
Agam berniat ke Jakarta untuk menemui salah satu kerabatnya sekalian akan memenuhi undangan dari Yuki. Gadis pujaannya yang ternyata kembali dirinya hanya menjadi tamu undangan di acara pernikahan gadis itu.
Akhirnya Agam pun pasrah dan kali ini, ia mencoba mendekati Nisa gadis berambut pendek yang menjadi karyawan baru di warung Mak Aminah. Pria jangkung itu berharap ini pelabuhan hati yang terakhir.
Kerabatnya memberi alamat yang baru sehingga pria itu harus mencari alamat baru, tetapi saat di pertengahan jalan tiba-tiba ban motor milik Agam kempes tentu saja hal itu membuat motornya menjadi oleng. Agam bahkan hampir bertabrakan dengan sebuah mobil yang melaju di depannya, untung saja mobil itu membanting setir ke bahu jalan.
Agam berhasil menghindari kecelakaan itu walaupun dirinya harus jatuh juga dari motornya. Dengan susah payah ia berdiri sampai akhirnya berhasil bangun, lalu pria jangkung itu berjalan ke arah mobil yang yang tadi hampir bertabrakan dengan dirinya.
Sementara itu di dalam mobil, Vanya dan Nisa menghela nafasnya lega saat mereka semua baik-baik saja.
"Kalian tidak apa-apa?" Sang papi membuka sabuk pengamannya dan berbalik ke arah kedua putrinya.
"Kami baik-baik saja, Pi." Vanya menjawab dengan cepat, sementara itu Nisa menatap ke arah jendela mobil saat seseorang mengetuk kacanya. Gadis itu memperhatikan orang di luar dan merasa familiar dengan sosok jangkung itu.
Saat Ehsan menurunkan kaca jendela mobilnya, Nisa refleks memanggil nama pria itu. "Bang Agam?"
Ehsan yang hendak memarahi pria jangkung itu langsung menoleh ke arah Nisa. Pria jangkung itu juga terlihat kaget saat mendapati seseorang yang ia kenal ada dalam mobil itu. "Neng Nisa?Neng Yuki?"
"Sebentar apa kalian kenal pria ini?" Ehsan kembali berbalik pada kedua gadis di belakangnya dan anggukkan dari keduanya membuat Ehsan kembali mengembuskan nafasnya.
Pria paruh baya itu pun kini keluar dari mobilnya diikuti oleh Vanya dan Nisa. Ketiganya terkejut saat melihat Agam begitu berantakan dengan tangan dan kaki yang lecet.
"Kamu tidak bisa mengendarai motorkah?" tanya Ehsan.
"Mana ada, Pi. Dia itu langganan Mak Aminah kalau nganter ke pasar," sela Vanya.
"Lalu kenapa tadi mengemudikan motor tak terkendali seperti itu? Apa kamu mabuk?" Ehsan masih mencecar Agam dengan beberapa pertanyaan.
"Maaf, ban motor saya ...." Agam melihat ke arah motornya yang sudah ia parkirkan di pinggir jalan setelah tadi terjungkal bersama dirinya.
"Bannya bocor, Pi."
"Bang Agam mau ke mana?" Kini giliran Nisa yang bertanya pada pria jangkung itu.
"Saya nyari alamat saudara, tadinya mau nginep beberapa hari untuk menghadiri pesta pernikahan Neng Yuki, maksudnya biar deket."
__ADS_1
"Sekarang kamu ikut kami saja, motornya biar nanti orang bengkel yang ambil, ayo!"ajak Ehsan kemudian pria itu masuk kembali ke mobilnya.
"Tapi ...."
"Udah buruan naik, Bang!" Vanya mendorong tubuh Agam agar segera masuk dan duduk di samping kemudi. Sementara dirinya dan Nisa kembali duduk di belakang.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke rumah Ehsan. Agam kini sedang berdiri di luar bangunan megah milik keluarga Vanya. Ternyata antara dirinya dan Vanya memang berbeda dari hal apapun, walaupun gadis itu tetap bersikap baik padanya.
"Ayo masuk, Bang Agam!" ajak Vanya saat melihat pria itu masih berdiri mematung di tempatnya.
