Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Rencana Baru


__ADS_3

"Ikram!" teriak Manda saat pria itu berhasil menyematkan cincinnya pada Vanya.


"Ikram sudah yakin dengan keputusan Ikram, Mi. Tolong restui kami," ucap pria itu kemudian menggenggam tangan Vanya.


Ikram dan Vanya sudah sah bertunangan. Walaupun Ikram mendapat penolakan dari keluarganya, tetapi pria itu benar-benar sudah meneguhkan hatinya untuk Vanya. Saat fakta baru mengenai gadis itu terungkap, tetapi Ikram tak sepenuhnya percaya.


Kini kedua keluarga itu kembali duduk dengan raut muka yang penuh pertanyaan tentu saja kali ini Vanya yang menjadi pusat perhatian.


"Sekarang kalian sudah bertunangan, apa kamu masih tidak ingin menceritakan semuanya pada kami, Vanya?" Ehsan mulai membuka suara.


Vanya mengangkat wajahnya yang kini sudah basah dengan air mata. "A-aku ... aku saat itu ditolong oleh Jafin. Pria itu membantuku. Namun ...." Vanya menepiskan tangannya yang sejak tadi digenggam oleh Ikram.


"Namun, dia tidak sebaik yang aku kira. Dia membantuku karena akan menjualku ke tempat laknat itu." Vanya kembali meneteskan air matanya.


"Apa kalian tahu setakut apa aku saat itu?" Gadis itu menatap ke arah Ikram yang juga menatapnya dengan dalam.


Ayudia menarik tubuh putrinya, wanita itu menangis. Ia tak menyangka bahwa putrinya bisa mengalami kejadian seperti itu.


"Sekarang apa kalian masih mau menerimaku setelah tahu bahwa aku sudah ...."


"Sayang!" Ayudia kembali menarik tubuh putrinya saat Vanya berusaha melepaskan dirinya dari sang mami.


"Vanya belum selesai, Mami. Vanya ingin bertanya pada Mas Ikram." Gadis itu lalu beralih menatap Ikram. "Bagaimana Mas apa Mas Ikram masih mau menerima aku setelah tahu semuanya?"


"Kenapa diam, Mas?"


Ikram memejamkan mata sebentar sebelum kembali membukanya lalu bersuara. "Aku akan tetap menikahimu, Vanya. Aku akan menerimamu apa adanya ... aku akan menebus semua kesalahanku."


Vanya tertawa getir saat mendengar jawaban dari pria di sampingnya. "Jangan menikahiku karena kasihan, Mas."

__ADS_1


Ikram menggelengkan kepala. "Aku tulus mencintaimu, Vanya. Aku tak tahu mulai kapan rasa itu tumbuh, tetapi aku benar-benar menyayangimu."


Manda dan Hanan terdiam mendengar jawaban Ikram. Sebenarnya mereka merasa kecewa dengan keputusan Ikram, tetapi keduanya melihat keseriusan Ikram saat ini benar-benar nyata. Ikram memang terlihat kecewa tetapi rasa sayangnya pada gadis itu juga terlihat begitu nyata.


Berbeda dari Hanan dan Manda, Fathan terlihat bahagia dengan keputusan Ikram. Pria tua itu pun akhirnya membuka suara.


"Baiklah karena semua sudah setuju, maka pernikahan kalian akan diselenggarakan bulan depan, bagaimana Ehsan?" Keputusan Fathan tentu saja membuat semua yang ada di sana terkejut.


"Tapi, Kek?" Vanya tak setuju. Gadis itu sengaja mengaku kalau dirinya sudah tidak suci agar pernikahannya dengan Ikram batal, tetapi Fathan malah mempercepat pernikahan mereka.


"Ikram akan menerimamu dan menyayangimu, Vanya. Kakek menjamin kalau Ikram pasti akan membahagiakanmu, Nak."


Sementara Ehsan dan Ayudia hanya mengangguk. Pasangan itu tidak ingin putrinya mendapatkan suami yang tak menerima keadaannya. Ehsan juga menyesal karena telah mengusir putrinya saat itu hanya karena harga dirinya.


Maafkan papi, Sayang. Semua salah papi, andai dulu papi tak egois mungkin kamu tak akan mengalami kejadian seperti ini. Papi bersumpah akan menghukum semua orang yang telah membuatmu menderita.


"Ah, iya baiklah aku setuju. Kami akan mengurus semuanya." Ehsan menjawab dengan tegas.


