Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Pergi ke Bandung


__ADS_3

Pagi ini Vanya akan melanjutkan perjalanannya.Gadis itu membawa kantong keresek hitamnya setelah keluar dari masjid yang ia tempati semalam. Gadis itu akan memulai hidup baru, sebagai orang baru tanpa keluarganya.


Vanya menyesal kenapa tidak membawa semua ijazahnya. Seenggaknya dia bisa melamar kerja di sebuah perusahaan. Karena ia menyangka bahwa sang papi akan mencarinya, tetapi ternyata tidak, dirinya benar-benar sudah dihapus dari kartu keluarga Pradipta.


Namun, penyesalan memang selalu datang terakhir. Vanya pun menyusuri trotoar sepanjang perjalanan. Ia sudah berniat puasa hari ini, sehingga uang yang tinggal dua puluh ribu itu tetap ama di saku celananya.


Beruntungnya hari ini cuaca agak mendung, sehingga Vanya tak perlu berpanas-panasan untuk berjalan kaki.


"Mau ke mana, Neng?" Entah pertanyaan ke berapa kali yang Vanya dengar selama perjalanan, tetapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.


Hari sudah beranjak siang, dan matahari pun sudah menampakan sinarnya yang menyilaukan mata. Saat melihat pohon yang rindang, gadis itu pun berhenti untuk beristirahat. Sambil menahan dirinya yang saat ini sedang kehausan, Vanya duduk sambil memejamkan matanya.


Lalu lalang orang dengan urusannya masing-masing tak membuat gadis itu terganggu. Sekitar atu jam berada di bawah pohon rindang, semilir angin membuat gadis itu akhirnya benar-benar terlelap.


Vanya benar-benar tertidur di pinggir jalan dengan memeluk kantong kereseknya.Saat dirinya sudah pergi ke alam mimpi, ia seolah melihat ada seorang wanita paruh baya yang memanggilnya.


Sementara itu di jalan yang berhadapan dengan Vanya tertidur, terdapat sebuah mobil berwarna merah. Pengemudinya, terlihat mencari seseorang.


"Kamu yakin pernah melihat Vanya di sini?" tanya pria itu.


"Kata si penelepon sih iya, Mas. Aku sangat merindukan dia." Wanita di sampingnya juga terlihat melakukan hal sama dengan suaminya.


"Jalan ini sudah mendekati ke kota Bandung, Mi. Bagaimana kalau kita ke sana saja." Pria yang tak lain adalah Ehsan itu memberi saran.


"Ke manapun yang penting Vanya ketemu, Mas." Ayudia menganggukkan kepalanya cepat.


Ehsan pun melajukan kembali mobilnya menuju kota kembang. Bersamaan dengan kepergian Ehsan, Vanya terbangun dan mengucek matanya. "Mami," gumamnya. Namun, saat matanya benar-benar terbuka, gadis itu ternyata masih tetap berada di jalanan. Walaupun ia bertekad untuk menjadi dirinya sendiri, tapi kerinduannya pada sang mami tetap begitu besar.


"Sadar Vanya, kamu bukan bagian dari mereka lagi." Gadis itu pun beranjak dan terus melakukan perjalananya menyusuri trotoar. Setiap ada masjid, ia kan berhenti untuk melaksanakan salat. Hal yang sebelumnya jarang ia lakukan, karena sibuk dengan kesenangannya sendiri.


Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Namun, walaupun, saat ini ia lebih rajin salat, tetapi dendam di hatinya tetap ada. Dia tetap ingin membalas semuanya pada Ikram.


"Aku bersumpah kamu akan bertekuk lutut di hadapanku, Ikram."

__ADS_1


Malam sudah tiba dan gadis itu sudah memasuki kawasan kota Bandung. Vanya mencari makanan untuk berbuka puasa. Dia mencari makan yang bisa dibeli dengan uang sepuluh ribu rupiah.


Ternyata ada, ia bisa makan nasi dengan lauk satu telur dadar dan tempe goreng.


Vanya pun kembali mencari masjid atau mushola. Kali ini baginya tempat yang paling aman adalah di rumah Allah.


Vanya menikmati makanannya di teras masjid. Gadis itu juga akan menginap di sana malam ini. Belum ada rencana apapun, Yang jelas ia sudah berada di kota lain, tanpa barang apapun juga tanpa identitas. Saat melaksanakan salat magrib dan isya berjamaah, gadis itu meminta izin pada orang yang menjaga masjid itu.


"Pak, bolehkah saya menginap di sini untuk beberapa hari?" tanya gadis itu sopan.


Pria yang menggunakan sarung dan kopiah itu, menatap Vanya sebentar sebelum menganggukkan kepalanya. "Kenapa nggak nyewa tempat kos aja,Neng, dari sin deket kok?"


