
Ikram sudah diantar pulang ke kediaman Pradana oleh Pak Tito, supir keluarga Vanya. Pria itu disambut oleh wanita paruh baya yang mengaku sebagai maminya. Pak Tito pun pamit pulang dan memberitahukan bahwa tuannya sedang berada di luar kota, jadi Ikram tidak perlu kembali ke sana dalam waktu yang tidak ditentukan.
"Ya Allah Ikram, kamu kenapa bisa kaya gini?" Manda mengambil alat untuk mengompres Ikram.
"Biarin saja, Mi. Dia sudah dewasa, hanya demam saja, kan?" sela Hanan yang saat itu sedang bersama istrinya.
"Pi, bagaimanapun juga Ikram itu masih putra kita, Mami nggak mau kalau terjadi sesuatu pada dia."
"Terus saja manjain dia." Hanan pun beranjak lalu pergi meninggalkan istri dan putranya.
Manda mengurusi Ikram dengan telaten, sampai menjelang sore, akhirnya Ikram pun sadar. Pria itu membuka matanya dan mengambil handuk kecil yang menempel di dahinya. "Ah, badanku," gumamnya kemudian pria itu berusaha bangun dan duduk. Saat berhasil duduk, terlihat sang mami terlelap di sampingnya dengan posisi duduk di lantai. Ikram memang dibaringkan di sofa saat tiba ke rumah.
"Mi ... Mami." Ikram mengguncang lengan maminya untuk membangunkan wanita itu agar pindah ke atas sofa.
Manda pun membuka matanya perlahan, lalu melihat putranya sudah duduk. "Ikram, kamu sudah siuman, Nak?" Wanita itu langsung beranjak dan memegang dahi putranya.
"Ikram baik-baik saja, Mi."
"Alhamdulillah panasnya udah reda. Ayo sekarang kamu makan, Nak. Sejak pagi tadi kamu belum makan apa-apa, kan?" Anggukkan dari Ikram membuat wanita itu makin khawatir. Ikram pun berjalan dipapah oleh sang mami menuju meja makan.
Ikram duduk dengan wajah pucat, kepalanya juga masih terasa sangat pening. Kenapa sulit sekali menemui mereka? Padahal tinggal selangkah lagi aku bertemu, tapi aku malah sakit, pingsan pula.
Setelah sang mami menyiapkan makanan untuk Ikram, pria itu pun mulai menyantap makanannya walau di lidahnya masih terasa pahit, tetapi pria itu paksakan. Setelah selesai Ikram meminum obat yang diberikan sang mami.
Malam pun tiba, Ikram saat ini berada di kamarnya. Pria itu hanya duduk bersandar pada kepala ranjang sambil memainkan ponselnya. Baru saja akan mencari tahu tentang Vanya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari kekasihnya, lebih tepatnya mantan kekasihnya, Olive.
__ADS_1
Ikram masih malas untuk menerima panggilan telepon dari wanita itu, tetapi karena Olive terus-menerus menghubunginya, akhirnya Ikram pun menerima panggilannya. "Iya ... ada apa?" tanya Ikram datar.
"Akhirnya kamu menerima panggilan teleponku, Sayang. Maafkan aku, Ikram. Aku hanya ingin menikah denganmu." Olive berkata dengan tak tahu malu.
Ikram berdecak. "Kamu masih berani berkata seperti itu, Olive? Kamu pikir aku masih mau menerimamu?"
Olive sepertinya terdiam sejenak sebelum kembali bersuara. "Aku minta ...." Ikram langsung menutup panggilan teleponnya. Pria itu kini kembali mencari informasi mengenai Vanya calon istrinya.
Setelah menemukan sosial media milik gadis itu, Ikram langsung mencari foto gadis itu, tetapi sayang semua fotonya hanya memperlihatkan bagian belakang gadis itu. "Apa dia tidak suka memposting foto dirinya secara utuh seperti gadis pada umumnya?" gumam Ikram sambil terus mencari informasi lain. Ikram hanya menemukan beberapa foto desain interior milik gadis bernama Vanya itu.
