
"Jangan, jangan!"
"Ikram, Ikram! Bangun, Nak!" Manda mengguncang bahu putranya dengan agak kencang.
"Jangan pergi, Vanya!" Ikram langsung terjaga dari tidurnya dengan keringat yang membasahi dahinya.
"Kamu mimpi aja, Ikram?" Manda menatap putranya dengan khawatir.
"Mami? Ini jam berapa?"
"Ini jam 4 pagi. Kamu bangun salat lalu siap-siap. Kamu tidak lupa kan kalau hari ini pernikahanmu dengan Vanya?" ucap wanita paruh baya itu dengan senyum di bibirnya.
"Ah, baiklah."
"Mami ke bawah dulu. Jangan tidur lagi!"
"Hm."
Setelah sang mami keluar dari kamarnya, Ikram mengusap wajahnya dengan gusar. "Kenapa mimpi itu seperti nyata, aku sudah menyesali semuanya Ya Allah."
Kemudian Ikram pun turun dari ranjang lalu berjalan menuju toilet. Pria itu hendak membersihkan dirinya. Ketakutannya akan mimpi itu membuat pria itu akhirnya bersujud pada Yang Kuasa untuk mohon ampunan dan agar diberi kelancaran untuk hari pernikahannya ini.
Kali ini Ikram benar-benar memohon ampun dan pasrah dengan semuanya. Pria arogan itu akhirnya bersimpuh pada penciptanya.
Hari pun beranjak pagi, matahari sudah menampakkan dirinya di ufuk timur. cahayanya pagi ini masih menghangatkan. Keluarga Pradana sudah sibuk dengan persiapannya untuk mengantar putra bungsu dari Hanan dan Manda menuju pelaminan.
Ikram begitu gagah dengan tuxedo yang sudah disiapkan sebelumnya, begitu juga dengan keluarganya yang lain. Mereka semua sudah siap dengan pakaian terbaik mereka.
"Sebentar lagi kita akan berangkat," ucap Fathan.
"Coba kamu cek lagi apa semuanya sudah siap?" ucap Hanan pada seseorang yang berpakaian serba hitam dan pria itu hanya mengangguk lalu pergi untuk menjalankan perintah atasannya.
Sekitar pukul 08.00 akhirnya keluarga Ikram berangkat menuju ke kediaman mempelai wanita. Mereka semua terlihat bahagia karena pernikahan kali ini tak akan gagal.
Ikram duduk di belakang diapit oleh Manda dan Tania, kakaknya.
"Kamu harus bertanggung jawab pada istrimu, Ikram." Manda terus mengulang kalimatnya selama perjalanan.
__ADS_1
"Iya, Mami. Ikram akan bertanggung jawab. Ikram janji."
Kini hening menghinggapi mereka. Ikram juga mencoba membuka ponselnya untuk melihat pesan yang ia kirim pada calon istrinya itu, ternyata masa centang abu.
Apa kamu benar-benar sibuk Yuki, hingga tak bisa membaca pesanku?
Saat pria itu fokus pada ponselnya, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak hingga Manda dan Tania hampir saja terantuk jok depan kalau tidak segera dihalangi tangan Ikram.
"Ada apa ini, Tito?" tanya Ikram pada supirnya.
"Maaf, Tuan di depan ada pengendara motor wanita yang ugal-ugalan."
Ikram langsung fokus pada pengendara wanita di depan yang saat ini masih menghalangi mobilnya. "Yuki?" Ikram langsung turun dari mobilnya untuk memastikan bahwa gadis di depannya itu bukanlah calon istrinya.
Ikram berjalan dengan cepat menghampiri gadis dengan helm warna merah muda itu. Ikram sudah mengepalkan tangannya saat mendapati seorang gadis yang mirip dengan Vanya mengendarai motor.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Vanya?" geram Ikram sambil membuka kaca helm gadis itu. Namun, saat dilihat lebih dekat wajah gadis itu bukanlah Vanya.
"Maaf, saya kira ... lain kali berhati-hatilah!" Pria itu pun langsung berbalik dan masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Ayo jalan!" Ikram berucap setelah gadis itu menepikan motornya.
"Bukan, Kak."
