Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Kesiyalan Ikram


__ADS_3

Yuki disuruh Mak Aminah untuk berbelanja beberapa bumbu yang sudah habis dan akan digunakan memasak untuk sore hari. Gadis itu pun menghubungi Agam untuk mengantarnya pergi ke pasar seperti biasa, selain itu juga untuk mengisi saldo pulsa yang sudah habis.


"Bang cepetan atuh!" Yuki menegur Agam yang baru saja dan membuka helmnya untuk menemui Mak Aminah.


"Udah siap emangnya, Neng?" Yuki hanya mengangguk. Namun, saat gadis itu hendak mengambil helm yang diberikan Agam, tiba-tiba seseorang mengambil helmnya dan berkata bahwa dia yang akan mengantarnya. Yuki tentu saja kaget karena pria itu tak lain adalah Ikram. Gadis itu pun langsung merebut kembali helmnya, kemudian langsung naik ke motor Agam.


"Buruan, Bang!" Yuki menepuk bahu Agam agar pria itu segera melajukan motornya. Tanpa diduga Yuki, ternyata Ikram mengikutinya dengan naik ojek pangkalan.


"Ngapain ngikutin gue sih?" gumam Yuki saat melihat dari kaca spion.


"Kenapa, Neng?" Agam merasa kalau gadis di belakangnya berbicara sesuatu.


"Nggak, Bang. Nanti pulangnya kita makan bakso lagi yuk!" Yuki berkata sedikit berteriak agar didengar oleh Agam.


"Siap, Neng." Agam pun kembali fokus pada jalanan. Tak berselang lama, mereka pun sampai di pasar tempat biasa belanja. Yuki turun dari motor lalu memberikan helmnya pada Agam. Setelah memarkirkan motornya dengan benar, Agam pun mengikuti Yuki yang sudah lebih dulu masuk ke dalam pasar. Bersamaan itu Ikram juga sampai di sana. Pria itu meminta agar ojeknya menunggu dan berjanji akan membayar lima kali lipat.


Pengemudi ojek itu tentu saja setuju, jika dibayar lima kali lipat, dirinya tak perlu bolak-balik ke pasar dua kali. "Saya tunggu di sini, Kang." Ojek itu menganggukkan kepalanya.


Ikram pun mengangguk dan memberikan helmnya pada pria berjaket itu. Kemudian pria itu bergegas masuk untuk bisa bertemu dengan Yuki. Namun, tanpa ia duga ternyata suasana pasar begitu ramai dan banyak jalan hingga Ikram kebingungan harus berjalan ke arah mana.


"Ah, siyal! Aku kira pasar itu nggak seramai ini padahal udah siang." Ikram menggerutu sambil terus berjalan. Walaupun saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian orang, bagaimana tidak penampilannya yang berbeda walaupun tidak menggunakan jas, tetapi wajah tampannya benar-benar menarik perhatian mereka.

__ADS_1


"Mau beli apa ,Ganteng. Sini mampir!" teriak seorang wanita yang berjualan makanan ringan. Namun, Ikram sedang memasang wajah juteknya, sehingga ia tak menggubris pertanyaan setiap orang yang menyapanya.


Pria itu sudah berkeliling, tetapi masih belum juga menemukan Yuki dan pria nggak jelas itu. "Ke mana kamu , Yuki?" Ikram mengusak rambutnya gusar, bahkan sudah beberapa kali ia menyapa orang yang salah.


Sementara itu di lantai atas pasar itu, Yuki dan Agam baru saja menyelesaikan pembayaran belanjaannya. "Hatur nuhun ya, Teh." Yuki mengangguk setelah mengambil uang kembaliannya. Agam seperti biasa bertugas mengangkat barang belanjaannya.


"Udah, Bang. Sekarang kita ke counter depan dulu ya, baru kita makan bakso." Yuki berkata sambil menutup resleting tasnya. Agam berjalan lebih dulu untuk menyimpan barang belanjaannya terlebih dahulu, todak banyak hanya satu dus saja.


Saat turun ke lantai bawah, Agam hampir saja menabrak seseorang berkaus putih dengan tubuh lebih tinggi dari dirinya. Penampilannya seperti orang kaya. "Maaf, Kang."Agam mengangguk lalu langsung berlalu dari sana untuk sampai ke motornya.