"Mas," lirih Ayudia. Namun, anggukkan dari sang suami meyakinkannya.


Fathan pun tersenyum lalu pria itu pun mulai mencari tanggal yang bagus untuk pernikahan cucunya. Sementara itu, Ikram masih terdiam dan menatap teduh ke arah Vanya. Gadis yang saat ini telah berhasil mencuri hatinya dan hidupnya. Ada rasa kecewa di sudut hatinya saat tahu bahwa Vanya sudah tidak suci lagi. Namun, semua itu bisa dibilang kecelakaan bukan keinginan gadis itu berbeda dengan Olive mantan kekasihnya.


Vanya sendiri masih terlihat gusar. Gadis itu tidak tenang, ia sesekali menggigit bibir bawahnya dan entah kenapa di mata Ikram benar-benar menggoda.


"Aku akan menerimamu, Vanya. Semua orang punya masa lalu, jadi tenanglah." Ikram menarik satu tangan gadis itu untuk ia genggam. Sementara para orang tua sedang berdiskusi mengenai tanggal pernikahan mereka.


Selain menenangkan Vanya, Ikram juga berpikir keras untuk membalas semua kejahatan Jafin. Pria yang ia percayai telah mengkhianatinya dengan begitu kejam.


Tak berselang lama Fathan kembali bersuara. "Kalian tenang saja pria tadi dan wanitanya sudah dibereskan."

__ADS_1


"Kakek?" Ikram kini yang menyahut ucapan sang kakek.


"Kamu fokus saja pada pernikahanmu, Ikram. Ajak Vanya berbelanja semua kebutuhannya," ujar pria tua itu.


Setelah mencapai kesepakatan mereka pun memutuskan untuk pulang. Kali ini Ikram meminta izin untuk mengantar Vanya pada kedua orang tuanya. Ada beberapa hal yang ingin ditanyakan oleh pria itu pada gadisnya.


Setelah mendapatkan izin, Ikram langsung mengajak Vanya. Pria itu tak melepaskan genggaman tangannya walaupun Vanya ingin sekali melepasnya. Setelah sampai di mobil Ikram, pria itu baru melepaskan genggaman tangannya dan membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.


Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Ikram pun menyalakan mobilnya dan mulai mengemudikan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan sedang. Suasana masih tampak hening, sampai akhirnya Ikram berkata, "Maafkan aku, Vanya."


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya, aku berjanji akan membahagiakanmu."


"Nggak usah janji kalau nggak bisa nepatin dosa, Mas." Vanya menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.


Ikram mengulurkan tangannya lalu mengusap pucuk kepala Vanya dengan lembut. "Aku serius." Setelah itu tak ada percakapan lagi diantara keduanya sampai akhirnya Ikram menghentikan mobilnya di sebuah gedung perkantoran.


"Ini di mana?" Vanya kini menoleh ke arah Ikram saat pria itu menghentikan mobilnya di tempat lain bukan di rumahnya.


"Ikut aku sebentar, ada sesuatu yang mau aku tunjukan." Pria itu membukakan sabuk pengaman milik Vanya kemudian mengajak gadis itu keluar.


Vanya pun akhirnya mengikuti Ikram turun. Malam sudah semakin larut, udaranya begutu dingin. Vanya memegang kedua bahunya, walaupun gaun yang ia gunakan berlengan panjang tetapi udara malam memang sangatlah dingin. Ikram melihat pergerakan gadisnya, dengan cepat ia membuka jasnya dan memakaikannya pada tubuh gadis cantik itu. "Ayo," ajaknya.


Vanya terkejut dengan sikap Ikram yang begitu lembut, bahkan saat ini Ikram merangkul bahunya dan mengajaknya ke lantai atas. Selama dalam lift, Ikram tak melepaskan rangkulannya, sampai akhirnya denting pintu lift terbuka pun terdengar. Ikram melangkahkan kakinya keluar bersama dengan Vanya, mereka menuju sebuah ruangan.


Vanya sedikit ciut saat rangkulan Ikram makin erat. Pria itu membuka pintu berwarna hitam itu dan mengajak Vanya untuk masuk. Entah mengapa perasaan Vanya menjadi tak karuan saat Ikram kembali menutup pintunya dan menguncinya. Lalu Ikram menatap Vanya dengan intens dan mulai melangkah mendekat ke arah Vanya.


"Mas Ikram?"

__ADS_1


__ADS_2