
Yuki menghubungi nomor Ikram setelah pria itu pergi dari warung nasinya. Gadis itu masih merasa kesal dengan syarat yang diajukan oleh Ikram, yang sebenarnya hal itu memang tidak perlu karena dirinya tak melakukan kesalahan apapun.
Gadis itu membatalkan kesepakatan yang telah terjadi tadi. Dengan santai Yuki berkata bahwa dirinya tak ingin melakukan syarat yang diajukan Ikram, bahkan terdengar pria itu menahan amarahnya saat di telepon, saat memanggil namanya dengan keras.
Namun, setelah itu terdengar suara perempuan bertanya tentang dirinya. Yuki tersenyum miring, karena sepertinya Ikram dan kekasihnya akan bertengkar.
Yuki pun kemudian menutup sambungan teleponnya, karena malas juga mendengarkan perdebatan sepasang kekasih yang tak penting bagi dirinya.
"Rasain lu Ikram, emang enak musuhan sama pacar." Yuki terkekeh geli saat dirinya masih berdiri di luar halaman warung sambil menuliskan satu menu yang tertinggal. Namun, dengan kejadian itu, Yuki jadi merasa ada ide untuk merusak hubungan pria itu dan kekasihnya. "Eh, kenapa nggak gue jadiin kesempatan buat ancurin hidup dia juga ya?" gumamnya kecil sambil menggambar sesuatu di banner menu.
"Neng Yuki." Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Yuki, tidak keras tetapi cukup membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Astagfirullah Bang Agam! Ngagetin tahu," gerutu Yuki sambil mengelus dadanya.
Pria dengan helm biru itu malah terkekeh geli. "Lagian ngapain ngobrol sama banner?"
"Haish, siapa yang ngobrol sama banner, Bang?" bantah Yuki dan berharap bahwa ucapannya tadi tak terdengar jelas oleh pria di hadapannya.
"Lah bukannya tadi Neng Yuki yang bisik-bisik ke banner?" Pria itu tergelak.
Agam ternyata dihubungi oleh Mak Aminah untuk mengantar Yuki belanja bahan makanan yang sudah habis, sambil isi ulang deposit pulsa milik Yuki. "Ayo! Udah siap belum kita shoping, Neng," ajak pria itu.
"Eh, sekarang ya? Kirain besok." Yuki langsung mengajak Agam ke dalam untuk menemui sang emak.
"Mak belanjanya sekarang?" ucap Yuki pada sang emak.
__ADS_1
"Iya atuh Neng, Agam juga udah ke sini, kan? Banyak yang nanyain pulsa juga, udah berangkat sekarang aja," ucap Mak Aminah sambil memberikan uang pada Yuki dan daftar belanjaannya.
"Oke, kalau gitu Yuki berangkat dulu, Mak." Gadis itu baru saja membalikkan badannya, tiba-tiba sang emak kembali menarik lengannya. "Kenapa Mak?" Yuki mengerutkan keningnya.
"Itu apronnya nggak dibuka dulu?" ucap wanita paruh baya itu. Yuki menatap tubuhnya dan apron yang sama dengan sang emak masih melekat di tubuhnya.
"Eh, iya maaf lupa, Mak." Gadis itu terkekeh sambil membuka apronnya dan memberikannya pada sang emak. "Ya udah Yuki berangkat dulu, assalamu'alaikum."
"Hati-hati di jalannya, awas jagain anak Mak ya, Gam."
"Siap, Mak." Agam pun pamit dan langsung keluar menuju motornya, lalu Yuki pun naik di belakang setelah menggunakan helmnya.
Mereka menuju pasar tradisional yang biasa Mak Aminah kunjungi, Yuki juga pernah diajak ke sana dan akhirnya hapal sehingga gadis itu sekarang yang mendapat tugas belanja.
Agam selalu membantu Yuki, dan kadangkala pria itu menggodanya. Dulu dirinya juga pernah mempunyai gebetan anak pemilik toko klontong, tetapi sayang wanita pujaannya itu menikah dengan bosnya di tempat kerja. Saingannya terlalu berat, dia hanyalah seorang pria biasa dan bekerja sebagai tukang ojek. Akhirnya, Agam pun mundur dan pergi ke luar pulau Jawa, untuk mencari pekerjaan, tetapi hanya bertahan sekitar satu tahun, dan saat ini ia menetap di kota kembang, Bandung.
