Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Terkejut


__ADS_3

Acara makan siang pun dimulai saat Manda tiba di kediaman Pradana dengan wajah murung. Namun, sepertinya Fathan tak peduli, pria tua itu ingin membuat hari ini, menjadi spesial karena kepulangannya.


"Ikram, apa mertuamu tidak akan datang ke sini?" tanya Fathan saat tak melihat Ehsan bersama istrinya diantara para tamu yang hadir.


"Eh, itu ... nanti ...."


"Kalau ngomong tuh yang jelas, Ikram, kenapa hari ini kau terlihat berbeda?" sela Fathan.


Saat mereka sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba terdengar dua orang wanita berbincang setengah berbisik.


"Pak Fathan kayanya belum dikasih tahu ya, kalau pernikahan cucunya gagal total, karena cucunya nggak datang ke pernikahan mereka."


"Kayanya sih iya, soalnya beliau kan masih di rumah sakit saat itu." Wanita dengan gaya rambut disanggul itu terkekeh.


"Tapi, itu bukannya Ikram, kan? Ternyata dia pulang juga saat kakeknya pulang dari rumah sakit." Wanita bergaun selutut itu menunjuk ke arah Ikram dengan lirikan matanya.


Percakapan mereka ternyata terdengar jelas oleh Fathan, saat pria tua itu hendak menyapa para tamunya.


"Apa? Jadi Ikram dan Vanya ...."


"Eh, Pak Fathan kami hanya ...." Kedua wanita yang ternyata istri dari kerabat Fathan.


"Apa maksud kalian?" bentak Fathan dengan mengepalkan kedua tangannya.


Namun, Manda dan Ikram langsung menghampiri pria berjas putih itu. "Ayah, ayolah kita duduk dulu," bujuk Manda sambil menggandeng tangan ayah mertuanya dan pergi menjauh dari sana.


Saat ini mereka sedang berada di ruang kerja Fathan. Pria tua itu menatap satu per satu menantu dan kedua cucunya.


"Coba jelaskan apa maksud perkataan mereka?" ucap Fathan dengan nada berat.


Manda menelan salivanya, wanita itu bingung harus menjawab apa. Namun, tiba-tiba Ikram berdiri. "Maaf, Kek. Semua salah Ikram, tetapi Ikram tak mencintai gadis itu."


"Apa?" bentak Fathan.


"Ikram hanya akan menikah dengan Olive, Kek." Ikram tetap menjawab.


"Ikram!" pekik Manda sambil menarik lengan putranya.

__ADS_1


"Lancang kamu!" Fathan mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah.


Namun, Ikram masih dengan keegoisannya. "Ikram sudah bilang akan menikah dengan wanita yang Ikram cintai, tetapi Kakek terus memaksa Ikram untuk menikah dengan gadis yang tak Ikram kenal."


Fathan berjalan ke arah sang cucu dan tanpa aba-aba langsung menampar pria muda itu dengan keras. "Puas kamu bikin malu keluarga kita, hah!"


Ikram tersungkur ke arah sofa sambil memegangi pipinya yang kebas. "Kenapa kau begitu pengecut, Ikram!" Fathan terus berteriak saat tahu kebenarannya.


Sementara itu, para tamu dipersilakan untuk pulang dengan alasan, bahwa ada kabar dari rumah sakit mengenai Hanan.


Fathan masih berdiri dengan wajah yang murka. Pria itu tak peduli dengan dirinya yang baru saja sembuh.


"Ayah, Manda mohon maafkan Ikram, Ayah baru saja sembuh, Manda nggak mau Ayah sakit lagi." Wanita itu mencoba membujuk ayah mertuanya, tetapi alih-alih diterima, wanita itu mendapatkan amarah yang sama dari pria tua itu.


"Diam kamu! Bagaimana bisa kalian membatalkan pernikahan ini? Apa kamu tidak bisa menjaga nama baik keluarga Pradana, Manda?"


Tania yang sejak tadi hanya diam akhirnya angkat suara. "Semuanya bukan kesalahan Mami, Kek. Tapi Ikram. Dia yang kabur dari pernikahannya." Wanita itu menunjuk sang adik.


Fathan kembali menatap Ikram. "Aku tidak mau tahu kalian harus kembali menikah." tegas Fathan, lalu pria itu duduk di kursi kebesarannya.


