Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Dasi


__ADS_3

Olive mendengar kabar bahwa Ikram akan bertunangan dengan Vanya, mantan calon istrinya dulu. Wanita yang tengah berbadan dua itu memutuskan untuk menemui Ikram di apartemennya. Sebenarnya ia tak berharap banyak, mungkin saja password apartemennya juga sudah diganti, tetapi keinginannya bertemu dengan Ikram sangat kuat.


Akhirnya wanita itu pun berangkat sendirian menuju ke apartemen Ikram. Tempat pulang dirinya saat dulu masih bersama Ikram. "Aku ingin kamu yang menjadi suamiku, Ikram bukan Erik." Olive bergumam saat dirinya sedang berada dalam taksi. Olive masih dilarang untuk menyetir sendiri karena kandungannya masih sangat muda.


Saat wanita itu sampai di gedung apartemen milik Ikram. Dengan ragu ia menekan beberapa angka di pintu apartemennya. Namun, tanpa ia duga ternyata password-nya masih sama yaitu tanggal lahir dirinya. "Ah, Ikram kamu memang masih mencintaiku." Wanita itu pun masuk dengan wajah yang sumringah.


Olive berkeliling ke setiap ruangan yang ada di sana. Suasananya masih sama seperti saat dirinya masih bersama Ikram. Tak terasa hari pun sudah berubah menjadi malam. Namun, tidak ada tanda-tanda Ikram akan datang ke apartemennya. Olive baru saja membereskan tasnya untuk pulang. Namun, suara pintu terbuka membuat wanita itu mengurungkan niatnya.


Seorang pria yang sangat ia rindukan datang dengan jas yang disampirkan di tangan kanannya sementara kancing kemeja bagian atasnya sudah terbuka beberapa. Hal itu justru membuat Ikram terlihat makin tampan.


Terlihat jelas keterkejutan di wajah tampannya saat melihat keberadaan Olive. Alih-alih mendapatkan sambutan, Olive malah diusir oleh Ikram, tentu saja hal itu membuat wanita yang tengah berbadan dua itu tak terima.


Tidak ada tatapan teduh lagi dari pria di hadapannya. Namun, Olive tetap berusaha agar bisa bersama dengan Ikram malam.


"Oke, kalau lo nggak mau pergi biar gue yang pergi." Ikram kembali mengambil kunci mobil dan jasnya lalu keluar begitu saja tanpa mendengarkan ucapan Olive yang memintanya untuk tetap tinggal.


Ikram kini sudah kembali berada dalam mobilnya. Pria itu tidak berniat untuk pulang ke kediaman Pradana. Akhirnya Ikram pun berencana menemui Jafin. Pria yang dengan tega mengkhianatinya dan hampir menghancurkan masa depannya.


Namun, entah mengapa mengingat Jafin membuat Ikram kembali membayangkan bagaimana tubuh Vanya telah direnggut oleh orang lain. "Arggh!" Ikram menjambak rambutnya sendiri lalu akhirnya pergi kembali ke kantornya. Sepertinya di tempat itu ia akan bisa beristirahat.


Tak berselang lama Ikram pun sampai di ruangannya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa yang tersedia di sana. Rasa kantuk yang sejak tadi menghilang akhirnya datang tanpa permisi sampai akhirnya pria itu pun terlelap di sofa dengan sepatu yang masih menempel di kakinya.


*


Keesokan harinya, Ikram terbangun dengan tubuh yang terasa kaku. Matahari bahkan sudah menyapanya lewat jendela kaca besar. Ikram bangun dan duduk di sofa sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku. Namun, matanya kembali terpejam setelahnya.


Baru saja ia kembali tidur. Tiba-tiba sebuah ketukan di pintu membuat pria itu mau tak mau membuka matanya. "Ah, siapa sih masih pagi juga?" omelnya sambil beranjak lalu berjalan ke arah pintu.


Ikram pun membuka pintu di depannya dengan menutup matanya kembali. "Siapa?"

__ADS_1


"Pagi, Mas Ikram," sapa seseorang yang sukses membuat Ikram memikirkannya.


"Astaghfirullah, udah siang. Mas Ikram tidur di sini?" imbuhnya.


Ikram mengucek matanya dan ingin memastikan kalau orang di hadapanku adalah gadisnya. Saat membuka matanya, Ikram terkejut dengan keberadaan Vanya.


