingat pernikahan gagal itu. Pria yang tiba-tiba datang memaksa meminta bantuan, tetapi saat dirinya setuju membantu, ia malah dengan tega menghancurkan hidupnya sampai di titik terendah.
Hari ini, Vanya baru saja dari toilet, gadis itu akan mencari sarapan dengan sisa uangnya yang tinggal dua puluh ribu rupiah. "Beli apa dengan uang segini sih?" Vanya berjalan sambil menenteng uang dua puluh ribu itu di tangannya. Baru saja ia melihat gerobak lontong sayur dengan harga lima belas ribu, tiba-tiba seorang anak remaja menjambret uangnya dengan cepat, kemudian anak remaja itu berlari menjauh.
"Hei!" Vanya terpaku saat uang terakhirnya sudah raib dari tangannya juga. "Aaaarhg!"
Bersamaan itu, beberapa orang berlari cepat ke arahnya, bahkan ada yang menabraknya, hingga gadis itu limbung.
"Razia, razia!" teriak seorang pria sambil berlari dengan beberapa barang dagangannya.
Vanya yang merasa tidak akan tertangkap, berjalan biasa saja, sampai dua orang petugas menyeret tubuhnya menuju mobil patroli. "Sudah dibilangin jangan mengemis di sini, susah banget dibilangin. Naik!" bentak pria berseragam satpol pp itu.
"Aku bukan pengemis," kilah Vanya sambil berontak, tetapi dipaksa naik oleh petugas lainnya.
Namun, bersamaan itu datang seorang pria tampan dengan kemeja pendek warna abu menghampiri petugas satpol pp itu. Dia membisikkan sesuatu pada petugas itu kemudian mengangguk.
"Lain kali jangan kabur-kaburan dari rumah lagi ya, Neng. Kasihan abangnya nyariin, sana pulang gih!" ucap petugas itu sambil melepaskan Vanya dan mendorong tubuh gadis itu pada pria tampan tadi.
Vanya tertegun mendengar ucapan petugas itu, sementara pria berkemeja pendek itu mengucapkan terima kasih dan mengangguk. Kemudian, ia menarik tangan Vanya.
"Hei, jangan sentuh aku! Siapa kamu?" Vanya berontak saat tangannya terus ditarik untuk mengikuti pria tak dikenal itu.
"Sssttt! Jika kamu bersikap seperti ini kamu mau dibawa ke kantor polisi?" ucap pria itu santai. Vanya langsung menggeleng dan mengikuti pria tak dikenal itu.
__ADS_1
Vanya diajak ke sebuah mobil Jeep warna hitam, awalnya gadis itu ragu-ragu, karena ia sekarang tahu bahwa orang jahat itu memang ada.
"Kenalin aku Jafin, kamu bisa panggil aku Bang Jafin." Pria itu mengulurkan tangannya. Namun, Vanya masih enggan untuk menerima uluran tangan itu, sampai akhirnya pria bernama Jafin itu menarik tangan Vanya kembali. "Siapa nama kamu?"
"Vanya."
"Nama yang cantik. Tenanglah aku hanya ingin membantumu, aku sudah memperhatikanmu sejak tiga hari lalu, Vanya." Jafin berucap lembut.
Baru kali ini, Vanya merasa terharu, karena ada orang yang mau membantunya. Pria tampan yang begitu lembut, sempurna.
"A-apakah kamu tidak akan merampokku? Aku sudah tidak punya apa-apa, semua barangku sudah hilang dicuri," papar Vanya.
Jafin terkekeh mendengar pertanyaan gadis di depannya. "Aku hanya ingin membantumu, sepertinya sudah lama kamu tidak mengganti baju, bukan?"
Vanya melihat bajunya yang sudah kotor. "Ikutlah bersama Abang," ajaknya.
Vanya akhirnya menuruti perkataan pria yang baru dikenal itu. Mereka memasuki mobil Jeep milik Jafin. Pria itu lalu mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Tidak ada percakapan penting selama perjalanan menuju rumah Jafin.
Tak berselang lama, pria itu pun memarkirkan mobilnya di sebuah halaman yang cukup luas dengan rumah bercat putih.
Jafin pun mengajak Vanya turun, lalu membawanya masuk ke rumah. Tampak seorang wanita tua duduk di kursi roda. Wanita itu hanya menatap kosong ke arah jendela, bahkan ia tak bereaksi saat Jafin dan Vanya datang.
"Dia ibuku, sudahlah lebih baik kamu bersihkan dirimu dan aku akan menyiapkan baju untukmu. Ada baju punya adikku." Jafin membawa Vanya menuju ke ruangan berikutnya.
Setelah menunjukkan kamar mandi dan baju gantinya, Jafin pun kembali ke ruang depan untuk menemui ibunya. "Ibu, udah makan? Maaf Jafin lama keluarnya," ucap pria itu lembut.
Wanita tua itu menatap sang putra, kemudian mengusap kepalanya, tanpa berkata sepatah kata pun. "Jafin akan berusaha membuat ibu sembuh kembali, cukup Rena yang pergi, ibu jangan pernah tinggalin Jafin ya."
__ADS_1
Wanita tua itu kembali menatap kosong ke arah jendela.
Sementara itu, di kamar lain, Vanya baru saja menyelesaikan mandinya. Ia membersihkan tubuhnya berkali-kali, karena sudah satu minggu ia hanya mandi air saja tanpa sabun dan kembali menggunakan baju yang sama.
Kali ini, ia akan mengganti bajunya. Ukurannya ternyata sangat pas di tubuhnya. Dulu mana mau seorang Vanya menggunakan baju orang lain, tetapi kali ini berbeda ia sangat membutuhkannya. Sebuah dress selutut berwarna ungu muda dengan lengan pendek. Kemudian ia menatap wajahnya di cermin, kali ini terlihat lebih segar.
Tak berselang lama, sebuah ketukan di pintu mengalihkan pandangannya. "Iya, sebentar." Vanya kemudian membuka pintu kamarnya.
Jafin tertegun saat melihat kecantikan Vanya. Namun, untuk menghilangkan rasa terpesonanya, ia pun bertanya, "Sudah selesai?"
Vanya hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh, iya di meja rias itu juga ada kosmetik milik adikku kamu bisa memakainya," ucap Jafin.
"Makasih, oh iya adik kamu memangnya nggak akan marah? Di mana dia?" tanya Vanya.
Jafin mengepalkan tangannya saat mengingat sang adik. "Dia pergi, pakai saja dia tidak akan marah."
Vanya pun mengangguk dan kembali tersenyum. Jafin adalah malaikat tak bersayap berikutnya setelah sang mami. "Makasih telah mengabulkan doaku, Ya Allah."
Vanya pun mulai menggunakan krim siang yang tersedia di meja rias itu. Ia hanya berharap agar krim itu cocok untuk kulitnya.
Setelah selesai berhias, kini perutnya yang meminta jatah. Vanya baru sadar kalau dirinya belum makan apapun sejak pagi tadi, sampai akhirnya ia tertangkap satpol pp.
"Duh, laper banget lagi. Mau minta malu, mau beli nggak ada uang," gumam Vanya yang kini memegangi perutnya.
Namun, Jafin memang benar-benar malaikat tak bersayap, ia seolah tahu apa yang sedang dibutuhkan oleh Vanya. Pria itu, tiba-tiba kembali dan menyuruhnya untuk makan siang. Vanya pun langsung beranjak dan mengikuti pria itu, dan lagi mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Vanya pun dibiarkan makan di meja makan sendirian.
"Aku sudah menemukannya, tenang saja barang ini lebih bagus dari yang kemarin dan terlihat masih orisinil."