
Mak Aminah langsung kembali ke warungnya untuk mengambil makan siang Yuki. Ikram benar-benar tak menyisakan sedikitpun untuk gadis itu.
Yuki saat ini sedang duduk berhadapan dengan Ikram. "Itu jatah makan siang aku ngapain dimakan sih?" gerutu gadis itu.
"Sudah lama nggak makan makanan ibu kamu, jadi rindu." Ikram menjawab sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Aku izin pulang dulu lah, buat makan siang." Yuki beranjak dari duduknya, tetapi ditahan oleh Ikram.
"Nggak usah, sebentar lagi juga datang." Pria itu menarik tangan Yuki, agar gadis itu kembali duduk. Yuki menepis kasar tangan Ikram, lalu duduk kembali dengan wajah ditekuk. Bersamaan itu Mak Aminah datang dengan membawa makanan untuk putrinya.
"Neng Yuki makan dulu," ucap wanita berbaju hitam itu sambil menyediakan makanan di meja.
Yuki langsung mengangguk dan mulai menikmati makanannya tanpa menawari Ikram yang masih betah duduk di depannya. "Hei, itu pacarnya nggak diliat apa? Nanti ngamuk lagi."
"Eh, iya kenapa bisa lupa kalau ada Olive di sini."Ikram langsung beranjak dan pergi ke
lantai atas.
"Haish, cowok apaan yang lupa sama ceweknya sendiri?" gumam Yuki lalu melanjutkan makan siangnya.
Mak Aminah hanya tersenyum melihat putrinya. "Neng Yuki, kayanya Nak Ikram naksir sama Neng deh." Wanita paruh baya itu lalu menambahkan sayuran ke kotak makan Yuki.
"Amit-amit, jangan sampai." Yuki mengetuk meja bergantian dengan kepalanya.
Mak Aminah malah tertawa puas. "Jangan gitu Neng, kalau nanti cinta beneran malu ih." Wanita itu malah terus menggoda Yuki hingga gadis itu tersedak.
Sementara itu, Ikram sudah berada di ruangannya dan melihat kekasihnya sedang tertidur dengan pulas di sofa. Ikram mendekatinya lalu menutupi tubuh gadisnya dengan jaketnya. Olive sepertinya memang kelelahan, gadis itu hanya bergumam kecil tanpa membuka matanya. Akhirnya, Ikram pun memtuskan untuk kembali ke lantai bawah, mengganggu Yuki sekarang sudah menjadi hobinya.
Saat pria itu kembali ke lantai bawah, ia tak menemukan Yuki berada di tempatnya tadi, bahkan Mak Aminah juga sudah tak ada di sana. Ikram pun akhirnya mencari Yuki ke ruangan lain. Saat menuju dapur, terlihat gadis itu sedang mencuci tangannya. Rambutnya yang panjang dicepol dengan rapi, sehingga menampilkan leher jenjangnya yang putih mulus.
Ikram menelan salivanya saat melihat Yuki dari arah belakang, entah perasaan macam apa ini, padahal jika bersama dengan Olive, ia tak pernah seperti ini. Dengan langkah lebar, pria itu mencoba menarik rambut Yuki agar surainya tergerai. Namun, alih-alih tergerai justru Ikram malah menyakiti gadis itu hingga menjerit.
__ADS_1
"Aw! Hei apa yang kamu lakukan!" bentaknya sambil memegangi tangan Ikram yang masih menarik rambutnya.
"Sakit, Ikram!" Yuki berteriak dengan marah dan akhirnya membuat Ikram sadar dan melepaskan tarikannya.
"Eh, ma-maaf." Ikram tergagap saat Yuki memegangi rambutnya yang kini sedikit berantakan.
"Mau lo apa sih? Gue udah ngerjain semua yang lo mau, tapi lo memperlakukan gue kaya budak. Kalau emang lo nggak suka udah gue mundur." Yuki menatap Ikram dengan marah, lalu berjalan cepat untuk pergi dari sana. Namun, lagi-lagi Ikram menahannya dengan menarik lengan Yuki. Tentu saja gadis itu kembali marah dan menepis kasar tangan Ikram.
"Gue mundur dari kerjaan ini, silakan cari yang lain!" Yuki mengulang kalimatnya dan pergi dari sana.