"Eh, iya Neng Yuki." Agam mengangguk lalu mengikuti gadis cantik itu. Sementara Nisa masih terdiam dengan rona merah di pipinya yang makin terlihat jelas.
Saat mereka masuk semuanya disambut hangat oleh keluarga Vanya termasuk mami dan Mak Aminah.
Setelah menceritakan semuanya tentang kejadian tadi, Mak Aminah kemudian memberikan kotak P3K pada Nisa. "Obati Agam ya, Nis."
"Eh ... tapi ...."
"Udah sana, Mak lagi sibuk, masa Neng Yuki yang harus ngobati," sela Mak Aminah tanpa mau mendengar alasan apapun dari Nisa.
"Nah, Nisa sudah datang obati dulu lukanya ya, saya ke dalam dulu," ujar Ehsan tiba-tiba saat melihat kedatangan Nisa. Lalu pria paruh baya itu beranjak dan meninggalkan Agam dan Nisa.
"Neng Nisa apa kabar?" tanya Agam dengan tatapan tak terbaca pada gadis berambut pendek di sampingnya.
"Nisa baik, Bang. Sini biar Nisa obatin dulu lukanya." Gadis berambut pendek itu mulai membuka kotak berwarna putih itu, kemudian dengan hati-hati mengobati beberapa luka lecet di tangan dan kaki Agam.
Tidak ada percakapan apapun selama Nisa mengobati Agam. Keduanya saling diam dan sibuk dengan pikirannya. Sampai akhirnya Nisa mengangkat wajahnya dan berkata, "Selesai."
Namun, tanpa gadis itu duga tatapan mereka beradu bahkan Agam menatap teduh gadisnya hingga membuat gadis itu salah tingkah.
"Makasih ya, Neng."
"Sa-sama-sama, Bang." Nisa tergagap lalu beranjak hendak meninggalkan Agam. Namun, tarikan di tangannya membuat gadis itu kembali terduduk.
"Abang mau bicara boleh?"
__ADS_1
Nisa mengangguk dengan jantung yang entah mengapa berdetak tak karuan. "Mau ngomong apa, Bang?"
"Neng Nisa mau nggak jadi pacar eh bukan-bukan ... maksud abang calon istri?" tanya Agam tanpa basa-basi. Sepertinya kali ini pria itu sudah menetapkan hatinya, dia tak mau hanya memberi kode-kode pada gebetannya yang akhirnya terblokir sendiri karena gebetannya tak pernah peka.
"Eh, maksud Abang?"
"Iya, Neng Nisa mau nggak jadi istri abang?"
"Aku ...."
"Nis, udah belum?" Tiba-tiba suara Mak Aminah memanggil gadis itu.
"I-iya, Mak. Nisa ke sana!" balas gadis itu. Namun, saat Nisa akan beranjak Agam kembali menarik tangannya bahkan kali ini langsung menggenggamnya. "Gimana, Neng?"
"Eh, tapi itu emak ...."
"Abang hanya ingin mendengar jawaban ya atau tidak saja, Neng. Abang nggak ingin terlalu berharap jika toh Neng Nisa nggak mau sama abang." Pria jangkung itu berucap dengan serius.
"Aku ... aku juga suka sama Bang Agam." Nisa memalingkan wajahnya pipinya terasa sangat panas setelah ia mengungkapkan isi hatinya.
"Makasih, Neng Nisa." Agam reflek menarik tubuh gadis mungil itu ke dalam dekapannya.
"Ya Allah malah pelukan di sini."
"Mak?" Nisa langsung mendorong dada Agam dengan panik.
"Roman-romannya udah jadian, ya?" goda wanita paruh baya itu.
"Mak ih, nggak gitu ...."
"Ya sudah deh, nanti lagi ya bantuin mak dulu yuk di dapur. Agam kan mau nginep di sini juga, kamu istirahat aja ya." Mak Aminah menarik tangan Nisa untuk mengikutinya ke belakang.
Setelah kepergian Mak Aminah dan Nisa, Agam kembali duduk dengan menyandarkan punggungnya, pria itu bernafas lega setelah apa yang baru saja terjadi. Akhirnya Agam bisa mempunya pujaan hatinya.
"Makasih Neng Nisa." Agam bergumam lalu semuanya terasa gelap.
__ADS_1