Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Vanya Anindira Pradipta


__ADS_3

Vanya Anindira Pradipta adalah putri tunggal dari Ehsan Pradipta dan Ayudia. Karena terlahir dari keluarga berada dan menjadi anak tunggal, gadis itu tumbuh menjadi anak yang sangat manja. 


Namun, dibalik sifat manjanya, ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi dan rasa empati yang tinggi. Sehingga gadis itu selalu menjadi primadona di mana pun, baik saat sekolah tingkat SMA bahakan sampai ke perguruan tinggi.


Tahun ini, Vanya baru saja lulus menjadi sarjana jurusan desain interior. Gadis berambut panjang itu sedang menikmati masa-masa liburannya sebelum siap untuk bekerja di perusahan sang papi.


Baru saja ia menghirup udara segar, karena tak berkutat dengan tugas kuliah lagi. Tiba-tiba saja sahabat dari sang papi ingin menjodohkan putra mereka dengannya. Vanya bukanlah gadis yang bisa menerima sembarang orang sebagai kekasihnya, bahkan sampai saat ini belum ada seorang pria pun yang berasil merebut hatinya.


Awalnya, Vanya tentu saja menolak keputusan itu, apalagi Vanya tank tahu siapa pria yang akan dijodohkan dengannya. "Vanya nggak kenal sama dia, Pi." Saat itu Vanya mencoba bernegosiasi dengan sang papi.


"Papi juga nggak yakin, tapi kata Hanan ini permintaan ayahnya yang sedang sakit, Sayang." Ehsan menjelaskan apa yang sebenarnya.


"Besok kalian akan menemui kakek Fathan," pungkas Ehsan.


Saat ini Vanya sedang berada di kamarnya dan menggambar beberapa desain ruangan seperti hobinya. "Ikram. Namanya sih oke tapi kelakuannya, amit-amit kaya dia aja yang ganteng." Vanya mulai berceloteh sendiri.


Pertemuan pertamanya dengan Ikram, calon suaminya sangatlah tidak berkesan. Pria itu selalu menatapnya sinis, apalagi bahasanya yang jauh dari kata lembut. Diberi kesempatan untuk perkenalan, malah lebih tepatnya mengajak untuk bertengkar, itulah yang terjadi saat mereka berada di taman belakang.


Namun, saat Vanya bertemu dengan kakek dari Ikram, gadis itu ternyata sudah mengenal sang kakek. Kakek berambut putih yang selalu berjalan-jalan sore ke taman kota dan bertemu dengan Vanya.


Akhirnya, Vanya pun menyetujui pernikahan itu demi kesembuhan sang kakek. Pernikahan yang sudaha dirancang dengan megah itu, ternyata gagal karena calon mempelai pria tak kunjung datang, sampai akhirnya Vanya diusir oleh sang papi.


**


Sudah tiga hari Vanya menginap di hotel. Hari ini gadis itu akan pergi membeli ponsel baru. Uang yang diberikan sang mami membuat hidupnya masih terasa nyaman, walaupun tidak senyaman di rumah mewahnya.


Vanya mengambil kembali uangnya dari ATM. Gadis itu kali ini membawa uang cukup banyak. Ponsel yang akan dia beli bukanlah ponsel biasa. Jiwa sosialitanya masih terbawa. Gadis itu menikmati hari-harinya.


Kemudian gadis yang rambutnya diikat itu masuk ke sebuah mal yang ada di sana, lalu mencari barang yang ia inginkan. Vanya memilih barang-barang yang ia sukai.

__ADS_1


Sekitar dua jam berada di sana, akhirnya Vanya keluar dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Awalnya hanya ingin membeli ponsel, tetapi setelah masuk ke mal, ia membeli barang yang lainnya juga seperti baju dan sepatu.


Hari sudah siang, perut gadis itu pun protes minta diisi. Gadis itu pun mencari sebuah restoran yang ada di sana. Vanya memesan makanan kesukaannya. Sambil menunggu pesanannya datang, ia membuka ponsel barunya dan memasukan sim card barunya ke sana.


"Makasih mami, kalau mami nggak ngasih aku atm, entah bagaimana aku menyambung hidup di luar seperti ini."


Vanya mulai mengoperasikan ponselnya. tak berselang lama pesanan gadis itu pun datang, sebelum pelayan itu pergi, Vanya meminta tolong untuk mengisi baterai ponselnya terlebih dahulu. 