Saat Yuki turun, gadis itu melihat ada Ikram di sana. Gadis itu pun langsung berbalik ke atas untuk mengambil jalan yang berbeda. "Ah, ngapain coba ngikutin sampai sini?Gue doain nyasar lo nggak bisa keluar pasar." Yuki bergumam sambil berjalan cepat.


Saat ia menuruni tangga yang berbeda, Yuki pun melirik ke arah kiri dan kanan untuk melihat situasi bahwa tidak ada Ikram di sana. Benar saja pria itu tak terlihat lagi, Yuki pun berjalan cepat setengah berlari untuk sampai ke motor Agam. Terlihat pria itu sudah duduk di motornya dengan menggunakan helm, dan satu tangannya memegang helm milik Yuki.


Hanya sebentar saja, Yuki di sana kemudian gadis itu pun mengajak Agam untuk ke kedai bakso langganan mereka. "Akhirnya selesai juga. Ayo, Bang kita ngebakso!"


"Siap, Neng." Agam pun melajukan motornya sedikit ke depan setelah Yuki menaiki motor. Mereka akan makan bakso seperti kebiasaan mereka jika sudah berbelanja.


"Pesen kaya biasa, Kang," ucap Agam pada penjual baksonya.


"Siap, Kang. Terus hubungannya masih biasa aja apa udah luar biasa, Kang?" Pria berbaju hitam itu tergelak saat menggoda Agam.

__ADS_1


"Haish, masih PDKT," bisik Agam sambil tertawa pula. Sementara Yuki sudah duduk di tempatnya.


Tak berselang lama, pesanan mereka pun datang. Yuki langsung meracik bumbu kesukaannya, begitu juga dengan Agam. Namun, saat di pertengahan acara makan mereka, ponsel Yuki berdering. Ternyata Mak Aminah yang menelepon. "Iya, Mak ... oh iya-iya Yuki pulang sekarang, Mak." Gadis itu langsung menutup sambungan teleponnya


"Buruan, Bang. Mak mau masak lagi. Ayo!" Yuki langsung beranjak dari duduknya dan mengeluarkan uang lima puluh ribuan satu lembar. Gadis itu pun membayarnya seperti biasa lalu mereka pun pulang.


Sementara itu, Ikram masih berkeliling di pasar, kali ini pria itu naik ke lantai dua. Suasana di sana sudah agak sepi, karena kebanyakan pedagang di lantai atas adalah pedagang sayuran. Akhirnya, Ikram pun kembali ke lantai bawah karena tak menemukan Yuki juga.


Hari sudah menjelang sore, semua toko di pasar itu hampir separuhnya sudah tetapi Ikram kali ini malah bingung mencari jalan keluar. "Siyal! Aku tadi lewat mana?"


Ikram terus berkeliling di sana, sampai akhirnya seseorang menepuk bahunya. "Maaf, Kang, pasarnya udah mau ditutup," ucap seorang pria berseragam putih biru itu.


"Tolong antar saya keluar, Pak. Saya lupa jalannya ke arah mana," jawab Ikram yang bernafas lega. Pria itu pun mengangguk, lalu membantu Ikram menuju arah keluar. Padahal hanya tinggal sedikit lagi, tetapi mungkin karena kelelahan ia pun jadi bingung, apalagi ia juga belum makan siang.


Sepertinya kesiyalan Ikram tak berhenti di dalam pasar, karena saat ia keluar pun ojek yang tadi sudah berjanji menunggunya juga sudah hilang, untung saja Ikram sudah membayarnya seratus ribu tadi di awal.


"Argh!" Ikram memekik, lalu ia pun akhirnya naik angkutan umum untuk sampai ke restonya. Tidak dia akan pergi ke warung nasi Mak Aminah untuk membuat perhitungan dengan Yuki.


"Awas kamu, Yuki. Pokoknya kali ini aku tak akan melepaskanmu."


...****************...

__ADS_1


Happy Reading guys


Oh iya mau ngasih tahu kalau selama di kota Bandung, Vanya akan berubah jadi Yuki ya, jadi aku akan tulis Yuki bukan Vanya.


__ADS_2