Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Identitas Baru


__ADS_3

Setelah gagal masuk ke restoran, Vanya pergi meninggalkan tempat itu. Gadis itu benar-benar sadar dengan keadaannya saat ini. "Aku bukan Vanya Anindira, namaku Yuki." Gadis itu menghapus jejak air matanya.


Sekitar jam 7 malam, Vanya kembali ke masjid tempatnya menginap, gadis itu berbuka puasa di pinggir jalan, dengan bekal yang diberikan istri Pak Darman, pria paruh baya penjaga masjid.


Vanya memutuskan untuk kembali mencari pekerjaan besok pagi. Penawaran mengenai menginap di rumah Pak Darman, telah gadis itu tolak, ssaat tadi mereka bertemu kembali di masjid.


Malam ini Vanya benar-benar sadar bahwa seseorang dihargai karena melihat jabatan atau hartanya. "Yuki, nama kamu sekarang Yuki, bukan Vanya putri Pradipta lagi." Gadis itu mulai terisak sambil meringkut di atas karpet.


Malam semakin larut dan sepi, Vanya akhirnya bisa memejamkan matanya setelah tangisnya mulai reda dan kantuk sudah menyergapnya.


Keesokan harinya Vanya kembali pergi untuk mencari pekerjaan dan hal yang sama juga ia dapatkan dari istri Pak Darman yaitu, sarapan dan hari ini plus dengan makan siangnya.


Vany sangat berterima kasih, walaupun istri pria itu tak pernah menampakkan dirinya, tetapi begitu perhatian. 


Hari terus berganti sudah satu minggu Vanya berada di kota Bandung, tetapi ia masih belum mendapatkan pekerjaan juga. Lelah memang ia rasakan, walau pun uang sepuluh ribunya masih awet, karena ia mendapat jatah makan gratis.


Namun, pagi ini Vanya merasa tubuhnya lemas dan badannya demam. "Jangan sakit dong, Yuki. Kamu pasti kuat." Gadis itu bergumam sambil beruaha beranjak dari tidurnya, tetapi tubuhnya begitu lemas, kepalanya juga terasa pening. Akhirnya gadis itu pun kembali ambruk.


Selama seharian itu, Vanya hanya berbaring di tempatnya sambil memeluk tubuhnya yang tasa dingin, tidak ada seorang pun yang peduli padanya. Vanya terus tertidur di sana, entahlah gadis itu tidur atau pingsan, karena seharian ini belum mendapatkan makanan.


Tanpa Vanya ketahui ternyata Pak Darman sedang mencarinya, untuk memberi jatah makanannya, tetapi pria itu tak menemukannya.


"Mungkin Neng Yukinya udah berangkat dari subuh, Bu," ucap pria itu pada istrinya yang malam ini ikut ke masjid.


"Jangan dilepasin, Pak. Kali aja anak kita mau sama dia, kalau udah nikah mungkin Bayu nggak akan mabuk-mabukan lagi." Istri Pak Darman menjawab dan berharap banyak.


"Iya, kali aja ya dia bisa jadi obat buat anak kita."

__ADS_1


Ternyata percakapan mereka didengar jelas oleh Vanya yang saat itu baru saja bangun. "Apa aku benar-benar siyal atau bagaimana? Kenapa harus dipertemukan dengan orang-orang yang bermuka dua seperti mereka."


Vanya pun berencana untuk pergi malam ini juga, tetapi tubuhnya masih terasa lemas. Akhinya gadis itu pun kembali meringkuk di tempatnya. Gadis itu akan memulihkan tubuhnya dulu sebelum pergi dari tempat ini.


Vanya pun kembali tertidur sambil memeluk kantong keresk berisi bajunya, ia tak mempedulikan lagi tentang perutnya yang kelaparan. Yang ia mau besok dirinya harus segera pergi dari sini.


Demam gadis itu sudah reda saat mentari sudah menyapa dengan kehangatannya. Vanya mengerjapkan matanya saat sang surya masuk lewat celah kecil di jendela.


Vanya tertegun sebentar untuk mengumpulkan nyawanya yang masih beterbangan entah ke mana. Saat ia sudah sadar penuh, gadis itu langsung beranjak keluar menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti bajunya.


"Oke, Yuki hari ini saatnya kamu pergi dari sini," gumamnya sambil menatap dirinya dalam pantulan cermin yang terlihat tambah kurus.


