
Pagi ini Yuki benar-benar tidak berniat datang ke resto Ikram. Gadis itu sudah memutuskan kerja samanya, banyak hal yang dianggap Yuki tidak profesional.
Seperti biasa gadis itu akan menulis daftar menu di banner. Namun, kali ini Yuki menulis agak siangan. Gadis itu membatu sang emak terlebih dahulu.
Yuki menggambar seperti kesukaannya agar daftar menu terlihat lebih menarik. Gadis itu, bahkan tak mempedulikan beberapa pelanggan yang datang sampai seseorang menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya.
"Vanya!" Wanita yang seusia dengan Mak Aminah itu terlihat sangat kurus. Dia adalah Ayudia. Yuki alias Vanya tentu saja terkejut saat sang mami berada di depannya dan memeluknya dengan erat.
Sebelumnya Ayudia turun dari mobil saat melihat desain unik dari warung nasi di seberangnya. Desain yang hanya dimiliki oleh putrinya. Dengan berlari cepat tanpa menunggu suaminya, Ayudia langsung menyeberang dan menarik tangan gadis yang membelakanginya.
Yuki ingin menangis, tetapi ia juga bingung harus bagaimana. "Maaf, Nyo-nyonya?" Suara gadis itu terdengar bergetar menahan tangisnya. Tak bisa dipungkiri Yuki juga sangat merindukan sang mami.
"Ini Mami, Sayang. Kamu nggak bisa bohongi Mami, kamu Vanya anak Mami." Ayudia mempererat pelukannya hingga membuat Yuki sedikit sesak nafas.
"Aduh, aku nggak ... bisa nafas."
"Maaf." Ayudia sedikit melonggarkan pelukannya, tetapi tak dilepaskan. Ehsan yang mengajar sang istri baru saja sampai, karena saat akan menyeberang banyak sekali kendaraan yang lewat.
"Sayang ...." Ehsan langsung bertatapan dengan manik mata miliknya di dalam sosok gadis yang sangat ia kenal. "Vanya? Akhirnya Papi sama Mami menemukanmu, Nak." Ehsan ikut merangkulkan kedua tangannya pada dua wanita kesayangannya.
Namun, Yuki melerai pelukan mereka dengan segera. "Maaf, mungkin kalian salah orang." Yuki berusaha berkata dengan nada datar, tetapi tetap saja dadanya terasa sesak karena walau bagaimanapun Yuki memang sangat merindukan orang tuanya.
"Neng Yuki, ada apa?" Tiba-tiba Mak Aminah datang dan melihat ketiga orang yang terlihat begitu mirip.
"Eh ada tamu, ayo atuh ajak masuk, Neng," ucap Mak Aminah. Ayudia dan Ehsan saling pandang, keduanya merasa canggung saat mendengar nama lain gadis di hadapannya.
"Yuki?" Ayudia dan Ehsan berucap bersamaan.
"Bolehkah kami berbicara sebentar?" tanya Ehsan pada Mak Aminah saat wanita dengan apron itu hendak berbalik.
"Tentu saja boleh, mari!" ajak Mak Aminah.
__ADS_1
Kemudian, mereka berempat masuk ke ruangan televisi, sama seperti saat Yuki dan Ikram membuat kesepakatan. Yuki duduk di samping sang emak, sementara Ehsan dan Ayudia duduk bersebelahan. Ayudia terus memandang ke arah Yuki. Wanita itu yakin kalau gadis di hadapannya ini adalah putri semata wayangnya.
"Kenalkan saya Ehsan dan ini istri saya Ayudia," ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Mak Aminah. Mak Aminah menatap lekat pada pria yang saat ini mengulurkan tangannya. "Kang Ecan?" Wanita itu berkata ragu.
Ehsan mengerutkan keningnya, Ayudia bahkan menatap suaminya dengan curiga.
"Kamu kenal saya?"
"Eh, maaf mungkin salah orang ya? Saya Aminah, biasanya dipanggil Mak Aminah." Wanita itu pun menyambut uluran tangan Ehsan.
Yuki sendiri masih mere*mas jari-jemarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Apalagi sang mami terus menatapnya.
"Apa dia benar-benar putri Anda?" tanya Ayudia tak sabar. Wanita itu ingin memastikan kalau hatinya memang tidak pernah salah untuk mengenali putri kesayangannya.
