Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Semesta seolah sedang mempermainkan Ikram saat ini. Bagaimana tidak pria itu tiba-tiba saja dipertemukan kembali dengan Vanya pada sebuah acara di hotel bintang lima. Ikram memang hanya mengantar sang kakek ke sana. Namun, sepertinya ia beruntung tak menolak ajakan itu karena malam ini akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan pujaan hatinya. Apalagi gadis itu mengenakan gaun berwarna senada dengan dirinya.


Setelah acara dimulai, Vanya terlihat sangat bosan sehingga gadis itu pun meminta izin pada sanga papi untuk keluar. Hal itu pun tak disia-siakan oleh Ikram, pria tampan itu mengambil kesempatan untuk menemani Vanya.


Awalanya Vanya memang menolak, tetapi lagi-lagi semesta seolah berpihak padanya. Ehsan, papi dari Vanya tiba-tiba saja menitipkan putrinya pada dirinya sementara pria paruh baya itu sibuk dengan koleganya.


Vanya masih saja bersikap tak acuh pada dirinya. Bahkan saat Ikram menggodanya dengan mengatakan kalau mereka jangan-jangan berjodoh karena mengenakan pakaian yang sama. Namun, jawaban Vanya membuat Ikram kecewa saat gadis berkata kalau dirinya tengah memiliki kekasih. Rasa cemburunya membuat pria itu ingin memiliki Vanya saat ini juga.


Dengan langkah pelan tapi pasti, Ikram mendekati Vanya dan membuat gadis itu tersudut. Kini punggung gadis itu sudah menempel pada dinding sebagai pembatas balkon. "Mas Ikram, kamu kenapa?" tanya Vanya sedikit panik saat Ikram tak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya tatapannya saja yang terus menatap Vanya dengan intens.


Ikram kini mengurung gadis itu dengan kedua tangannya yang ia tempelkan pada dinding. "Bilang sekali lagi kalau kamu memiliki pacar, Yuki," geram Ikram dengan suara serak yang membuat Vanya menciut.


"Aku mau ke Papi, awas!" Vanya mencoba keluar dari kungkungan Ikram, tetapi pria itu menahannya. "Aku akan teriak kalau kamu macam-macam, Mas!" bentak Vanya yang sudah sangat panik.


Apa dia kerasukan? Kenapa wajahnya begitu menyeramkan?


"Aku ulang sekali lagi. Siapa pria itu?" Kini Ikram mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya hingga embusan nafas pria itu menerpa pipi mulus Vanya.


"Papi!" Tiba-tiba saja Vanya berteriak kencang memanggil sang papi. Tentu saja hal itu membuat Ikram panik walaupun sebenarnya teriakan itu tak akan terdengar karena suara musik yang keras. Vanya terus berteriak memanggil papinya hingga akhirnya Ikram pun membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Keduanya sempat mematung. Namun, tak berselang lama Vanya langsung mendorong tubuh Ikram dan satu tangannya terangkat lalu menampar wajah Ikram dengan keras.


"Dasar brengse*k!" Vanya menatap Ikram dengan marah, apalagi telapak tangannya terasa kebas setelah menampar pipi Ikram. Pria itu terdiam dan menutup matanya sejenak. Vanya akan pergi menemui sang papi, tetapi tubuhnya kembali ditahan oleh Ikram.


"Lepaskan aku, Bresngse*k!" bentak Vanya. Kali ini suaranya agak bergetar Vanya menahan tangisnya tetapi akhirnya bulir bening itu luruh begitu saja.


"Maafkan aku," lirih Ikram. Pria itu terbawa emosi bahkan ini adalah first kiss-nya. Bersama Olive pun ia hanya memberikan pelukan tak lebih dari itu. Bahkan saat Olive menggodanya pun, Ikram tak pernah terpancing. Namun, kali ini saat Vanya berkata bahwa dirinya sudah memiliki seorang kekasih saja emosinya langsung memuncak dan rasa posesifnya muncul.


"Aku benci kamu, Ikram!" Kini Vanya terduduk di lantai dengan lutut yang ditekuk. Wajahnya ia telungkupkan di kedua lengannya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku hilang kontrol." Ikram pun kini ikut duduk di samping Vanya. Pria itu sedang mengatur nafasnya yang juga tidak baik-baik saja.