"Ah, apakah dia seorang desain interior juga? Eh, tunggu foto ini ...." Ikram mengingat bahwa foto itu yang diberikan dirinya pada Yuki untuk mendesain kantornya di resto barunya.
"Oh, jadi dia desainernya." Ikram tersenyum saat melihat semua foto itu. Pria itu tak menyangka kalau calon istrinya ternyata seorang desain interior yang sangat berbakat dan profesional.
"Oh, tidak aku masih punya urusan dengan Yuki. Apa gadis itu sudah kembali ya?" Ikram jadi kembali teringat pada gadis yang selalu membuatnya kesal juga kangen itu.
Ikram menoleh sebentar kemudian kembali fokus pada ponselnya. Fathan pun kini duduk di sofa yang tersedia di sana. "Sepertinya kau gagal lagi."
"Ikram sedang berusaha, Kek. Tolonglah beri Ikram waktu agar bisa menebus semuanya." Ikram kini menyimpan ponselnya di atas nakas.
"Apa kau sudah tidak berhubungan lagi dengan kekasihmu itu? Siapa namanya Oil?"
"Olive, Kek." Ikram memutar bola matanya jengah.
Pria tua itu pun tergelak. Namun, kembali serius saat berbicara mengenai Vanya. "Apa kamu sudah ingat wajahnya?" Ikram menggelengkan kepalanya, pria itu juga heran bagaimana bisa melupakan wajah seseorang begitu saja, padahal biasanya tidak.
__ADS_1
"Kakek, bisa bantu Ikram, kan? Tolonglah kasih Ikram foto dia, Kek. Ikram udah nyari tapi belum nemu."
"Kakek juga tak punya foto gadis itu," jawab Fathan.
Ikram pun menghela nafas gusar, rasanya begitu sulit untuk mendapatkan informasi gadis itu. "Kek, boleh nggak Ikram ... memilih gadis lain?" Pria itu ragu untuk mengungkapkan pertanyaannya.
"Siapa?" tanya Fathan.
"Dia sebenarnya bukan dari kalangan kita, tetapi Ikram yakin kalau dia dari keluarga baik-baik." Ikram mulai bernegosiasi dengan sang kakek.
"Siapa dia?" Fathan terlihat mengeratkan pegangan pada tongkatnya, tetapi berusaha kembali tenang.
"Anak pemilik warung nasi di depan resto Ikram yang baru. Ayahnya sepertinya sudah meninggal karena selama yang Ikram tahu mereka hanya hidup berdua."
"Kamu yakin? Apa gadis itu mau sama kamu?"
Ikram terdiam sejenak. Selama ini dirinya dan Yuki hanya terus bertengkar, tetapi entah mengapa momen itu justru membuat Ikram merasa kalau hidupnya lebih berwarna. "Ikram yakin dia juga akan suka sama Ikram, apalagi Ikram tampan, kaya pula. Apalagi yang kurang?" Pria itu menepuk dadanya sombong.
"Jangan sombong dulu, tidak semua gadis melihat itu. Yang terpenting dari seorang laki-laki adalah bertanggung jawab, Ikram."
Ikram pun mengangguk. "Jadi Kakek akan setuju dengan pilihan Ikram, kan?"
"Kita lihat saja nanti, kalau memang kamu tidak berhasil menemukan Vanya. Kakek akan mengikuti keinginanmu." Fathan pun beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan kamar Ikram. Wajahnya tersenyum saat pria tua itu sudah menutup pintu kamar Ikram. "Dasar bocah nakal, dia yang kamu cari. Kakek tahu pemilik warung nasi itu yang telah menolong Vanya."
Sementara itu, Ikram kembali sibuk dengan ponselnya, kali ini ia mencari sosial media milik Yuki, tetapi tak menemukan foto gadis itu. Namun, saat pencarian itu ada nama 'Warung Nasi Kadeudeuh', Ikram pun tak melewatkannya, ia langsung melihat akun itu. Benar saja itu milik Mak Aminah. Banyak foto menu makanan di sana. Ikram pun akhirnya menulis pesan pada akun itu.
__ADS_1
Makananan di warung nasi ini juara, apalagi pengirim surat cintanya, apa dia sudah kembali?