Namun, baru saja ia keluar dari toilet, Pak Darman dan seorang wanita paruh baya berada di hadapannya.


"Astagfirullah!" pekik Vanya sambil memegang dadanya karena kaget.


"Maaf, Neng Yuki. Kami hanya khawatir soalnya dari kemarin saya nggak lihat Neng Yuki." Pak Darman mulai bercerita.


"Oh, iya kenalin ini istri saya, biasa dipanggil Bu Darman." Wanita bertubuh gemuk itu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Vanya.


Vanya pun menyambutnya dengan biasa saja. Karena ia tahu niat wanita di depannya. Walaupun gue miskin, gue nggak mau sama pemabuk.


"Cantik juga ya, Pak. Ayo kita sarapan bareng, Neng," ajak wanita itu.


"Nggak usah, Bu. Saya udah sarapan kok," tolak Vanya sopan. Namun, Pak Darman dan Bu Darman memaksa, hingga akhirnya Vanya pun mengikuti mereka ke rumahnya yang ada di belakang masjid ini.


Saat mereka sampai, tampak rumah sederhana dengan cat berwarna hijau muda dan jendela kaca besar. Vanya sedikit ragu untuk masuk ke rumah itu, tetapi Bu Darman langsung menarik tangannya. Saat mereka sampai di ruang tengah, terlihat seorang pria sedang makan dengan kaki kanannya naik ke atas kursi.

__ADS_1


"Astagfirullah, sudah dibilang tungguin kita, kenapa kamu malah ngabisin sarapan kita sih, Yu?" Bu Darman mengomel sambil melihat nasi yang tinggal sedikit, juga telur yang sudah habis.


"Bayu lapar, Bu." Pria itu menjawab tak acuh. Sepertinya juga ia tak menyadari ada orang lain di sana. Sampai Pak Darman menendang satu kakinya.


"Sakit, Pak! Eh ada tamu ya?" Pria itu berbalik menatap Pak Darman juga Vanya.


Tanpa diduga pria itu langsung berdiri dan merapikan rambutnya yang berantakan, kemudian mengusap-usap tangannya ke celana pendeknya. "Kenalin, Bayu." Pria berwajah mirip Pak Darman itu mengulurkan tangannya pada Vanya. Gadis itu sedikit mengernyit takut, tetapi akhirnya bersikap biasa saja. "Yuki."


"Sebentar ya, Neng. Biar Ibu bikinin nasi goreng dulu ya," ucap wanita paruh baya itu sambil mengambil sisa nasi yang mungkin hanya satu piring lagi.


Sementara itu, Vanya, Bayu dan Pak Darman duduk melingkar di tempat yang sama. Bayu terus mengajak ngobrol Vanya, mengenai dirinya. Kali ini yan sedang berkenalan bukanlah Vanya tetapi Yuki, sehingga ia menjawab asal bahwa dirinya hidup sebatang kara, dan saat ini ia sedang mencari pekerjaan.


Bayu berubah raut wajahnya, saat tahu bahwa Yuki bukanlah orang kaya. "Lah kirain anak orang kaya," ucap Bayu tanpa menjaga perasaan gadis di depannya.


"Bayu!" bentak Pak Darman.


"Lah iyakan, lo bukan anak orang kaya, muka lo aja sosialita, tapi idup lo sulit." Bayu pun beranjak dan meninggalkan ayah dan Vanya.


Pk Darman sudah beranjak akan memukul pria itu, tetapi dicegah oleh Vanya. "Sudah, Pak. Saya nggak apa-apa."


"Maafin putra Bapak ya," sesal Pak Darman.


Bersamaan itu Bu Darman membawa satu piring nasi goreng di tangannya. "Aduh maaf ya lama, silakan, Neng." Wanita itu menyodorkan satu piring nasi goreng di hadapan Vanya.


"Lo, Ibu sama Bapak mana?" Vanya menatap kedua orang tua itu, tetapi keduanya menggelengkan kepala.


Di meja makan itu terdapat dua piring kosong yang masih bersih, Vanya pun mengambilnya kemudian membagi nasinya untuk bertiga. "Nah kalau gini adil, kan? Ayo Pak, Bu, dimakan," ajak Vanya sambil memberikan piring berisi nasi itu ke Pak Darman dan istrinya.

__ADS_1


"Makasih, Neng Yuki."


__ADS_2