Pria berbaju abu-abu itu menunjukkan tempatnya. "Makasih, Mas." Vanya menganggukkan kepalanya.


Setelah mengisi baterai ponselnya, Vanya pun menyantap makan siangnya. Menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya.


"Enak banget," gumamnya.


Bersamaan itu, terlihat beberapa orang pria masuk ke restoran itu. Vanya sibuk dengan makanannya sendiri tanpa ia sadari salah satu dari pria tadi telah mengambil satu paper bagnya yang berisi pakaian.


"Dia kayanya orang kaya, target kita hari ini," bisik pria berkumis tebal itu pada dua pria yang duduk di sampingnya.


Mereka bertiga pun langsung memesan makanan enak di restoran ini. Sudah tiga hari mereka tak mendapatkan makanan yang enak. Namun, hari ini aksi pencopetan mereka berjalan dengan lancar. Seperti kejatuhan bulan, saat masuk restoran ini pun, ia mendapatkan mangsa yang leih empuk.


Ketiga pria itu sesekali melirik ke arah Vanya, memastikan bahwa gadis itu masih berada di sana. Tak berselang lama, Vanya beranjak dari sana untuk mengambil ponselnya. Hal itu tak disiakan oleh pria yang paling tinggi diantara mereka untuk mengambil barang Vanya.


Pria bernama  Jarot itu berhasil mengambil dompet Vanya dari tasnya.


Saat Vanya kembali, tasnya sudah kembali rapi seperti sedia kala. Gadis itupun memanggil pelayan resto untuk meminta bill makan siangnya.


Kemudian seorang wanita berbaju sama seperti pria sebelumnya itu memberikan billnya, Vanya pun membuka tasnya untuk mengambil uangnya, tetapi saat ia membuka mencari dompetnya, ia tak kunjung menemukannya.


"Lho, dompet aku di mana, perasaan tadi ada di sini deh." Vanya mengeluarkan semua isi tasnya, tetapi nihil benda itu tidak ada.

__ADS_1


Kini, gadis itu mulai panik, apalagi tagihan bill nya mencapai seratus lima puluh ribu rupiah, sementara di sakunya hanya ad uang lima puluh ribu rupiah.


"Jangan sok makan mahal, kalau nggak ada duit, Mbak." Pelayan itu mulai menggerutu.


"Aku serius, dompet aku hilang, Mbak. Aku nggak boong," ucap Vanya sambil terus mengacak-acak tasnya.


Sementara si pencuri sedang asyik menikmati makan siang mereka. Vanya mulai menangis, gadis itu benar-benar takut dengan keadaan memalukan ini.


"Pakai uang kes aja, Mbak." Pelayan wanita itu memberi saran.


"Aku cuma ada uang kes lima puluh ribu, Mbak." Vanya yang sudah menangis mengeluarkan uangnya yang ada di saku celananya.


Namun, tiba-tiba ia ingat pada ponsel yang baru dibelinya. "Oh, iya bagaimana kalau aku bayar pakai ini, Mbak." Vanya mengeluarkan ponsel barunya.


"Wah, ini model terbaru ya, Mbak?" Pelayan dengan nametag Nina itu berubah ramah saat melihat ponsel milik Vanya.


"Siyalan, uang benar-benar segalanya ternyata," gumam Vanya dalam hatinya.


Masalah di restoran pun selesai setelah Vanya akhirnya, menjual kembali ponselnya dengan harga jauh dari harga aslinya. Gadis itu pun keluar dari restoran itu dan baru sadar selain dompetnya, ternyata barang belanjaannya pun juga hilang satu.


"Ah, aku bener-bener siyal hari ini." Vanya memekik kesal. Namun, tanpa ia duga saat akan menuju hotelnya. Gadis itu dihadang oleh tiga pria dengan wajah sangar.


"Berikan barang-barang mu, Gadis Cantik!" pinta seorang pria bertubuh sedang dengan tato di wajahnya.


Vanya yang sudah merasa takut, langsung memberikan tasnya dan juga belanjaannya, tetapi tidak dengan sisa uang hasil menjual ponsel yang ada di sakunya.


"Jangan sakiti aku! Ambil saja barang-barang itu." Vanya melempar tas dan paper bagnya.


"Uangnya masih ada, kan? Ayo berikan!" bentak pria berkumis tebal dengan perut buncit itu.

__ADS_1


Vanya menggelengkan kepalanya sambil melangkah mundur. " Jangan!"


__ADS_2