"Maksudnya?" Mak Aminah tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkan wanita yang ditaksir seusia dengan dirinya itu.
Ehsan menggenggam tangan istrinya lalu pria itu berkata, "Kami sedang mencari putri kami yang hilang, sudah hampir dua bulan kami mencarinya, tetapi ... belum ketemu."
"Putriku ada di samping Anda, Bu." Lagi-lagi Ayudia berkata dengan tergesa. "Kamu Vanya kan, ini Mami, Sayang." Akhirnya tangis Ayudia pecah dan hal itu membuat Yuki turun dari kursi dan bersimpuh.
"Neng Yuki!" pekik Mak Aminah.
"Maaf ... a-aku minta maaf, Mami," lirih gadis itu disela isakannya.
"Vanya! Mami sangat merindukanmu, Nak. Maafin Mami."
Ayudia beranjak dan mendekap tubuh putrinya.
Mak Aminah menutup mulutnya dengan satu tangannya. "Ja-jadi Neng Yuki bukan ...." Wanita itu hendak beranjak meninggalkan putri angkatnya yang ternyata memiliki orang tua, ada rasa kecewa di hatinya.
Namun, Ehsan mencegahnya. "Tolong dengarkan penjelasan kami dulu."
__ADS_1
Mak Aminah pun kembali duduk, ia menatap dua wanita di depannya yang saling berpelukan. Mereka memang terlihat sangat mirip, tetapi kenapa Neng Yuki berbohong kalau dia anak yatim piatu.
Cukup lama Ehsan dan Mak Aminah menunggu Yuki dan Ayudia melepas rindu. Kini mereka berempat kembali duduk bersama, Ayudia bahkan tak melepaskan putrinya.
"Maaf, Mak aku sudah ... maafkan aku." Yuki kini bersujud di hadapan Mak Aminah setelah meminta izin pada maminya.
"Neng Yuki kenapa bohong?" Wanita itu kini mulai menangis, raut kecewa begitu jelas di wajahnya.
"Maaf, saat itu Yuki sedang di titik terendah, terusir dari rumah dan hidup di jalanan. Makanya namaku jadi Yuki." Gadis itu menggenggam erat tangan Mak Aminah.
"Tapi saat bertemu dengan Mak, Mak seperti Mamiku yang menerimaku apa adanya, padahal kita tak saling mengenal sebelumnya. Mak dengan tulus mengangkat aku jadi putrimu," imbuh Yuki.
"Saat ini mungkin Neng Yuki akan pergi meninggalkan Mak dan pergi bersama orang tua Neng." Mak Aminah kembali mengusap pipinya yang basah.
Yuki menggeleng cepat. "Aku akan tetap bersama Mak."
"Apa maksud kamu, Vanya?" Ehsan terkejut dengan pernyataan putrinya.
"Maaf, Papi, Mami. Yuki eh Vanya harus mengurus sesuatu dulu di sini. Yang penting Mami sama Papi udah tahu kalau Vanya baik-baik saja dan tinggal bersama orang baik." Gadis itu mengambil keputusan yang masih belum dimengerti oleh orang tuanya, terutama maminya.
"Pi, kita tinggal di Bandung aja, Mami nggak mau jauh-jauh dari Vanya, Pi." Ayudia merajuk pada suaminya.
"Begini saja bagaimana kalau kalian tinggal di sini saja? Kalian bisa tidur di kamar Neng Yuki eh Neng Vanya."
"Boleh ya, Pi. Mami juga masih kangen sama Vanya, Mami juga pengen ngobrol sama Mak lebih banyak."
Ehsan menghela nafasnya, pria itu tak bisa menolak lagi keinginan istrinya. Pria itu juga sangat merindukan putrinya, putri yang sangat ia cintai. Namun, sebenarnya ia juga penasaran dengan Mak Aminah, Ehsan merasa familiar dengan wajah wanita itu. Ia merasa pernah bertemu atau mungkin pernah dekat di masa lalu, tetapi ia lupa.
Akhirnya Ehsan pun mengangguk menyetujui keinginan istrinya. Mereka berempat masih menumpahkan rasa yang campur aduk, bahkan Mak Aminah lupa kalau di depan sudah banyak pelanggan yang datang.
"Neng Yuki, nggak mau ngasih surat cinta lagikah sekarang?"
__ADS_1