
Ikram demam karena seharian itu ia memang belum makan dengan benar. Keinginannya untuk bertemu keluarga Ehsan tak bisa diganggu gugat lagi. Ikram benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus pada mereka. Namun, entah mengapa sulit sekali bertemu dengan keluarga itu, hingga ia tak memikirkan kondisi tubuhnya. Sampai akhirnya setelah malam ke tujuh , ia memutuskan menginap di rumah Ehsan. Namun, karena awalnya memang sudah tidak fit, akhirnya Ikram pun jatuh sakit.
"Vanya maafin aku, aku menyesal," gumam Ikram tanpa membuka matanya. Pria itu mengigau.
Vanya dan Ehsan yang saat itu akan pergi, kembali menghampiri pria yang masih berbaring itu. "Tidak akan pernah."
"No, cepat antarkan dia ke rumahnya, kamu cari saja KTP nya untuk mengetahui alamat rumahnya. Ajak Pak Tito untuk mengemudikan mobilnya." Ehsan memberi perintah.
Sementara itu, Vanya hanya menatap Ikram sekilas, lalu berlalu menuju mobil sang papi. Gadis itu duduk di kursi belakang sambil mengeluarkan ponsel androidnya yang dibelikan oleh Mak Aminah.
Kemudian gadis itu akan menghubungi nomor Mak Aminah, tetapi kembali ia urungkan. "Ah, jangan deh biar jadi kejutan."
Bersamaan itu Ehsan datang lalu duduk di samping putrinya. "Ayo jalan, Ya!"
"Baik, Pak." Sopir bernama Tarya itu pun mengemudikan mobilnya keluar dari kediaman Pradipta.
Ehsan kini berbalik pada sang putri yang fokus melihat keluar jendela setelah dirinya selesai menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Vanya," panggil Ehsan lembut. Namun, gadis di sampingnya tak merespon apa pun, sampai akhirnya Ehsan mengusap lengan putrinya.
"Iya, Pi," jawab Vanya tanpa menoleh sedikitpun ke arah sang papi.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Ehsan khawatir.
"Vanya nggak apa-apa, Pi. Vanya cuma ... nggak sih kangen aja sama mami." Gadis itu kini berbalik menghadap sang papi.
"Mami baik-baik aja sekarang. Sekarang pasti lagi makan, coba aja vidio call," ucap sang papi lalu menghubungi istrinya lewat vidio call.
Tak berselang lama panggilannya pun diangkat, terlihat Ayudia sedang duduk di meja makan dengan beberapa menu makanan di hadapannya.
"Kalian sudah sampai mana?" tanyanya dengan pipinya yang membulat seperti bola pingpong.
__ADS_1
"Tuh kan apa Papi bilang, sejak kamu pulang nafsu makan mami kamu juga ikut pulang," ucap Ehsan sambil terkekeh geli.
"Mami, makan yang banyak yang sehat juga ya, kita baru setengah jalan ini, pokoknya nanti kalau nyampe Vanya kasih kabar." Gadis itu tersenyum ke arah sang mami yang memenuhi layar ponsel milik papinya.
Setelah berbincang sebentar dan Ayudia berpesan agar mereka hati-hati sambungan vidio call pun terputus. "Padahal tadi kita udah sarapan bareng ya, Pi."
"Nggak apa-apa Papi seneng akhirnya mami kamu mau makan lagi, dulu saat kamu pergi paling sehari cuma sekali itu pun hanya beberapa suap saja." Ehsan mengingat keadaan sang istri yang sering menangis dan sakit kala putrinya pergi dari rumah.
"Maafin Vanya, Pi. Vanya nggak akan ngelakuin itu lagi."
"Sudah, yang penting sekarang kita bersama lagi.
Perbincangan mereka selama dalam mobil membuat mereka tak menyadari kalau sebentar lagi keduanya akan tiba di Warung Nasi Kadeudeuh milik Mak Aminah.
"Sudah sampai Pak," ucap Tarya setelah mematikan mesin mobilnya.
Ehsan dan Vanya menoleh ke arah luar dan benar saja mereka sudah berada di halaman warung nasi. "Eh, udah sampai ya." Vanya langsung bergegas keluar. Gadis itu sangat merindukan Mak Aminah.
