Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Karma


__ADS_3

Agam diizinkan Ehsan untuk menginap di rumah mereka, selain karena Agam terluka juga ternyata pria itu teman dari putrinya selama gadis itu tinggal bersama Mak Aminah.


Agam berterima kasih atas kejadian hari ini karena selain ia tak harus berputar-putar mencari kerabatnya yang entah di mana rimbanya. Selain mendapat tumpangan ia juga berhasil mengutarakan isi hatinya pada Nisa. Gadis berambut pendek dengan wajah bulat, mata indah dengan bulu mata lentik. Selain baik gadis itu juga periang dan selalu membuat suasana hangat.


Agam sangat kelelahan setelah seharian mencari rumah kerabatnya, sampai akhirnya terjatuh dari motornya. Setelah Nisa selesai membersihkan dan mengobati lukanya, Agam pun akhirnya tertidur di ruang depan dengan posisi yang sama.


***


Keesokan harinya, Agam ikut membantu persiapan pernikahan Vanya dan Ikram. Pria itu memang termasuk yang rajin. Siang ini setelah menyelesaikan tugasnya keluarga besar Vanya makan siang bersama, termasuk Agam dan Nisa mereka diperlakukan sama oleh keluarga Vanya.


Agam seringkali mencuri pandang ke arah Nisa. Gadis itu selalu mengikuti Mak Aminah ke mana pun wanita paruh baya itu pergi.


Sementara itu, Vanya sedang berada di kamarnya dengan beberapa orang yang sedang merawat tubuh dan wajahnya.


Vanya benar-benar sedang dimanjakan dengan beberapa perawatan sebelum menikah. Gadis itu akan tertidur saat wajahnya menggunakan masker wajah. Kali ini Vanya benar-benar tak memegang ponselnya, bahkan banyak sekali notifikasi terdengar dari benda pipih itu. Namun, sepertinya gadis itu enggan untuk menyentuhnya.


Hari beranjak malam suasana di kediaman Pradipta terasa lebih ramai dengan kehadiran saudara dan kerabat. Vanya juga bisa bercengkerama dengan mereka.


"Cie yang mau nikah besok cantik banget sih," ucap Thea sepupu dari Vanya.


"Gue emang udah cantik dari orok kali." Vanya menjawab sambil sesekali memilin kedua jari tangannya.


"Lo kenapa sih, Vanya?" Thea menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan sepupunya itu.


"The, gue ... gue ... mau kabur aja dari pernikahan ini."


"Apa? Lo jangan gila Vanya!" Thea menahan suaranya agar tak berteriak.

__ADS_1


"Gue tuh masih nggak rela dia nikah sama gue dengan semudah ini, The."


"Haish, lo jangan gila ya. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi, Vanya." Thea menarik nafasnya sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Walaupun mungkin kali ini dia yang akan malu, tapi tetep aja lo mau tante Ayudia sakit lagi?" Pertanyaan itu membuat Vanya terdiam dan ia ingat bagaimana rapuhnya sang mami saat dirinya terusir waktu itu.


"Lo mau tante Ayudia kembali ke ...."


"Nggak, nggak gue nggak mau mami masuk rumah sakit lagi. Iya gue mau nikah besok, gue nggak akan kabur." Vanya menelungkupkan wajahnya ke atas bantal yang ia peluk sejak tadi.


"Lagian ya kalau dilihat-lihat ganteng juga lo mas Ikram mu itu, Vanya."


"Heleh, tetep aja nyebelin di mata gue."


"Nanti juga cinta dan sayang," goda Thea.


"Ah, sudah jangan bahas dia lagi. Eh ngomong-ngomong tadi Nisa pamit ke bawah kok nggak balik lagi ya?"


Vanya kemudian turun dari ranjangnya, lalu membuka pintu menuju balkon. Di sana ia sudah menyiapkan sebuah tangga.


