Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Siapa dia?


__ADS_3

Warung Nasi Kadeudeuh


Mak Aminah sibuk melayani pelanggannya. Sebenarnya wanita itu sengaja menyibukkan dirinya karena walau bagaimanapun ia tetap merasa kehilangan Vanya. Gadis yang telah memberi warna dalam kehidupannya.


Saat dirinya sedang duduk sesaat setelah menerima pembayaran dari pelanggan, tiba-tiba datang pasangan yang selalu membuat Vanya kesal, siapa lagi kalau bukan Ikram dan Olive.


"Kenapa kamu selalu milih makan di sini sih, Ikram?" Gadis berambut panjang itu melipat kedua tangannya.


"Kalau kamu mau makan di tempat lain, silakan!" Ikram menunjuk pintu keluar lalu mengambil piring untuk mengambil nasi. Olive cemberut kemudian mengikuti Ikram mengambil piring. Mak Aminah yang biasanya menyapa kali ini seolah tak peduli dengan kehadiran keduanya.


"Mak, saya mau sop iganya." Ikram menunjuk makanan kesukaannya di warung nasi ini.


Wanita paruh baya itu hanya mengangguk kemudian menyuruh pegawai barunya untuk melayani pelanggannya. Ikram sempat mengerutkan keningnya, tetapi akhirnya ia tak peduli, apalagi Olive terus memperhatikan gerak-geriknya.


Seorang gadis berambut pendek mulai menuangkan sop iga pada mangkuk yang sudah diisi dengan sayuran terlebih dahulu. Dengan ramah gadis itu pun menyajikannya di meja Ikram dan Olive. Ikram sebenarnya ingin menemui Yuki, tetapi malah gadis lain yang ada di sini.


"Hei, tunggu!"Tiba-tiba Olive memanggil gadis yang baru saja menyajikan sop iga untuk Ikram.


"Iya, ada yang bisa dibantu?" tanyanya ramah.


"Cewek yang satu lagi ke mana?" Olive bertanya dengan angkuh.


"Maksudnya?"


"Itu ... pe-- Yuki di mana dia?"


Gadis berambut pendek itu pun mengerti siapa yang dimaksud wanita di hadapannya. Namun, saat akan menjawab tiba-tiba Mak Aminah datang.


"Neng Yuki sedang pergi, kenapa? Jangan khawatir Neng Yuki nggak akan ganggu kalian."

__ADS_1


"Ke mana Yuki pergi, Mak?" Ikram menyela.


Olive langsung mendelik kesal pada sang kekasih.


Wanita paruh baya itu tak menjawab pertanyaan Ikram, ia langsung pergi ke tempatnya semula, begitu juga dengan gadis berambut pendek itu karena diajak Mak Aminah. "Ayo, Nis kasih surat cinta buat mereka!"


Ikram ingin segera menyelesaikan makan siangnya. Pria itu ingin tahu ke mana Yuki pergi. Dia merasa masih punya urusan dengan gadis itu atau hanya merasa kehilangan. Entahlah hanya Ikram dan author yang tahu.


Olive tak menghabiskan makanannya, gadis itu langsung mengikuti Ikram yang beranjak dari duduknya dan menuju kasir. Pria itu bahkan tak menunggu surat cintanya.


Saat Ikram sudah berdiri di hadapan Mak Aminah, pria itu langsung mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.


"Nisa, mana surat cinta meja nomor 7?" tanya Mak Aminah pada gadis di sampingnya yang sibuk menulis surat cinta di memo.


"Sebentar, Mak, Nisa cek dulu," jawab gadis itu.


Hal itu dijadikan kesempatan Ikram untuk bertanya mengenai Yuki. "Mak, Yuki pergi ke mana? Saya masih punya urusan pekerjaan sama dia," ucap Ikram sedikit mencondongkan tubuhnya. Olive sendiri sudah pergi keluar dan menunggu di luar karena menerima panggilan telepon.


"Belum, bahkan gaji dia masih ada di tangan saya," ucap Ikram.


"Kalau gitu, tunggu saja setelah urusannya selesai, Mak nggak bisa ngasih tahu banyak." Mak Aminah pun mengambil surat cinta dari Nisa lalu mengembalikan satu lembar uang seratus ribu milik Ikram.