"Neng Yuki, mau jajan bakso dulu nggak? Di sini ada yang enak lo," ucap Agam sesaat setelah Yuki kembali dari counter.
"Ayo deh, Bang. Lagi pengen yang pedes ini." Yuki kemudian menaiki motor Agam. Pria itu tersenyum lebar saat ajakannya kali ini diterima dengan baik oleh Yuki, biasanya gadis itu selalu menolaknya secara halus.
Agam melajukan motor matiknya dengan kecepatan rata-rata, tak berselang lama ia membelokkan motornya ke arah kiri dan parkir di depan kedai bakso. Tertulis nama 'Bakso Ada' di sana, Yuki pun turun dan memberikan helmnya pada Agam, lalu pria itu pun ikut turun dan mengajak masuk ke kedai bakso itu dengan konsep lesehan.
Yuki dan Agam memilih meja dekat jendela agar tak terlalu panas, Yuki memesan bakso cincang tanpa mie, tetapi hanya memakai sayur dan tauge saja. Sementara Agam memesan mie ayam bakso.
Mereka duduk berhadapan, Yuki sesekali membuka ponselnya dan melihat pesan masuk dari sang emak. Namun, saat pesanannya baru saja datang, tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi tanda panggilan masuk. Tertera nama 'Ikan Piranha' di sana.
__ADS_1
"Heh, pasti mau bujuk gue," gumam Yuki yang membuat Agam tertegun. "Siapa Neng?"
"Ah, bukan siapa-siapa, Bang. Ayo makan!" ajak Yuki setelah menolak panggilan Ikram yang ia beri nama Ikan Piranha. Gadis itu pun mulai meracik baksonya, ia menambahkan banyak cabai ke mangkuknya hingga kuahnya berubah merah.
"Ya ampun, Neng Yuki. Itu nggak apa-apa sambelnya banyak gitu?" Agam bergidik ngeri saat melihat bakso milik Yuki.
Yuki terkekeh."Nggak apa-apa Bang udah biasa kok." Gadis itu pun mengaduk baksonya dan mulai mencoba rasanya, tetapi kemudian ia kembali memasukan kecap dan cuka, Yuki tidak terlalu suka memakai saos di kuah baksonya.
Mereka pun menikmati makanannya masing-masing, sambil sesekali berbincang ringan. Sampai akhirnya Yuki dan Agam pun selesai menghabiskan makanan mereka. Baru saja Yuki menyimpan sendok dan garpu di mangkuk yang hanya tersisa kuahnya saja itu, ponselnya kembali berdering. Namun, kali ini bukan Ikram, tetapi sang emak.
Yuki pun langsung mengangkatnya. "Iya, Mak."
"Udah selesai belum belanjanya, Neng?" Suara Mak Aminah terdengar terburu-buru.
"Udah, Mak. Yuki sama Bang Agam jajan bakso dulu, ini juga mau pulang, kenapa?" tanya Yuki masih santai.
"Cepetan pulang, Nak Ikram balik lagi sambil bawa cewek, katanya kamu jadi pelakor," bisik Mak Aminah saat mengucapkan kata pelakor.
Yuki terperanjat kaget. "Ish, pelakor dari mana coba Yuki ga pacaran sama laki orang, Mak."
"Iya, udah pokoknya cepetan pulang." Mak Aminah pun menutup sambungan teleponnya.
"Ada apa, Neng Yuki?" Agam langsung bertanya saat melihat gadis di depannya terperanjat.
"Mak nyuruh cepet pulang, Bang. Ayo!" Yuki pun berdiri dan akan membayar baksonya, tetapi dicegah oleh Agam. Pria itu bilang dia yang akan membayarnya.
__ADS_1
Yuki hanya mengangguk, ia sebenarnya memang ingin segera kembali le warung nasi dan melihat pertunjukkan seru antara Ikram dan kekasihnya. Ayo kita mulai, Ikram.