Lain Vanya lain pula dengan Ikram. Pria itu saat ini sedang duduk di hadapan orang tua dan kakeknya. Ikram terlihat sedang mendengarkan petuah dari mereka.


"Kamu tidak akan mempermalukan kami lagi kan, Nak?" Hanan berucap dengan nada rendah tetapi cukup mengintimidasi.


"Ikram sudah janji, Pi. Ikram nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tolong percayalah bahwa Ikram benar-benar serius dengan pernikahan ini." Pria itu menghela nafasnya karena ini bukan yang pertama kedua orang tuanya bertanya hal yang sama.


Memang semua karena kesalahan dirinya di masa lalu, tetapi kali ini Ikram benar-benar sudah jatuh hati pada gadis bernama Vanya Anindira.


"Lebih baik kita lihat persiapan untuk besok, Pi,Mi. Daripada Ikram terus dicecar dengan pertanyaan yang sama selama ini." Akhirnya pria itu beranjak dari duduknya dan pamit undur diri. Apalagi seharian ini, Ikram juga belum menerima kabar dari Vanya. Wanita itu tak membalas satu pun pesannya sejak tadi pagi.

__ADS_1


Ikram memasuki kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, kedua tangannya ia lipat sebagai sandaran kepalanya, matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan lampu berbentuk awan.


"Aku tidak akan merusak pernikahan yang aku inginkan, percayalah padaku. Aku akan tidur lebih awal agar besok tubuhku segar."


Pria itu perlahan menutup matanya agar bisa terlelap. Namun, baru saja sebentar ia terlelap, seseorang membangunkannya. "Ikram bangun! Vanya hilang."


"Apa?" Ikram langsung beranjak dari tempat tidurnya. Pria itu tak menghiraukan panggilan orang tuanya, ia bergegas menuju mobilnya untuk pergi ke rumah calon istrinya. Ikram menyalakan mobilnya dan langsung mengemudikannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Kamu pergi ke mana Yuki? Apa kamu akan membalas perlakuanku dulu?" Ikram mengeratkan pegangannya pada stir hingga ruas-ruas jarinya memutih. Tak berselang lama Ikram sampai di kediaman Pradipta yang tampak sepi bahkan rumah itu terlihat biasa saja tak seperti rumah yang akan mengadakan pesta pernikahan.


"Ada apa ini?" Ikram memasuki rumah yang tampak gelap itu. Suasananya begitu mencekam bahkan tak ada seorang pun di dalam sana.


"Vanya, Sayang!" teriak Ikram sambil terus menelusuri seluruh bagian rumah itu. Namun, entah mengapa suasananya begitu berbeda. Ikram terus berusaha memanggil calon istrinya itu hingga akhirnya ia sampai di samping rumah, terdapat sebuah tangga yang bersandar ke balkon kamar milik calon istrinya.


Ikram mulai menaiki tangga itu, ia ingin memastikan kalau semua ini hanyalah mimpi. Pria itu sampai di balkon kamar Vanya. Kamar itu terlihat terang dibandingkan dengan ruangan bawah. Saat Ikram mulai berjalan masuk ke kamar itu, ia melihat keadaan kamar itu yang begitu rapi dengan warna cat yang berbeda dengan waktu ia pertama masuk ke kamar calon istrinya ini.


"Kamu akhirnya datang, Ikram." Tiba-tiba suara seorang perempuan mengejutkannya.


"Siapa kamu?" teriak Ikram sambil menatap ke seluruh penjuru kamar dengan waspada.


"Kamu pikir kamu bisa dengan mudah menikahiku? Kaku harus merasakan apa yang aku rasakan dulu, Ikram Pradana!"


"Yuki, Sayang. Dengarkan aku dulu!" pinta Ikram sambil terus mencari keberadaan calon istrinya itu.


"Selamat tinggal, Ikram. Nikmatilah apa yang sudah kamu lakukan padaku! Hadiah pernikahan yang kamu impikan."


"Jangan, jangan!"

__ADS_1


__ADS_2