Saat melewati tangga menuju lantai atas, Olive sudah berdiri di sana dengan tatapan tajam seperti biasa. "Apa yang kalian lakukan, hah!"
"Kamu nanya?" jawab Yuki yang terdengar menyebalkan di telinga Olive.
"Hei, gue nanya sama lo ya, Pelakor!" Olive mendekat dengan mengangkat satu tangannya.
"Olive!" Tiba-tiba Ikram berteriak dan berada tepat di belakang Yuki.
"See! Tanya sama cowok lo, O-live." Yuki mendelik kesal pada Ikram lalu pergi meninggalkan resto.
Yuki berjalan cepat menuju warung nasi, wajahnya masih ditekuk, rambutnya kini sudah terurai karena Yuki membuka ikatan di rambutnya dengan asal tadi.
"Neng Yuki, ngebakso lagi yuk!" Tiba-tiba suara bariton yang ia kenal menyapanya di balik banner menu.
"Ayo, Bang. Yuki lagi pengen makan orang ini." Yuki menjawab asal dengan wajah yang masih merah menahan amarah.
Pria yang tak lain adalah Agam itu, langsung muncul di balik banner dengan senyum ramahnya. "Hayu, Neng. Izin dulu atuh sama Mak calon mertua, ya," ucapnya dengan menampilkan deretan giginya yang rapi.
Yuki hanya mengangguk, lalu masuk bersama Agam untuk meminta izin. Mak Aminah sempat mengerutkan dahinya heran, ia tahu bahwa anak gadisnya sedang tidak baik-baik saja, tetapi mungkin dengan pergi bersama Agam, ia bisa melepaskan amarahnya.
"Hati-hati ya, Neng." Mak Aminah tersenyum tulus pada putrinya, kemudian ia berbisik pada Agam setelah Yuki berjalan keluar. "Jagain anak Emak ya, awas jangan diapa-apain! Pokoknya kalau kenapa-kenapa tingalikeun we!"
__ADS_1
"Siap, Mak. Neng Yuki aman sama Agam."
Pria itu pun keluar, Yuki sedang menunggunya sambil kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celananya, rambutnya kini sudah diikat dengan sembarang hingga menambah kecantikannya. "Ayo, Neng!" ajak Agam sambil memberikan helm pada Yuki.
Mereka pun pergi meninggalkan warung nasi menuju kedai bakso langganan mereka setiap sudah belanja. Ternyata kepergian Yuki bersama Agam tak lepas dari perhatian Ikram.
Pria itu, memperhatikan gerak-gerik Yuki dari ruangannya di lantai atas. Olive sendiri sedang duduk di sofa. Gadis itu sibuk dengan ponselnya setelah perdebatan mereka selesai. Ikram berdiri di depan kaca besar yang menghadap ke arah warung nasi milik Yuki, dan ternyata pemandangan saat Yuki pergi bersama pria lain itu membuat hati Ikram memanas. Siyalan tuh cewek cepet banget dapat cowok dan dengan mudah pergi gitu aja sama cowok lain.
Tanpa sadar satu tangannya mengepal dengan erat. Rahangnya mengetat, menahan rasa yang tak pernah ada sebelumnya seperti saat bersama Olive.
"Ikram!"
"Awas kamu." Ikram bergumam pelan.
"Ikram? Sayang, hei!" Olive ternyata memanggil namanya.
"Eh, iya Sayang." Ikram berbalik lalu menampilkan senyumannya.
"Aku lapar, kita makan yuk!" ajak Olive.
"Aku udah makan, Olive. Kamu delivery saja ya." Ikram menjawab tanpa sadar.
"Lho, kapan kamu makan? Kok nggak ajak aku?" Olive kembali curiga.
Ikram yang pikirannya masih terpaut pada Yuki yang pergi dengan pria lain, akhirnya sadar bahwa ia telah membuat kesalahan besar. "Eh, maksud aku. Kita makan di warung nasi depan aja gimana?"
"Kamu mau ketemu cewek itu lagi ya? Ih aku kesel banget sama kamu, Ikram."
"Eh, nggak dong, aku kan masih lemes jadi yang deket aja gitu maksud aku, gimana?"
"Aku mau makan bakso aja yang pedes pokoknya."
__ADS_1