Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Diangkat Anak


__ADS_3

Yuki baru saja selesai makan siang bersama Emak. Gadis itu memperhatikan ruangan yang ada di depannya. Ruangan yang disebut sebagai warung nasi itu, benar-benar terlihat berantakan dan tidak menggugah selera untuk pelanggan mengunjungi. Padahal masakan Emak terbilang sangat enak.


"Neng Yuki ...." Emak memanggil gadis yang saat ini sedang mengamati ruangan di depannya.


"Iya, Mak?" Yuki menoleh sesaat, kemudian kembali mengamati ruangan yang cukup besar itu.


"Neng mau nggak ... mm ... jadi anak Emak?" Wanita paruh baya itu bertanya ragu.


Yuki menoleh dan menatap haru wanita di sampingnya. Mak Aminah memang bercerita bahwa dirinya hidup sebatang kara, sejak kepergian suaminya yang dipanggil Yang Maha Kuasa.


"Emak serius?" Yuki balik bertanya.


"Emak serius, Neng. Biar Emak nggak hidup sendirian lagi, Neng tinggal di sini aja sama Emak."


Yuki menatap haru wanita di sampingnya, bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca. "Terima kasih, aku janji akan jadi anak yang berbakti buat Emak." Yuki langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Gadis itu memang merindukan maminya.


"Nuhun ya, Neng Yuki. Emak seneeng banget akhirnya bisa punya anak." Mak Aminah menangis dalampelukan Yuki.


Mulai hari ini, Yuki resmi menjadi anak angkat dari Mak Aminah,walaupun tanpa pengadilan, tetapi keduanya berjanji akan saling menjaga.


"Mak kenapa buka warungnya malam doang? Padahal masakan Emak enak benget?" Yuki mulai membahas masalah warung nasi milik ibu angkatnya.


Mak Aminah menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan dari gadis di depannya. "Dulu saat suami Emak masih ada, Emak tuh nggak boleh ngerjan kerjaan rumah selain masak sama nemenin beliau," papar Mak Aminah mulai bercerita.


"Terus?" Yuki sepertinya masih belum paham dengan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu.


"Emakjadi nggak bisa bersin rumah, semuanya berantakan,sehingga kalau siang hari emak sibuk ngerjan pekerjaan rumah yang sebenarnya juga nggak rapi-rapi," keluhnya.


Yuki akhrnya mengerti kenapa warung nasi milik Mak Aminah benar-benar tidak menark dan sangat sepi. "Oh, oke-oke aku ngerti sekarang." Yuki mengangguk.

__ADS_1


Gadis itu kemudian berdiri dan berjlan ke arah meja yang biasa digunakan untuk orang-orang makan.


"Karena sekarang aku anak Emak, aku akan bantu Emak."


Mak Aminah menatap bingung ke arah anak gadisnya. "Bantuin naon, Neng, masak?" Namun, Yuki menggeleng cepat. "Aku nggak bisa masak, nggak bisa nyuci piring, nyuci baju bisalah dikit," ucap gadis itu sambil menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Tenang, kalau itu Emak jagonya."


"Kalau gitu aku akan mengubah warung nasi Emak jadi cantk pokoknya dan bisa banyak pelanggan, Emak tugasnya masak sama nyuci bagaimana?" tawar Yuki.


"Emang Neng bisa beres-beres?" Yuki hanya mengangguk. Mak Aminah tidak tahu kalau gadis di depannya adalah seorang desain interior. Kaliini juga Yuki mendapatkan kesempatan untuk menggunakan bakatdan hobinya itu.


"Okelah, emak serahin semuanya sama Neng Yuki," ucap wanita itu.


"Tapi ada beberapa bahan yang harus dibeli, Mak," lirih Yuki. "Aku cuma punya uang segini." Gadis itu mengambil uang sepuluh ribunya yang mash ada di sakunya.


Mak Aminah tertawa."Nggak usah khawatir, uang emak banyak, selama ini emak nggak pernah belanja apa pun selain untuk jualan." Wanita itukemudian beranjak dan masu ke kamarnya, tak berselang lama ia keluar dengan membawa kaleng bekas kue kering.