"Kamu Yuki, kamu benar Yuki, kan?" tanyanya sambil memegang bahu gadis itu.


"Ish, mandi sana, Mas!" Vanya menutup hidungnya. Namun, bukan menuruti Ikram malah menarik tubuh Vanya ke dalam dekapannya.


"Mas Ikram!"


"Iya, Sayang." Ikram masih melabuhkan dagunya di bahu Vanya dengan nyaman, sementara kedua tangannya melingkar di tubuh gadis itu.


Vanya yang kesal akhirnya mencubit pinggang Ikram dengan keras hingga dekapannya pun terlepas. "Ish, mandi sana! Aku ke sini disuruh papi buat nganterin ini." Vanya menunjukkan paper bag di tangannya.


"Nggak janji, aku harus ...." Vanya tak melanjutkan ucapannya saat melihat Ikram berjalan ke arah pintu lalu menguncinya dan membawa benda itu bersamanya.


"Mas Ikram, ih," omel Vanya.


"Aku tahu kamu bakal kabur lagi. Jadi biar aman aku bawa kuncinya mandi bareng aku ya." Ikram menjawil hidung Vanya dengan gemas saat melewati gadis itu.


Akhirnya Vanya pun duduk di sofa. Gadis itu melihat interior ruangan calon suaminya. Ide kreatifnya muncul seketika untuk mengubah beberapa bagian kecil agar terlihat lebih menarik. "Papi ngapain nyuruh aku sih? Lagian papi tuh ngasih apa ya?" ucap gadis itu sambil membenahi meja Ikram yang sedikit berantakan.


"Nyesel aku bilang tahu kantornya, ah ...."


Vanya memang tak mengetahui apa yang diberikan sang papi untuk Ikram. Gadis itu ingin tahu sebenarnya tetapi ia juga tak mungkin membukanya terlebih dahulu sebelum pemiliknya.


Tak berselang lama terdengar suara Ikram memanggilnya. "Sayang, boleh minta tolong?" ucap Ikram daei ruangan lain di ruangan itu.

__ADS_1


"Ish, apa lagi sih ini bayi besar?" Vanya menggerutu tetapi tetap menghampiri ruangan di mana Ikram berada.


"Minta tolong apa, Mas?" tanya Vanya sambil menempelkan telinganya di pintu.


"Masuk sini!" ucap Ikram dari dalam.


"Ih, mana boleh kamu lagi mandi, Mas Ikram. Jangan ngarang bebas dah," omel Vanya.


Namun, tak berapa lama pintu itu terbuka dan Ikram berada di sana dengan pakaian lengkap. Ternyata ruangan itu adalah kamar yang sengaja Ikram sediakan jika dirinya lembur di kantor. Tanpa diduga Ikram menarik tangan Vanya agar masuk ke dalam.


"Mas Ikram! Ngapain sih?"


Ikram menarik satu ujung bibirnya ke atas. "Aku minta tolong pilihin dasi buat meeting aku hari ini, bisa?" ucapnya lembut.


"Di mana?"


Ikram menunjuk ke arah lemari pakaian yang berada di sudut ruangan itu. Vanya pun berjalan dan membukanya. Ternyata ada banyak pakaian kerja milik Ikram di sana. Vanya melihat ke arah Ikram yang menggunakan kemeja warna biru toska. Pria itu sedang merapikan rambutnya di depan cermin.


Vanya pun mengambil satu dasi yang cocok dengan warna kemeja Ikram. Dengan langkah cepat ia menghampiri Ikram dan memberikan dasinya. "Ini."


"Tolong pakaikan," jawabnya.


"Kamu itu terlalu tinggi, Mas. Aku nggak nyampe."


Ikram terkekeh lalu menundukkan tubuhnya agar bisa dijangkau oleh Vanya. Namun, nafas mint Ikram berhasil membuat pipi Vanya memanas. Ah siyalan apaan sih?


Wajah mereka begitu dekat, Vanya menjadi salah tingkah saat Ikram terus mencondongkan wajahnya, untung saja simpul dasinya sudah selesai. "Sudah, Mas." Vanya langsung mundur, tetapi kembali di tarik Ikram.


"Aku ...."

__ADS_1


__ADS_2