Vanya sebenarnya ingin menangis, tetapi gadis itu menahannya. "Saya mau cari kerja di sini, Pak. Bahkan saya cuma punya barang ini." Vanya menunjukkan kantong kereseknya dan memperlihatkan isinya.


Pria itu mengangguk dan menatap sendu gadis di depannya. "Boleh kalau gitu, tapi di belakang ya, di sana ada satu ruangan untuk menyimpan barang-barang, tidak banyak kok."


"Baiklah, terima kasih, Pak. Saya akan membalas jasa Bapak, suatu hari nanti." Vanya membungkuk.


"Kamu mengingatkanku pada putriku yang sudah tiada ...." Pria itu bergumam kecil tetapi masih terdengar jelas oleh Vanya.


Vanya bersyukur masih bisa tidur di tempat yang teduh dan tanpa diganggu oleh pengguna jalanan yang lainnya. Selain itu, tempat ini juga adalah tempat paling aman untuk dirinya.


**


Keesokan paginya, Vanya kembali berpuasa. Uangnya tinggal sepuluh ribu rupiah lagi. "Hari ini aku harus mencari pekerjaan. Bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan itu."


Setelah membersihkan dirinya dan mengganti bajunya, gadis itu keluar dengan suasana yang baru. Namun, baru saja ia akan pergi, pria tua yang semalam mengizinkannya tidur di masjid itu menghampirinya.


"Neng, ke mana?" tanyanya.


"Mau nyari kerja, Pak." Vanya menjawab seadanya.


"Istri saya bilang nanti menginap di rumah saja, oh iya ini dia juga udah bikin sarapan buat Neng ...." Pria yang selalu menggunakan sarung itu memberikan bungkusan di tangannya.

__ADS_1


"Va ... Yuki, nama saya Yuki, Pak." Vanya menyebutkan nama lain.


"Oh iya, Neng Yuki ini sarapannya."


"Terima kasih, Pak. Aduh jadi ngerepotin." Vanya menerima bungkusan itu.


"Ya sudah nanti pulangnya Bapak tunggu di sini saja, biar Bapak ajak ke rumah ya buat bertemu ibu," pungkas pria tua itu. Vanya pun mengangguk kemudian pamit undur diri.


Vanya membawa makanan yang diberikan pria tua tadi, bahkan ia belum tahu siapa nama pria yang dengan baik mau membantunya itu. Vanya terus berjalan menyusuri jalanan yang panjang. Gadis itu mencari perusahaan yang membutuhkan pekerja. Namun, saat melihat penampilannya di cermin, ia tertawa. "Vanya-Vanya lo gila, mau ngelamar ke perusahaan dengan modal omongan doang?"


kemudian gadis itu pun kembali melanjutkan perjalanannya, ia mencari pekerjaan apapun yang penting halal. Saat berjalan, ia menemukan sebuah restoran yang cukup ramai, dengan modal nekad ia pun masuk. Namun, baru saja ia akan melewati pintu depan , tubuhnya dihadang oleh sekuriti.


"Mau ke mana? kalau mau ke sini harus pakai baju resmi, Nona," ucap pria bertubuh tinggi besar itu.


Vanya bukan tidak tahu tentang restoran itu, tetapi ia hanya ingin mencari pekerjaan.


"Maaf, Pak. Apa di sini sedang membutuhkan karyawan?" Vanya memberanikan diri.


"Tidak-tidak, di sini sedang tidak membuka lowongan kerja." Pria itu menjawab dengan ketus, lalu mendorong tubuh Vanya agar menjauh.


Gadis itu mengepalkan tangannya saat tubuhnya tersungkur di jalanan.


"Pergi sana, jangan kembali!" hardik sekuriti itu.


Sementara itu di dalam restoran ada sepasang kekasih yang sedang asyik bercengkrama sambil menikmati makan siangnya.


"Aku seneng ternyata di sini juga ada restoran semewah ini ya, Kram."


"Aku selalu menyiapkan apa yang kamu suka, Sayang. Nikmatilah makanan kesukaanmu ini." Pria yang tak lain Ikram itu menyuapi kekasihnya dengan lembut.


Mereka duduk di dekat jendela dan menyaksikan saat sekuriti mengusir seseorang. "Eh, kasian banget ya, dia sampai diusir kaya gitu." Olive menunjuk gadis dengan pakaian sederhana itu terjatuh di tanah.


"Ya lagian, udah tahu di sini khusus orang kaya, pakai sok-sok-an mau masuk sini." Ikram menjawab sambil memperhatikan gadis itu.

__ADS_1


"Ya mungkin di pengen nyobain makan di sini, Yang." Olive tak mengalihkan pandangannya dari gadis yang kini sudah berdiri dan hendak berbalik arah.


__ADS_2