"Mak, Teh Yuki kapan ke sini lagi?" tanya Nisa yang saat itu sedang menulis surat cinta.
"Belum tahu, dari kemarin susah banget si Neng Yuki dihubungi sama Mak," ucap wanita paruh baya itu dengan wajah lesu.
Vanya yang saat itu hendak mengambil nasi pun, beralih menatap sang papi yang berada di dekatnya. "Kamu makan aja dulu, papi juga mau, ajak Tarya juga, gih!" ucap pria itu kemudian mengambil piring.
Vanya pun mengangguk, lalu kembali keluar untuk memanggil supir pribadi sang papi. "Mang Tarya kata papi makan dulu, ayo!"
"Oh, siap Neng." Pria itu lalu turun dari mobil dan mengikuti Vanya.
Namun, baru saja gadis itu masuk sebuah pelukan ia dapatkan dari seorang wanita, siapa lagi kalau bukan Mak Aminah. "Neng Yuki!" pekiknya.
__ADS_1
"Haish, Mak nggak asyik ah, kan Yuki mau ngasih kejutan." Gadis itu membalas pelukannya walaupun sedikit menggerutu karena jujur dia memang kaget.
"Jadi, Emak dong ngasih kejutan ke Neng." Wanita itu tak melepaskan dekapannya pada Vanya.
"Aku lapar, Mak."
"Hayu makan sok mau sama apa?" Mak Aminah menarik tubuh Vanya untuk memilih makanan yang gadis itu suka.
Mak Aminah terlihat lebih semangat setelah bertemu kembali dengan anak angkatnya. Beberapa langganan warung nasi itu pun turut senang dengan kembalinya Vanya alias Yuki.
"Neng Yuki dari mana aja, Akang udah kangen berat," celetuk pria yang kerap kali menggoda Yuki.
"Healing atuh, Kang." Yuki menjawab ramah seperti biasa. Hal itu membuat Ehsan sedikit mengerutkan keningnya. Lalu pria paruh baya itu pun menghampiri putrinya. "Kamu sering digodain mereka, Nak?"
"Nggak, Papi. Mereka cuma gitu doang kok, Pi. Mereka baik semua nggak pernah kurang ajar sama Vanya." Gadis itu berbisik saat menyebut namanya sendiri.
"Di sini panggil Yuki aja ya, Pi," imbuhnya.
Ehsan pun mengusap pucuk kepala putrinya kemudian mengangguk. Mereka pun makan bersama akhirnya. Di tengah-tengah makan siang mereka, Mak Aminah yang ikut makan mulai bercerita tentang keadaan warung sepeninggalan Yuki.
"Neng Yuki, Nak Ikram ke sini lo bolak-balik sama ceweknya nanyain Neng." Wanita itu berkata setelah menelan suapan terakhirnya.
Hal itu sukses membuat Ehsan tersedak. "Siapa Mina? Ikram?"
"Iya, Kang. Itu cowok kayanya naksir sama si Neng Yuki, padahal udah punya cewek yang gera," jawab Mak Aminah tanpa melihat ke arah Yuki yang mulai salah tingkah. Ehsan pun beralih menatap putrinya. "Jadi, kalian ...."
"Nggak, Pi. Dengerin dulu penjelasan Vanya." Gadis itu pun mulai menceritakan awal mula pertemuannya dengan Ikram di sini, sampai akhirnya ia mendesain resto milik pria itu yang berada di seberang warung ini. "Vanya juga udah nolak sebenarnya, tapi saat itu dia ngancem mau ngerusakin warung Emak. Jadi aku terpaksa ngelakuin tugas itu. Tapi ... nggak tahu kenapa dia jadi sering banget bikin alesan buat ketemu sama aku." Vanya pun mengakhiri ceritanya.
Ehsan pun mengangguk, akhirnya pria itu mengerti kenapa putrinya kekeh untuk membalas semuanya sendiri. Ternyata mereka memang sudah bertemu dan beruntungnya Ikram tak mengenali Vanya.
__ADS_1
"Awas nanti jatuh cinta."