Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Hari Pertama


__ADS_3

Thea dan Nisa diminta untuk mengambilkan makanan PP untuk Vanya juga untuk Keynara dan Amita beserta asisten lainnya. Kedua wanita cantik itu mengikuti salah satu kerabat mereka yang menyuruhnya.


"Kamu tungguin di sini ya, awas lo jangan ke mana-mana!" Thea menatap tajam ke arah sepupunya itu.


"Udah sana gue laper tau," omel Vanya.


Setelah itu Thea dan Nisa pun turun ke lantai satu untuk mengambil apa yang diminta. Dengan gaun yang sama keduanya terlihat begitu cantik bahkan saat Nisa tak sengaja berpapasan dengan Agam. Pria jangkung yang sudah rapi dengan baju batiknya itu sempat mematung saat melihat penampilan Nisa yang benar-benar cantik.


"Ini beneran Neng Nisa?" bisiknya menggoda pada gadis yang saat itu tepat berada di sampingnya.


"Ish, emang siapa lagi sih, Bang? Aku jelek ya?" Wanita memang sulit ditebak dan benar saja padahal Agam ingin mengucapkan kalau gadis itu sangat cantik.


"Eh, bu-bukan gitu, Neng. Neng Nisa cantik banget." Agam jadi salah tingkah.


Bersamaan itu makanan yang harus dibawa sudah siap dan ternyata cukup banyak, jadi Agam pun ikut membantunya.


Saat mereka sampai ke kamar Vanya semua orang di sana terlihat panik. "Ada apa, Mbak Mita?"


"Ini lo, mempelai wanitanya ke mana? Tadi aku lagi beresin ini." Amita menunjuk peralatan make up yang berantakan.


"Lah kok? Masa iya dia kan pakai gaun pengantin masa nggak keliatan?" Thea menyimpan makanannya di nakas begitu juga dengan Nisa dan Agam mereka ikut mencari keberadaan Vanya.


Suasana panik itu ditambah lagi dengan kedatangan Ayudia dan Mak Aminah yang akan menjemput Vanya untuk akad nikah.


"Thea, Nisa. Vanya sudah siap, kan?"


"Vanya ... hilang, Tante." Thea menjawab dengan gugup.


"Apa? Kok bisa?" Ayudia menyentuh dadanya yang terasa sakit.


"Tante!" pekik Thea panik.


Bersamaan itu, tiba-tiba seseorang datang dengan gaun pengantin dari arah pintu.


"Mami! Mami kenapa?" Vanya berteriak kaget saat melihat keadaan sang mami yang terduduk lemas. Walaupun Vanya tak bisa melangkah dengan cepat karena gaunnya, tetapi ia berusaha untuk meraih tubuh sang mami.


"Lo dari mana sih, Vanya!" bentak Thea dengan nafas memburu. "Kan udah gue lo diem di sini!"

__ADS_1


"Gu-gue dari kamar sebelah, The. Gue cuma ...."


"Udah sekarang lo turun, calon laki lo udah nungguin di bawah!" Thea setengah menarik tangan Vanya dengan kesal.


Ayudia bernafas lega saat putri semata wayangnya masih ada di sini. "Ayo, Sayang biar mami bantu." Wanita paruh baya itu kembali berdiri dengan wajah yang sumringah.


"Mami nggak apa-apa, kan?" Vanya khawatir dengan keadaan maminya.


"Mami baik-baik saja, Nak."


"Makanya udah gue bilangin jangan macam-macam, Vanya Anindira," bisik Thea dengan gemas sambil menggandeng satu tangan Vanya, sementara yang satu lagi digandeng oleh Ayudia. Mak Aminah, Nisa dan Agam mengikutinya dari belakang.


Sementara itu, di lantai bawah Ikram sudah gelisah karena calon istrinya tak kunjung datang. Apalagi tadi ia sempat mendengar kalau mempelai wanitanya hilang. Namun, saat pria itu ingin mencarinya, sang mami menarik lengannya agar tetap duduk. Wanita itu meyakinkan putranya kalau semuanya akan baik-baik saja.


Tak berselang lama terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai dari tangga. Semua mata memandang ke arah tangga, terlihat mempelai wanita dengan gaun pengantin yang senada dengan tuxedo Ikram. Vanya terlihat begitu cantik dengan gaun itu.