"Ah! Syukurlah lagian seingat kakak, Vanya itu tak pernah memakai pakaian tanpa lengan seperti itu dengan celana pendek di atas lutut lagi." Tania menatap wajah adik laki-lakinya.
Ikram berpikir dan perkataan sang kakak memang benar, Vanya tak pernah mengenakan baju seterbuka itu selama yang ia kenal, palingan hanya menggunakan kaos lengan pendek dan celana panjang.
"Sudah, mami yakin Vanya sedang menunggumu di sana. Biasan saat ini mempelai wanita sedang didandani dengan sangat cantik." Wanita paruh baya itu mengusap punggung putra bungsunya. Ikram hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.
Sementara itu di kediaman Pradana Vanya sedang dirias oleh MUA yang saat itu juga meriasnya Keynara dan Amita. Dengan telaten dan hati-hati Keynara merias wajah cantik Vanya.
"Mbak Vanya udah cantik jadi riasannya juga nggak terlalu banyak, tapi aku yakin orang yang lihat pasti pangling." Keynara berkata tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Aku mau ke toilet dulu boleh nggak sih?" tanya Vanya sambil membuka matanya karena saat ini Keynara sedang merias bagian kelopak matanya.
"Oh, boleh dong silakan, tapi jangan ketiduran ya," ucap wanita cantik itu sambil terkekeh geli.
__ADS_1
Vanya pun beranjak, saat ini dirinya masih menggunakan leging dan juga kemeja jadi dia dengan mudah beranjak dan oergi ke toilet. Thea dan Nisa yang berada di sana juga mengawasi Vanya. Karena subuh tadi wanita itu sempat menghilang entah ke mana, apalagi ada sebuah tangga di balkon kamarnya.
"Teh Thea, Teh Yuki nggak mau dilihat dulu apa? Nisa kok khawatir ya," ucap gadis berambut pendek itu, padahal keduanya masih sama-sama dirias oleh asisten Keynara.
"Iya, ya. Aku lihat dulu deh." Thea pun beranjak lalu berjalan ke arah toilet. Saat wanita itu akan mengetuk pintu toilet, Vanya membuka pintunya. "Thea? Mau ke toilet juga?" ucapnya santai.
"Eh, i-iya." Thea pun masuk ke sana lalu menutup pintunya. Namun, baru saja ditutup ia langsung membukanya kembali.
"Kenapa?" Vanya mengerutkan keningnya melihat tingkah sepupunya itu.
"Nggak jadi." Thea menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil terkekeh salah tingkah.
"Udah sana kamu kan harus dirias lagi, katanya mempelai prianya sebentar lagi datang, mereka sudah di perjalanan lho."
Hal itu entah mengapa membuat Vanya menjadi tak karuan, jantungnya berdebar kencang. Eh tolong ya hati kamu jangan khianati aku, katanya semalam mau kabur malah balik lagi. Sekarang malah deg-degan kaya gini apa-apaan coba?
Vanya kembali ke kursinya lalu ia pun dirias kembali. Merias wajah seorang pengantin ternyata cukup memakan waktu yang lama dibandingkan dengan yang lainnya.
Saat Vanya selesai dirias, ia pun mulai menggunakan gaun pengantinnya. Wanita itu benar-benar terlihat paripurna. Bersamaan itu seseorang memberitahukan bahwa mempelai pria telah datang.
"Cantiknya anak mami!" seru Ayudia saat melihat putri semata wayangnya.
"Mami, ah Vanya sayang banget sama mami." Gadis itu langsung mendekap tubuh maminya.
"Baiklah kamu duduk manis di sini dan jangan pergi ke mana pun! Nanti saat akad kami akan menjemputmu."
Vanya terdiam lalu akhirnya mengangguk. Ayudia pun turun ke bawah untuk menyambut calon menantunya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia di hari pernikahan putrinya ini.
Sambutan pun berlangsung dengan lancar dan khidmat. Setelah acara sambutan dan lain-lain kini saatnya acara inti yaitu akad pernikahan.
"Ayo panggil putri kita, Sayang," ucap Ehsan pada sang istri.
"Iya, Sayang."
Saat sampai di lantai atas, wanita paruh baya itu langsung memasuki kamar putrinya.
"Mana Vanya?"
__ADS_1
"Vanya hilang, Tante."