"Tolong kasih tahu saya, Mak," bujuk Ikram. Namun, Mak Aminah hanya bergeming. Ikram pun akhirnya pamit dan akan mencari sendiri keberadaan Yuki.


Kebetulan hari ini, Ikram juga akan mengantar Olive kembali ke Jakarta. Awalnya ia hanya akan mengantar sang kekasih, tetapi sepertinya sekarang ia juga akan menemui sang kakek.


Olive terlihat sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon. "Apa?Dia udah kembali."


"Kenapa Olive?" Ikram tiba-tiba merangkul bahu kekasihnya.

__ADS_1


"Eh, ini ... papi. Ya udah, pi. Olive balik sekarang." Olive langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


Ikram pun mengangguk, lalu mengajak kekasihnya untuk menuju mobilnya yang ada di restonya.


Ikram langsung melajukan mobilnya menuju ibu kota. Pria itu ingin segera bertemu dengan sang kakek. Olive juga terlihat tak tenang, ia tahu dari sang papi kalau calon istri Ikram sudah kembali. Bagaimanapun Olive harus segera menikah dengan Ikram agar calon istrinya itu tak merayu Ikram kembali. Walaupun sebenarnya rencana Olive menikah dengan Ikram agar bisa menguasai harta pria itu, selain itu Olive sudah telat datang bulan sejak bulan kemarin.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup memakan waktu lama karena hari sudah siang dan jalanan juga ramai sehingga di mana-mana terjadi kemacetan. Ikram sesekali menghela nafasnya. Namun, pria itu terkejut saat Olive tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah. Padahal biasanya gadis itu anteng-anteng saja jika berkendara walaupun macet.


"Olive, kamu sakit, Sayang?" Ikram memijat tengkuk Olive agar gadis itu merasa sedikit lega.


"Aku pusing banget, Kram. Aku mual," ucap Olive setelah memuntahkan isi perutnya dalam kantong keresek.


"Kita ke rumah sakit ya?" ajak Ikram kemudian mulai melajukan kembali mobilnya karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.


Olive menggeleng cepat, gadis itu tentu saja menolak, ia takut kalau dugaannya benar bahwa saat ini ia tengah berbadan dua. "Nggak usah, aku mau pulang aja mungkin ini karena kecapean atau masuk angin, Kram."


Ikram pun mengangguk, ia mengusap pipi kekasihnya dengan lembut. "Istirahatlah." Setelah itu, Ikram pun fokus menyetir, pria itu ingin segera sampai ke kediaman Olive. Setelah melewati kemacetan yang panjang, akhirnya Ikram pun sampai di kediaman Olive. Pria itu memasukan mobilnya ke pekarangan rumah Olive. Setelah membuka sabuk pengamannya, Ikram melihat ke samping tampak Olive masih memejamkan netranya, gadis itu tertidur.


Dengan lembut, Ikram menepuk pipi gadisnya. "Sayang, kita udah sampai." Olive membuka matanya sedikit, lalu akhirnya terbuka dengan sempurna. "Kita udah sampai, Sayang."


Olive pun menegakkan tubuhnya lalu mengucek matanya sebentar. Setelah kesadarannya kembali, Olive pun membuka sabuk pengamannya. Kini keduanya keluar dari mobil. Olive dan Ikram berjalan sambil bergandengan tangan seperti biasa.


Saat membuka pintu, tiba-tiba seseorang yang sangat Olive kenal berada di hadapannya. Dengan senyum mengembang dan merentangkan kedua tangannya, pria bertubuh tinggi itu memanggil Olive. "Aku kembali, Honey!"


Ikram menatap tajam ke arah pria berbaju lengan panjang itu, lalu ke arah Olive yang tampak salah tingkah. "Siapa dia, Olive?"


Olive menelan salivanya, gadis itu terlihat kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata.


"Jawab, Olive, siapa dia?" geram Ikram dengan mengeratkan rahangnya.

__ADS_1


"Dia ... dia ...." Olive tak melanjutkan ucapannya saat pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Ikram.


"Kenalkan aku adalah ...."


__ADS_2