Ikram menatap calon istrinya tanpa berkedip, ia begitu terpesona dengan kecantikan calon istrinya. Namun, sikutan dari sang papi membuat pria itu tersadar dan untuk menyembunyikan rasa malunya, ia berdehem sebentar.


Kini Vanya Anindira sudah duduk bersanding dengan Ikram. Akad pun akan segera dimulai, Ikram dan Ehsan saling berjabat tangan untuk memulai akad yang sakral ini. Sementara itu, Vanya hanya duduk diam tanpa sedikit pun menoleh pada calon suaminya itu. Padahal Ikram sudah sering curi pandang pada calon istrinya itu.


"Sah. Alhamdulillah." Semua orang berucap syukur lalu mengaminkan doa yang dipimpin oleh penghulu.


Ritual pernikahan telah selesai dilakukan kali ini Ikram dan Vanya digiring untuk duduk di pelaminan. Semua orang bisa melihat raja dan ratu sehari ini. Tamu yang datang cukup banyak saat ini mereka sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan.


"Cantik banget istri aku," bisik Ikram pada Vanya yang sejak tadi entah mengapa hanya menundukkan kepalanya.


"Yu-, Sayang apa kamu sakit?" Ikram mulai khawatir pada keadaan Vanya.


Namun, gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, tetapi tak berselang lama Vanya menoleh ke arah Ikram. "Aku mau ke toilet dulu, Mas." Vanya memegangi perutnya, ia tahu apa yang terjadi dengan perutnya.


"Biar aku antar." Ikram benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya.


"Nggak usah aku sama Thea aja, sebentar lagi dia ke sini kok. Kamu tunggu di sini aja kasian tamu yang datang." Vanya pun beranjak dari duduknya.


Tak berselang lama Thea datang dengan tergesa. "Kamu kenapa lagi, Vanya?" Thea juga terlihat khawatir.


Vanya lalu menghampiri Thea dan membisikkan sesuatu pada gadis itu. "Apa?" pekik Thea tertahan.

__ADS_1


"Udah buruan anterin gue, Bawel!"


"Aku tinggal dulu ya, Mas." Vanya dan Thea pun akhirnya pergi meninggalkan Ikram.


Vanya masuk ke kamarnya dan langsung pergi ke toilet. Namun, karena gaun pengantinnya yang panjang membuat wanita itu kesusahan akhirnya ia meminta MUA-nya untuk membuka gaunnya terlebih dahulu.


"Aku beneran udah nggak nyaman, Mbak." Vanya menyentuh perutnya yang melilit.


Setelah selesai ia membawa barang yang diminta tadi pada Thea. Vanya cukup lama di dalam toilet.


"Mbak Vanya kenapa sih? Apa dia salah makan tadi?" tanya Amita pada Thea.


"Bukan, Mbak. Dia datang bulan, kasian bener lakinya harus puasa," jawab Thea sambil tergelak.


"Ah, iyakah?" Amita juga tertawa saat mendengar jawaban Vanya. "Kenapa harus di hari pernikahan coba," imbuhnya.


"Biarin aja biar rasa, Mbak. Dapetin anak perawan tak semudah itu, kan," ucap Thea sambil tersenyum miring.


Bersamaan itu Vanya keluar dengan wajah yang sedikit pucat, hari pertama datang bulan selalu membuat perut Vanya sakit dan tentu saja membuat moodnya juga jelek. Namun, kali ini ia harus tetap bersikap biasa saja karena ini hari pernikahannya.


"Mbak Vanya sekalian aja ganti baju kedua ya, biar nanti gantian sama suaminya," ucap Keynara.


"Iya, Mbak. Aku juga mau istirahat sebentar aja deh."


"Ya udah, Mbak Thea kasih tahu suaminya dulu deh, terus nanti gantian sama suaminya." Amita berucap pada Thea.


"Oke." Thea mengedipkan tangannya sambil tersenyum.


Vanya duduk sambil kembali dirias agar tak tak pucat lagi. "Mbak Vanya baik-baik aja, kan?"


"Ini hari pertama, Mbak. Aku suka kaya gini."


"Ya udah sambil istirahat dulu aja ya."


Namun, baru saja Vanya akan berbaring sebentar tiba-tiba seseorang datang.


"Vanya kamu nggak apa-apa, kan?"

__ADS_1


__ADS_2