"Waw!" Tanpa sadar gadis itu takjub melihat uang yang begitu banyak, bahkan ada beberapa yang sudah dirapikan dengan diikat karet gelang.


"Ternyata Emak sultan ya," ujar Yuki.


"Sejak Kang Sodik meninggal, Emak tak pernah membeli apa pun, Emak merasa cukup dengan apayang ada, jadi walaupun warung sepi, tetapi Emak tetap memiliki keuntungan walaupun kecil, an itu Emak simpan." Wanita itu berkata panjang lebar.


"Baiklah, aku maengerti. Aku juga tidak akan menggunakan uang Emak terlalu banyak, hanya butuh untuk membeli bahan sedikit-sedikit kok," ucap Yuki yang merasa puas bahwa rencananya akan berhasil untuk mendesain warung nasi milik Mak Aminah.


Mak Aminah tersenyum, mengambil satu ikat uang entah berapa, dan memebrkannya pada Yuki.


"Karena muali hari ini, kamu anak gads Emak, jadi gunakan uang ini untuk membeli kebutuhanmu." Wanita itu meneteskan air mata bahagia saat akhirnya bisa merasakan memilik seorang putri dan memenuhi kebutuhannya.

__ADS_1


Yuki belum menerima uang itu, ia masih bergeming, sampai tangannya ditari Mak Aminah dan uang itu disimpan di telapak tangan Yuki.


"Aku akan menggunakan uang ini untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan." Namun, sebuah cubitan kecil ia dapatkan di hidung mancungnya.


"Ini buat belanja baju, skincare, henbodi, pokona mah nu karitu weh," gerutu wanita itu yng membuat Yuki tergelak. Logat Sundanya makin lancar kalau sedang mengomel.


"Ini kebanyakan atuh, Mak." Yuki menjawab dengan mengikuti logat Sundanya.


"Bagaimana kalau sekarang kita belanja bersama, Emak juga nggak pernah belanja lagi, kan?" usul Yuki.


"Nya oge nya, lagian kamu teh  nggak akan apal juga kan jalanan di sini, nanti nyasar gimana? Ya udah ayolah, Emak ganti baju dulu. Kamu juga pakai punya Emak aja deh ya." Wanita paruh baya itu menarik tangan Yuki ke kamar mereka.


Yuki dipersilakan memilih baju yang ia suka, wlaupun akan sedikit kebesaran, tetapi ukuran tubuh mereka hanya beda sedikit.


Setelah selesai dan siap kedua wanita beda usia itu pun berangkat dengan wajah mereka yang bahagia. Yuki benar-benar bersyukur setelah cobaan yang ia alami kemarin-kemarin, akhirnya ia bisa m-bertemu dengan malaikat tak bersayap sesungguhnya.


Keduanya pergi ke toko baju dan toko kosmetik. Yuki yang memang orng kaya tentu tahu skin care apa yang bagus untuk dirinya, tetapi tentu saja saat ini ia hanya membeli yang biasa saja.


Keduanya menikmati kbersamaan mereka, Yuki bhakan membantu memilihkan baju yang cocok untu Mak Aminah. Mereka pulang setelah menjelang isya.


"Ah lelah sekali," ucap wanita paruh bay itu sambil menselonjorkan kakinya ke depan saat mereka sampai di rumahnya. Warung nasi bergabung dengn rumah.


Yuki yang sudah terbiaa berjalan kaki dan beberapahari ini, membuat gadis tu jadi terlihat lebih kuat. Apalgi soal belanja dia adlah ahlinya, saat dulu masih menyandang gelar Pradipta di belakangnya.


Gadis itu mengambilkan air hangat dari dispenser untk emaknya. "Minum dulu, Mak." Yuki menyodorkan gelas itu pad wanita di depannya.


"Nuhun, Neng."


Setelah menghabiskan minumannya, wanita itu lalu berjalan ke kamar yang hanya ada satu, sebenarnya ada dua kamar di rumah ini, tetapi karena tidak digunakan jadi oleh Ma Aminah digunakan untuk menyimpan lemari pakaian saja.

__ADS_1


"Malam ini tidur sama Emak dulu ya, Neng," capnya sambil membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.


"Siap, Mak. Oh iya ini barang-barangnya mau disimpan di mana?"


__ADS_2