"Tapi ... Vanya juga belum ditemukan, Ayah," lirih Manda.


"Apa maksud kalian? Apa mereka berdua kabur dari pernikahannya? Oh Tuhan." Fathan mengusap wajahnya tak mengerti.


Ikram juga menatap sang mami, ia terkejut dengan fakta yang baru dia dengar. "Memangnya ke mana gadis manja itu, Mami?" tanya Ikram.


"Gara-gara kamu tak datang ke pernikahan waktu itu, Mas Ehsan mengusir putrinya, ia dianggap telah membuat aib bagi keluarganya." Kini Manda menunjuk putranya dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Apa?"


"Karena itu juga papi kamu kecelakaan, Ikram! Semua ini salah kamu!" Manda menjerit histeris sampai akhirnya tak sadarkan diri.


"Mami!" Tania memegangi tubuh maminya bersama dengan Ikram.


Fathan menghela nafas, lalu menyuruh Ikram untuk membawa ibunya ke kamarnya. Setelah itu, Ikram harus kembali menemuinya.


Tak berselang lama Ikram kembali ke ruang kerja Fathan sendirian. Pria itu tak bisa menolak permintaan sang kakek.

__ADS_1


Fathan sedang duduk di tempatnya yang sama dengan memijat pelipisnya. Ikram kemudian datang dan duduk di hadapan sang kakek.


"Apa yang kau inginkan, Ikram?" ucap sang kakek tanpa melihat ke arah cucunya.


"Ikram hanya ingin menikah dengan wanita pilihan Ikram, Kek. Itu saja," jawab Ikram.


Fathan menatap datar ke arah cucunya. "Siapa wanita pilihanmu?"


"Kakek akan senang dengan dia, karena dia lebih cantik, lebih elegan dan tentunya tidak manja seperti Vanya." Ikram dengan antusias memuji Olive.


"Kalau kau ingin menikah dengan wanita pilihanmu, temukan Vanya dan bawa dia ke hadapanku." Fathan memutuskan.


"Tapi, Kek ...."


"Dan satu lagi jangan pernah menyakiti Vanya, jika sampai ada satu luka kecil saja, kau akan tahu hukumannya, Ikram. Kakek serius." Fathan pun mengakhiri percakapan mereka dan menyuruh Ikram untuk keluar.


Di Warung Nasi


"Yey! Akhirnya selesai juga, Mak. Bagaimana Mak puas, kan?" teriak Yuki saat melihat hasil desainnya. Di sana tertulis nama 'Warung Nasi Kadeudeuh'. Kadeudeuh dalam bahasa Sunda artinya kesayangan.


"Mak suka, suka banget, Neng. Nuhun ya." Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia saat melihat dekorasi warung nasinya yang lebih unik dan estetik. Walaupun mengusung tema Sunda, tetapi tetap kekinian.


Kedua wanita itu, kini masuk untuk melihat dekorasi di dalam yang sudah disulap juga oleh Yuki. Semuanya benar-benar indah.


"Nah, mulai besok Mak masak yang banyak, kita buka warung nasinya besok aja gimana?" ucap Yuki sambil duduk lesehan di salah satu meja.


"Lah, Mak belum belanja bahannya, kalau lusa aja gimana? Neng bantuin juga ya. Besok kita belanja lagi mau?"


"Oke." Yuki membentuk huruf O dengan dua jarinya.


Setelah itu, keduanya bersiap untuk membersihkan diri. Yuki lebih dulu, sementara Mak Aminah memasak untuk makan mereka malam ini.


"Nuhun Ya Allah, udah diketemuin sama Neng Yuki, Mak jadi ngerasain punya anak." Mak Aminah bergumam sendiri sambil mengaduk masakan di wajan.


Yuki sendiri merasa puas karena hobinya kembali tersalurkan, walaupun ia tak mendapatkan bayaran seperti biasanya, tetapi kali ini bayarannya lebih istimewa ia diangkat anak oleh orang yang baru dia kenal. Walaupun kalau sekilas, wajah ya 0lseorang ibu, menambah kebahagiannya.


"Makasih, Neng Yuki udah mau jadi anak Mak." Wanita itu pun mulai membasahi tubuhnya dengan air.

__ADS_1


__ADS_2