Tak berselang lama Vanya beranjak dari duduknya tanpa menghiraukan Ikram. Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Ikram begitu saja. Ikram tentu saja khawatir, tetapi saat ia kembali masuk tidak ada gadis itu bersama sang papi ataupun sang kakek. Ikram pun mulai panik, dengan langkah lebar ia mencari keberadaan Vanya.


Saat pria itu menuju ke toilet. Terlihat Vanya baru saja keluar dari sana. Gadis itu terlihat ceria kembali dengan wajah yang kembali segar, walaupun hidung dan matanya masih terlihat memerah.


"Yuki, kamu baik-baik saja, kan?" tanya pria itu lembut.


"Nggak usah deket-deket!" ketus Vanya lalu gadis itu pun pergi meninggalkan Ikram begitu saja.


Ikram mengacak rambutnya frustrasi, ia pun masuk ke toilet pria untuk membasuh wajahnya. Pria itu bercermin di dalam sana.


Apa yang sudah kau lakukan Ikram. Dasar bodoh, bagaimana jika Yuki makin menjauh. Kamu akan kehilangan dia, Ikram.


Setalah itu, Ikram oun bergegas kembali ke tempat acara. Pria itu melihat sang kakek masih berbincang dengan Ehsan. Namun, ia tak melihat Yuki.


"Vanya menunggu di mobil, anak itu memang tak betah lama-lama di tempat seperti ini." Ehsan menjawab dengan santai.


Ikram pun bernafas lega saat tahu keberadaan Vanya. Akhirnya, pria itu pun mengikuti langkah yang sama dengan Vanya, ia akan menunggu sang kakek di mobil.


Alih-alih menunggu di mobilnya, Ikram malah mencari keberadaan Vanya. Gadis itu terlihat sedang duduk di kursi belakang dengan memainkan ponselnya. Sang sopir sendiri menunggunya di luar.


Setengah berlari Ikram pun mendekati mobil itu. Sebelumnya ia izin pada sang sopir untuk berbicara dengan Vanya. Ikram pun membuka pintu mobil Vanya dan duduk di samping gadis itu.


"Udah selesai, Pi?" Vanya mengira bahwa yang masuk ke dalam mobil adalah papinya.


Namun, saat tak ada jawaban, Vanya pun menoleh ke arah samping dan terkejut saat tahu kalau yang masuk ke dalam mobilnya itu bukanlah sang papi.

__ADS_1


"Keluar nggak!" bentak Vanya.


"Aku cuma ingin meminta maaf, Yuki. Aku tidak akan berbuat macam-macam lagi." Ikram mencoba menenangkan Vanya yang kembali emosi.


"Udah deh nggak usah ganggu hidup aku terus."


"Aku nggak akan ganggu kamu, aku hanya ingin kita menjalin hubungan yang baik saja, Yuki."


"Stop panggil aku Yuki! Namaku Vanya Anindira buka Yuki!"


"Baiklah Vanya Anindira maukah kamu menikah denganku?"


"Gila. Pergi!"


"Aku serius Vanya. Aku harap kamu mau mempertimbangkan semuanya lagi. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan tadi."


"Tanggung jawab apa? Apa yang sudah kalian lakukan?" Tiba-tiba suara bariton seseorang membuat Vanya panik.


"Papi, Kakek? Kita ... nggak ngelakuin apa-apa sumpah!" Vanya menjawab dengan lantang. "Iya, kan Mas Ikram?" Gadis itu meminta persetujuan Ikram. Namun, Ikram malah tersenyum miring. "Kita sudah melakukan sesuatu, Om, Kek. Ikram akan bertanggung jawab atas semuanya. Ikram berjanji." Pria itu menjawab asal yang membuat Vanya terpaku.


"Apa?"


"Mas Ikram bohong, Pi. Vanya ...."


"Ayo kita pulang, kita bahas di rumah! Kamu juga ikut kami, Ikram!"


"Tapi, Pi ...."

__ADS_1


__ADS_2