Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Rawat Inap


__ADS_3

Yuki harus menunggu Ikram yang terbaring di rumah sakit, setelah Fathan kembali ke ibu kota. Siyal kenapa harus gue yang nungguin nih makhluk sih?


"Masnya mendingan hubungin Mbak Olive dah, aku harus nyelesein kerjaan aku, terus kalau Mak nyari aku gimana?" ucap Yuki yang saat ini duduk di sofa yang tersedia di sana.


"Nggak ada, yang bikin saya sakit juga kamu, kok." Ikram menjawab dengan menyebalkan.


"Dih, yang makan siapa? Kenapa jadi aku yang salah?"


Ikram tak menjawab omelan Yuki, pria itu kembali memejamkan netranya, setelah dua kali bolak-balik ke toilet, dan tentu saja dibantu oleh Yuki.


Hari sudah siang dan Yuki belum makan siang. Gadis itu pun berencana membeli makan lalu pergi meninggalkan Ikram. Namun, sepertinya niat Yuki sudah terbaca oleh Ikram, pria itu sudah memesan makanan untuk makan siang mereka, melalui salah satu pegawai di sana, saat Yuki tadi mengantar kakeknya untuk pulang. Ponsel Ikram memang tertinggal di resto.


"Aku mau makan siang dulu deh, lapar." Yuki beranjak dari duduknya, tetapi ditahan oleh Ikram. "Nggak usah sebentar lagi juga sampe kok." Tak berselang lama, ketukan di pintu membuat Yuki mau tak mau berjalan ke arah pintu. Benar saja seseorang membawa dua kantong kresek makanan.


"Ini pesanannya, Mbak." Pria bertopi itu memberikan dua kantong keresek itu pada Yuki.


Yuki menerimanya lalu mengucapkan terima kasih, setelah itu membawa barangnya ke arah meja nakas. Ikram terlihat memejamkan matanya. "Nggak usah pura-pura tidur deh, Masnya. Nih makan dulu, bisa kan sendirian?"


Namun, Ikram tetap bergeming, sampai akhirnya Yuki mengguncang lengan pria itu pelan. "Makan saja, habiskan semuanya, aku tahu makan kami banyak, dan biar kuat menjaga aku di sini." Ikram berkata tanpa membuka matanya.


"Aku mau makan di luar sajalah, itu buat Masnya aja," kilah Yuki dengan tatapan kesal ke arah pria yang sedang berbaring dengan menutup matanya itu.


"Itu alasan kamu saja biar bisa kabur dari sini iya, kan?" Kini Ikram membuka netranya dan tatapan mereka langsung beradu. Yuki memutuskan pandangan mereka lebih dulu dengan memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Coba lihat dulu makanannya."


Yuki pun akhirnya mengambil dua kantong keresek itu, gadis itu duduk di sofa yang tersedia di sana. Saat gadis itu membuka salah satunya, terdapat makan siang yang sangat menggiurkan di sana, apalagi ada sambel yang sudah pasti pedas. Sebelum gadis itu terlena, ia membuka kantong satunya lagi, di sana ternyata banyak sekali cemilan kesukaan Yuki. Dari mulai keripik kentang, keripik singkong, sampai cokelat ada di sana.


Tanpa disadari gadis itu, Ikram sudah duduk bersandar pada kepala ranjang, pria itu sedang memperhatikan Yuki sambil menarik satu ujung bibirnya ke atas. "Itu semua milik kamu sekarang. Makanlah!"


Yuki terkejut dan mendelik kesal ke arah Ikram. Namun, bersamaan itu suara perut Yuki terdengar begitu jelas. Ish ngapain pakai bunyi sih?


Ikram terkekeh. "Nggak usah malu-malu, nanti kamu nggak bisa jagain aku."


Yuki pun pasrah dan akhirnya mulai membuka kotak makan yang tadi sudah membuat gadis itu menelan salivanya. Gadis itu menikmati makan siangnya dengan lahap. Ikram juga ternyata masih memperhatikan gadis itu.


"Yuki, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Ikram tiba-tiba yang membuat Yuki tersedak dan batuk.


Gadis itu langsung meminum air mineral yang sudah ia sediakan sebelumnya. "Pernahlah, kan ketemu di warung nasi Mak, pake nanya lagi?" gerutu Yuki menghilangkan rasa gugupnya. Gadis itu sebenarnya takut jati dirinya diketahui oleh Ikram kalau dirinya adalah Vanya mantan calon istrinya.


Sementara itu, di tempat lain seorang gadis sedang uring-uringan karena tak bisa menghubungi kekasihnya. "Kamu ke mana sih Ikram? Tumben banget nggak aktifin hp." Gadis itu menggerutu, sambil kembali menghubungi nomor kekasihnya.


"Olive, apa Nak Ikram akan ke sini lagi?" Panggilan suara seorang wanita membuat gadis itu menoleh.


"Olive lagi ngehubungin Ikram, Mi." Olive menjawab setengah berteriak karena jarak mereka yang cukup jauh. Setelah itu, Olive pun mengirim pesan pada Ikram. Namun, hanya centang satu.


"Aku harus ke resto baru Ikram, dia pasti lagi asyik main sama cewek pelakor itu," gerutu Olive lalu bergegas masuk ke kamarnya. Kemudian gadis itu meminta izin untuk menemui Ikram.

__ADS_1


Olive akan mengendarai mobilnya sendirian. Gadis itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan, Olive tak berhenti menghubungi Ikram, tetapi tetap saja ponselnya tidak aktif. Sekitar jam empat sore, akhirnya Olive sampai di resto Ikram. Gadis itu langsung menuju lantai atas, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.


"Ikram?" Olive memanggil nama kekasihnya, tetapi tak ada jawaban. Sampai akhirnya ia menemukan ponsel kekasihnya tergeletak di meja dalam keadaan mati.


"Aku harus nemuin tuh pelakor, pasti dia lagi godain Ikram." Olive mengepalkan satu tangannya, sementara tangan lainnya mengambil ponsel Ikram. Olive berlari turun, lalu setelah di lantai bawah, ia masuk ke dalam mobilnya untuk mengisi daya baterai ponsel Ikram. Setelah itu, ia kembali keluar dan tak lupa mengunci pintu mobilnya. Setengah berlari Olive menyeberangi jalan, lalu dengan langkah tergesa masuk ke Warung Nasi Kadeudeuh.


Mak Aminah terlihat sedang duduk santai, sambil memainkan ponselnya.


"Di mana si pelakor itu?" Tiba-tiba Olive menyapa dengan tidak sopan pada wanita paruh baya itu. Mak Aminah tentu saja terkejut, dan berdiri menghampiri Olive.


"Ngomong baik-baik bisa kan, Neng?"


"Mana calon suami aku, pasti disembunyiin sama anak Mak, kan?" Olive setengah berteriak dan tentu saja menarik perhatian pelanggan lainnya. Namun, Mak Aminah memandang ke arah para pelanggan bahwa semuanya baik-baik saja dengan isyarat.


"Lah, Neng nggak tahu, Nak Ikram itu masuk rumah sakit, Yuki juga terpaksa nungguin di sana," ucap Mak Aminah setengah memanasi.


"Apa? Di rumah sakit mana?" bentak Olive.


Kemudian Mak Aminah memperlihatkan ponselnya dan memberitahu di mana Ikram di rawat. Tanpa menunggu lama, Olive langsung meninggalkan warung nasi itu dan menuju mobilnya. Wajahnya terlihat memerah karena menahan amarah. Bayangan Ikram berduaan dengan Yuki di rumah sakit membuat gadis itu sangat cemburu.


"Awas kamu, kalau sampai godain calon aku, pelakor." Olive memukul stir mobilnya berkali-kali. Rasa cemburunya benar-benar sudah menguasai dirinya. Gadis itu bahkan melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata.


Tak berselang lama, Olive pun sampai di rumah sakit itu, gadis itu menuju resepsionis dan bertanya tentang pasien bernama Ikram Pradana. Setelah mendapat nomor kamar inapnya, Olive langsung bergegas pergi dengan langkah yang lebar.

__ADS_1


Baru saja ia sampai di depan pintu dengan nama Bugenvil 1, gadis itu mendengar suara Ikram memanggil nama Yuki. Olive langsung membuka pintu kamar itu.


"Apa yang kalian lakukan?"


__ADS_2